Mengenal Konflik Tokoh dan Bagaimana Membangunnya

Published by

on

Ibarat sebuah tubuh, konflik adalah jantung dari sebuah cerita. Bila konflik tidak berdetak kencang, maka cerita yang dibuat akan terasa biasa saja dan tidak menggugah rasa dan emosi pembaca.

Konflik punya banyak peran dalam membangun sebuah cerita. Mulai dari menjaga keberlangsungan cerita, memperlihatkan perkembangan tokoh, hingga menyihir pembaca untuk larut dalam alur cerita.

Melalui artikel ini, aku akan mencoba menjelaskan pentingnya membuat konflik yang menggugah pembaca serta bagaimana membangunnya.

Daftar Isi

  1. Daftar Isi
  2. Apa sih Konflik Tokoh itu?
  3. Mengapa dalam Cerita Harus Ada Konflik?
  4. 7 Tipe Konflik
    1. Konflik Tokoh vs Diri Sendiri
    2. Konflik Tokoh vs Orang Lain
    3. Konflik Tokoh vs Masyarakat
    4. Konflik Tokoh vs Alam
    5. Konflik Manusia vs Teknologi
    6. Konflik Manusia vs Supernatural
    7. Konflik Manusia vs Takdir
  5. Tips Membangun Konflik dalam Cerita
  6. Kesimpulan
    1. Baca Juga

Apa sih Konflik Tokoh itu?

Konflik tokoh adalah pergumulan atau ketegangan yang muncul ketika keinginan tokoh bertabrakan dengan hambatan. Tanpa konflik, plot cerita tidak akan berkembang dan tokoh hanya akan menjadi sebuah karakter yang hambar.

Terdapat tiga tipe konflik yang dapat dialami oleh seorang tokoh, yaitu internal, interpersonal dan eksternal. 

Konflik internal adalah hambatan yang muncul dalam diri si tokoh itu sendiri, seperti emosi dan dilema moral. Membangun konflik dapat dilakukan dengan menarasikan beberapa hal, antara lain:

  • kehidupan masa lalu si tokoh
  • caranya berpikir,
  • sudut pandang,
  • trauma, dll.

Singkatnya, membangun konflik internal itu seperti membedah isi kepala si tokoh, sehingga kita dapat mengenali sifat-sifatnya. Dengan membuat konflik internal secara mendetail, penulis dapat memperlihatkan bagaimana si tokoh bereaksi dan caranya mengambil keputusan.

Konflik interpersonal adalah hambatan yang muncul ketika si tokoh berinteraksi dengan orang lain. Misalnya dengan sahabat, keluarga, kekasih bahkan tokoh antagonis.

Sementara konflik eksternal adalah hambatan yang berasal dari lingkungan sekitar. Contohnya, adanya tekanan sosial, budaya, adat istiada, norma di masyarakat, bencana alam, hingga politik.

Konflik interpersonal dan eksternal sama-sama berperan dalam mendorong si tokoh untuk melakukan sebuah aksi. Melalui interaksinya dengan orang lain dan lingkungan, pembaca juga dapat menilai kelebihan dan kekurangan si tokoh.

Dengan memasukkan tiga konflik di atas, maka cerita yang kamu buat akan terasa makin kompleks. Semakin banyak konflik yang kamu selipkan dalam cerita, maka plot cerita pun akan semakin berkembang.

Mengapa dalam Cerita Harus Ada Konflik?

Bayangin kamu sedang bersemangat menunggu jam makan siang, karena tahu akan ada tempe goreng sebagai lauk hari ini. Tapi, pas kamu mau makan, ternyata piring lauk kosong. Yang tersisa hanya secuil potongan tempe dengan bekas gigitan di ujungnya, udah diseret ke tepi meja.

Kamu jadi kesal dan marah karena nggak punya lauk untuk makan siang. Kira-kira siapa yang ambil tempe goreng itu? Jangan-jangan, kucing nakal punya tetangga? Kamu pun jadi penasaran dan mencoba mencari tahu siapa pelakunya.

