Raymond Mar dan Keith Oatley mengunggah sebuah jurnal, di mana ia mengaitkan hubungan antara bacaan fiksi dengan ilmu psikologi. Jurnal berjudul ‘The Function of Fiction is the Abstraction and Simulation of Social Experience’ tersebut mengungkapkan bahwa karya fiksi memiliki efek pada kemampuan seseorang dalam lingkungan sosial.
Mar dan Oatley menyimpulkan bahwa sebuah karya fiksi adalah bentuk simulasi dan abstraksi yang disampaikan oleh penulis tentang kehidupan dunia. Meskipun ceritanya hanyalah hasil imajinasi, ternyata pembacanya dapat berlatih membayangkan pengalaman interaksi sosial dalam benaknya.
Hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa otak dapat membentuk jaringan yang terhubung dengan lebih baik untuk berkomunikasi dan memahami orang lain. Hal ini dikenal juga sebagai ‘Theory of Mind’.
Ternyata, orang yang meluangkan waktu membaca cerita fiksi ternyata memiliki rasa empati yang lebih mendalam dalam hubungan sosial. Apalagi bagi mereka yang telah membaca kisah fiksi sedari kecil, cenderung memiliki empati yang lebih tinggi. Keren, ya?
Nggak sekedar membuat karya yang menghibur, ternyata cerita fiksi yang ditulis dengan benar akan memberikan manfaat pada cara berpikir seseorang. Ternyata, memberikan manfaat pun adalah unsur dalam cerita fiksi yang nggak bisa lepas darinya loh.
Nggak cuma mengandung amanat atau pesan moral, sebuah cerita juga memiliki unsur-unsur lain yang membentuknya. Keberadaan unsur-unsur ini penting untuk diingat jika kamu ingin menyajikan cerita yang utuh.
Unsur-unsur ini dikenal juga sebagai unsur intrinsik, di mana bagian-bagian ini membentuk cerita dari dalam dan membuatnya terasa utuh. Bila ada satu saja unsur yang hilang, maka sebuah cerita fiksi tidak akan terasa lengkap.
Yuk, ketahui apa saja unsur-unsur intrinsik dalam sebuah cerita fiksi!
Daftar Isi
Tema
Tema adalah ide pokok atau gagasan utama dari sebuah cerita yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembacanya. Memilih tema yang umum akan cepat menemukan pembaca, sementara tema yang khusus akan menarik rasa penasaran.
Penulis juga memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ide yang mereka miliki. Misalnya, tema yang mengangkat keresahan masyarakat saat ini atau isu-isu yang memerlukan jawaban. Misalnya isu sosial, politik, atau moral yang kontroversial pun dapat dibuat oleh penulis.
Semakin komplek dan spesifik tema yang dipilih, tentu saja penulis perlu melakukan riset yang lebih mendalam. Ditambah lagi, informasi yang didapatkan pun harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tokoh
Tokoh adalah pelaku yang menjalankan alur cerita. Tidak hanya terbatas pada manusia, tokoh juga dapat hadir dalam bentuk lain. Misalnya, karakter berwujud hewan hingga benda mati. Biasanya, karakter seperti ini akan ditulis dalam bentuk majas personifikasi (memiliki sifat atau perilaku manusia).
Berdasarkan perannya, tokoh dapat terbagi menjadi 4 jenis, yaitu protagonis, antagonis, deuteragonis dan tritagonis. Untuk ulasan lebih detil tentang tokoh, kamu dapat membacanya pada artikel berikut.
Penokohan
Berbeda dengan tokoh sebagai pelaku dari cerita, penokohan adalah ‘isi’ yang membentuk kepribadian si tokoh. Misalnya, latar belakang, hubungan si tokoh dengan keluarga, sahabat, unsur budaya, pandangan politik, dan lain-lain.
Tidak hanya sekedar membuat sosok tokoh secara fisik, penokohan sangatlah penting untuk menghidupkan sebuah cerita. Adapun fungsi dari membuat penokohan adalah sebagai berikut.
Bagi Pembaca
- Membantu pembaca memahami sudut pandang si tokoh dalam mengambil keputusan.
- Membangun emosi pembaca untuk berempati, bahkan membenci si tokoh.
- Menyampaikan pesan moral kepada pembaca, baik tersirat maupun tersurat.
Bagi Penulis
- Menentukan peran si tokoh (sebagai protagonis, antagonis, atau tokoh pendukung) berdasarkan kedalaman latar belakang, sifat, adat istiadat, norma, sudut pandang, dll yang dimiliki si tokoh
- Menyusun konflik berdasarkan sifat dan karakteristik si tokoh dan interaksinya dengan tokoh lain
- Berlatih menghimpun informasi dan melakukan riset melalui sumber terpercaya, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik, mental, trauma dan lain-lain
Untuk berlatih membuat tokoh yang kompleks lengkap dengan penokohannya, kamu bisa cek artikel 22 Daftar Pertanyaan Proust atau Metode ‘Good, Gone Bad’.
Alur
Secara singkat, alur adalah rangkaian peristiwa yang terjadi dalam cerita. Karena berupa rangkaian, maka setiap peristiwa atau adegan yang terjadi dalam cerita haruslah saling berkait dari awal hingga akhir.
Dalam alur, terdapat beberapa tahap yang secara umum dapat dibagi sebagai berikut.