Dari skenario di atas, apakah kamu dapat melihat bagian manakah yang disebut konflik?

Kalau kamu bingung kenapa sebuah cerita fiksi butuh konflik, tinggal menilik kehidupanmu sehari-hari aja. Setiap hari, pasti ada aja tantangan dan hambatan yang kita hadapi. Cara kita menyikapinya pun turut memberikan hasil akhir yang berbeda, kan?

Contoh dari cerita tempe goreng di atas. Reaksi yang kamu tunjukkan bisa berbeda-beda. Mulai dari marah, menangis, ngambek, cuma ketawa aja, dan lain-lain. Hal yang terjadi selanjutnya pun bisa beragam. Kamu bisa mencari pelaku, atau pergi ke warung membeli tempe goreng lagi.

Membuat konflik pun seperti itu. Selayaknya hidup adalah aksi dan reaksi, konflik cerita fiksi punya sebab dan akibat yang akan memberikan efek sepanjang alur ceritamu. Cara tokohmu mengambil keputusan ketika menghadapi masalah, tidak hanya mempengaruhi cerita tapi dirinya juga.

Sebagai penulis, kamu punya tugas untuk merancang bagaimana si tokoh ini bereaksi. Yang tidak boleh kamu lupa adalah bagaimana pembaca menilai tokohmu. Apakah si tokoh akan terlihat sebagai orang yang gampanga naik darah, pendiam, sabar, dan lain-lain.

Bila kamu tidak berani membuat konflik, maka tokohmu pun akan terasa biasa-biasa aja. Pembaca pun nggak akan terkesan dengan tokoh yang kamu buat.

7 Tipe Konflik

Secara umum, ada 7 tipe konflik dalam cerita fiksi yang populer dan dapat kamu gunakan dalam tulisanmu. Konflik-konflik tersebut adalah:

Konflik Tokoh vs Diri Sendiri

Dikenal juga dengan konflik internal atau konflik batin, adalah tipe konflik di mana si tokoh berhadapan dengan dirinya sendiri. Biasanya si tokoh memiliki perdebatan atau perang batin terhadap nilai-nilai yang ada dalam dirinya, sebagai reaksi saat menghadapi masalah.

Beberapa hal yang dapat memperlihatkan konflik batin adalah ekspektasi si tokoh, tujuan hidup, trauma, keinginan, dan ketakutan yang ia rasakan.

Konflik Tokoh vs Orang Lain

Konflik ini tergolong konflik eksternal, di mana si tokoh berhadapan dengan tokoh lain. Mudahnya, kamu dapat melihat konflik ini antara protagonis vs antagonis. Kehadiran konflik ini dapat membuat ceritamu lebih ruwet, apalagi kalau melibatkan sudut pandang tokoh lain di dalamnya.

Konflik Tokoh vs Masyarakat

Konflik di mana si tokoh utama berhadapan dengan lingkungan yang cakupannya lebih luas. Biasanya, tokoh juga akan berhadapan dengan norma-norma yang umum berlaku di masyarakat. Berbagai aspek kehidupan yang menyangkuti situasi ekonomi, kriminalitas, politik, agama dan lain-lain, juga termasuk di sini.

Agar lebih meyakinkan pembaca, kamu perlu mengumpulkan berbagai informasi, riset, atau narasumber terpercaya supaya ceritamu tidak terkesan mengada-ada.

Konflik Tokoh vs Alam

Konflik eksternal di mana situasi alam memberikan pengaruh luar biasa dalam kehidupan si tokoh utama. Misalnya gempa, tsunami, global warming, angin topan, bencana kekeringan, dan lain-lain.

Konflik Manusia vs Teknologi

Konflik eksternal yang melibatkan tokoh dengan sains, teknologi atau kecerdasan buatan. Misalnya seperti teknologi robot yang melawan umat manusia, AI, ancaman virus mematikan.