- Eksposisi atau Pengenalan, yaitu bagian pembuka di mana penulis memperkenalkan tokoh, latar, serta kejadian awal yang membangun cerita.
- Konflik, adalah masalah yang dihadapi si tokoh utama serta reaksi atau tindakan si tokoh untuk menghadapinya.
- Klimaks, yaitu puncak dari ketegangan di mana si tokoh merasa semua harapan rasanya sirna. Mau tidak mau, si tokoh harus melakukan tindakan drastis untuk mengubah keadaan.
- Resolusi atau Penyelesaian, yaitu bagian di mana seluruh konflik utama terselesaikan. Si tokoh akan mengalami perubahan besar dalam hidupnya atau menjalani konsekuensi dari pilihannya.
- Koda atau Penutup, adalah bagian tambahan dari sebuah alur di mana menjadi akhir dari seluruh rangkaian cerita. Bagian ini dapat berupa epilog atau pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis.
Penulisan alur pun dapat bermacam-macam, mulai dari alur linier (berurutan), non-linier (melompat-lompat) atau campuran.
Latar
Berdasarkan arti dalam KBBI, latar adalah keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Semakin detail latar yang dibuat oleh seorang penulis, semakin dalam pula pembaca menyelami dunia sebuah cerita.
Contoh mudahnya adalah latar dalam buku seri Harry Potter. Sang penulis, J.K. Rowling berhasil membangun dunia para penyihir yang membuat pembacanya larut dalam cerita. Tidak hanya sekedar membangun tempat saja, dunia Harry Potter pun kaya dengan istilah dan budaya yang membuatnya terasa nyata.
Tentu saja, membangun sebuah latar membutuhkan riset yang mendalam. Apalagi jika kamu mengambil sebuah tempat nyata di dunia yang menjadi referensi dalam ceritamu. Sah-sah saja jika kamu membuat sebuah latar fiktif, tapi jangan sampai lokasi tersebut terasa sangat tidak masuk akal dan membingungkan.
Latar yang dibangun dengan baik tidak cukup hanya dengan membuat dunia fisik yang kompleks. Supaya suasana latar tersebut mempengaruhi pembaca, kamu juga perlu membangun nuansa yang cocok dengan jalan cerita.
Misalnya, kamu membuat sebuah cerita misteri dunia sihir yang gelap gulita di abad pertengahan. Aneh dong kalau tiba-tiba ada seorang penyihir yang berkeliling dengan pesawat jet.
Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of view (POV) adalah cara seorang penulis menyampaikan cerita. Pada umumnya, sudut pandang dibagi menjadi tiga, yaitu:
Sudut Pandang Orang Pertama
Dalam sudut pandang ini, pembaca mengamati cerita dari mata si tokoh uutama. Biasanya menggunakan kata ganti orang pertama seperti ‘aku’. Gunakan sudut pandang ini jika kamu ingin pembaca merasakan emosi mendalam yang dirasakan oleh si tokoh utama.
Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu
Sudut pandang orang ketiga mengibaratkan pembaca sebagai pengamat cerita. Sebagai pengamat, kamu akan merasakan pengalaman mengikuti kehidupan si tokoh utama dari balik teropong atau lensa kamera. Dalam sudut pandang ini, penulis dapat menyajikan berbagai sudut pandang dari berbagai tokoh.
Misalnya, selain protagonis, penulis juga menulis narasi dari sudut pandang sahabat, keluarga, bahkan antagonis yang berhadapan dengan si tokoh utama.Karena menggunakan beragam sudut pandang dari tokoh yang berbeda, penulis harus pandai saat merancang tokoh dan penokohannya. Jangan sampai seluruh tokohmu terdengar sama, agar pembaca dapat membedakan setiap karakter yang tampil dalam cerita.
Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas
Jika pada sudut pandang sebelumnya, kamu dapat menulis dari banyak sudut pandang tokoh yang tampil dalam cerita. Dalam sudut pandang ini, penulis hanya fokus menggunakan satu sudut pandang tokoh saja.
Misalnya, pembaca hanya mengamati situasi dari kacamata si protagonis. Penggunaan sudut pandang ini akan menghasilkan perspektif yang subyektif, di mana pembaca akan diarahkan untuk berpihak pada satu tokoh saja.
Amanat
Sebuah cerita tidaklah lengkap jika pembaca tidak dapat menangkap pembelajaran atau pesan apapun di akhir cerita.
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Mulai dari nilai moral, politik, kemanusiaan, hubungan antar manusia, hingga religi dapat menjadi bagian dari unsur ini.
Biasanya, amanat ini disampaikan secara tersirat atau tidak langsung oleh penulis. Oleh karena itu, penulis perlu menentukan amanat sedari awal pembuatan cerita, sehingga rangkaian cerita dapat mencapai akhir yang diinginkan.
Semakin banyak amanat yang ingin disampaikan oleh penulis, semakin kompleks konflik dan klimaks yang harus diselesaikan oleh si tokoh. Karenanya, pilihlah amanat yang kamu rasa paling penting untuk diketahui pembaca dan fokus untuk mencapai pesan tersebut.
Dari seluruh 7 unsur intrinsik di atas, manakah menurutmu yang paling penting? Jika ada pertanyaan, tinggalkan komentar di bawah, ya!
Semangat nulis!

Tinggalkan Balasan ke 7 Langkah Membuat Cerita AU Sosial Media di Instagram – mozze satrio. Batalkan balasan