Konflik Manusia vs Supernatural

Konflik eksternal yang melibatkan manusia dengan kekuatan supernatural, makhluk ghaib dan mistis. Misalnya hantu, sihir, manusia serigala, vampir, dan lain-lain.

Konflik Manusia vs Takdir

Konflik eksternal di mana si tokoh berjuang untuk melawan nasib atau takdir yang telah ditentukan untuknya. Misalnya, si tokoh divonis menderita penyakit mematikan dan memiliki sisa waktu 8 bulan untuk hidup. Ia pun harus berjuang melawan penyakitnya.

Tips Membangun Konflik dalam Cerita

Pilih konflik yang relevan dengan tema cerita. 

Setelah menentukan tema, penting untuk menentukan konflik yang sesuai agar plot ceritamu tidak melebar kemana-mana.

Tentukan 1 – 3 konflik yang menjadi pusat dari plot ceritamu (internal, interpersonal dan eksternal). Ingat, semakin banyak konflik yang kamu masukkan, maka ceritanya pun akan semakin kompleks. Jangan sampai kamu memasukkan terlalu banyak konflik sampai ada yang tidak terselesaikan. 

Oleh karena itu, pilah dan pilihlah konflik dengan bijak dan sesuai dengan cerita yang akan kamu buat.

Tingkatkan intensitas konflik secara bertahap. Hal ini perlu menjadi perhatian untuk membantu pembaca beradaptasi dengan konflik yang dimasukkan ke dalam cerita.

Untuk konflik yang dirasa paling rumit, kamu bisa menjadikannya bagian dari klimaks cerita. Sementara konflik lainnya dapat digunakan untuk membangun penokohan si tokoh utama sebelum sampai ke klimaks.

Buat konflik yang realistis. Untuk menentukan apakah konflik yang kamu buat realistis atau tidak, kamu bisa melakukan riset terlebih dahulu. Beberapa hal yang dapat kamu lakukan antara lain:

  • Mulai dari mencari topik seputar konflik dan tema yang kamu pilih di internet
  • Mengulik tema yang sering diangkat oleh buku-buku populer
  • Berdiskusi dengan teman atau keluarga,
  • Gunakan cerita orang lain sebagai inspirasi. Ingat ya, bukan meniru, tapi menjadikannya inspirasi.

Libatkan semua karakter dalam konflik. Untuk melihat apakah konflik yang kamu buat penting atau nggak, yaitu dengan melihat tokoh-tokoh yang dapat terlibat di dalamnya.

Nggak hanya konflik antara protagonis dan antagonis, kamu dapat memanfaatkan sudut pandang tokoh pendukung juga. Bisa jadi, sudut pandang si tokoh pendukung menawarkan perspektif berbeda untuk membantu menyelesaikan konflik si tokoh utama.

Buatlah tokoh pendukung secukupnya saja agar kamu tidak kehilangan fokus dalam menyelesaikan cerita.

Kesimpulan

Konflik adalah jantung dalam cerita. Tanpa konflik, cerita yang dirancang oleh si penulis akan terasa datar. Tanpa konflik, protagonis bakal terlihat datar dan nggak berkembang. Kalau tokoh dan konflikmu nggak menarik, pembaca bakal kehilangan minat untuk terus membaca cerita.

Agar gregetnya lebih terasa, maka sebuah cerita setidaknya harus mengandung konflik internal, interpersonal dan eksternal. Bangunlah konflik sesuai tema. Buatlah konflik meningkat secara bertahap, serta libatkan tokoh-tokoh di dalamnya agar cerita terasa lebih utuh.

Satu tanggapan untuk “Mengenal Konflik Tokoh dan Bagaimana Membangunnya”

  1. 7 Unsur Intrinsik dalam Membuat Cerita Fiksi – mozze satrio. Avatar

    […] Berdasarkan perannya, tokoh dapat terbagi menjadi 4 jenis, yaitu protagonis, antagonis, deuteragonis dan tritagonis. Untuk ulasan lebih detil tentang tokoh, kamu dapat membacanya pada artikel berikut. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar di Sini