Bagi sebagian penulis, penokohan mungkin adalah bagian dari proses menulis yang penuh dengan tantangan. Ada kalanya mendapatkan ide sebuah cerita menjadi hal yang lebih mudah untuk dilakukan. Tapi, ujung-ujungnya mentok karena nggak tahu tokoh seperti apa yang cocok untuk cerita tersebut.
Di sisi lain, mungkin kamu penulis yang jago membuat tokoh yang menarik. Tapi, kamu nggak tahu konflik macam apa yang cocok untuk dihadapi dan diselesaikan oleh si tokoh.
Yang ditakutkan adalah para pembaca justru merasa bingung kenapa si tokoh membuat keputusan yang bertentangan dengan sifatnya. Ujungnya, penyelesaian cerita jadi nggak jelas bahkan nggak nyambung dengan konfliknya.
Supaya hal tersebut nggak terjadi, yuk coba hack mudah berikut yang aku harap dapat membantumu dalam membuat tokoh dan penokohannya.
Namun sebelumnya, apakah kamu tahu bedanya tokoh dan penokohan?
Daftar Isi
- Arti Tokoh dan Jenisnya
- Arti Penokohan dan Aspeknya
- Mengapa Tokoh dan Penokohan Penting?
- Hack: Metode ‘Good, Gone Bad’
Arti Tokoh dan Jenisnya
Tokoh adalah pelaku atau individu yang menjadi bagian dari sebuah cerita dan mengemban peristiwa yang terjadi sehingga terbentuklah jalinan cerita.
Tokoh tidak hanya berwujud manusia, tapi juga bisa hewan dan personifikasi dari benda yang bersifat manusia.
Berdasarkan perannya, tokoh dapat terbagi menjadi 4 jenis, yaitu
- Protagonis, dikenal juga sebagai tokoh utama yang memiliki peran terpenting dalam cerita. Biasanya protagonis menjadi tokoh yang mengemban peran untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam cerita dan memiliki tujuan yang ingin dicapai.
- Antagonis, dikenal juga sebagai lawan dari protagonis. Karakter antagonis memiliki peran sebagai penghalang dari protagonis untuk mencapai tujuannya.
- Deuteragonis, dikenal juga sebagai tokoh penting kedua atau tangan kanan dari tokoh protagonis. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa deuteragonis dapat menjadi antagonis.
- Tritagonis, sebagai karakter penting ketiga dan biasanya bersikap netral terhadap tokoh protagonis, antagonis dan deuteragonis.
Arti Penokohan dan Aspeknya
Penokohan adalah proses menciptakan dan mengembangkan tokoh dalam sebuah cerita.
Jika tokoh adalah pelakunya, maka penokohan adalah isi dari jalan yang ditempuh si tokoh sepanjang cerita. Dalam perjalanan inilah penulis memperkenalkan tokoh kepada pembaca.
Hal yang dapat dilakukan penulis dalam penokohan adalah dengan memberikan sifat, wujud, latar belakang, relasi dengan tokoh lain, motivasi, serta keunikan yang membedakannya dari tokoh lain.
Beberapa aspek yang membentuk penokohan adalah sebagai berikut
- Fisik, berupa tampilan fisik dari si tokoh, seperti tinggi badan, bentuk tubuh, rupa, warna kulit, rambut, ras, dan ciri fisik lainnya.
- Psikologis, berupa sifat atau kepribadian si tokoh, seperti pemalu, pemarah, ceroboh, cerdas, dan lain-lain.
- Sosial, berupa hubungan yang dibangun si tokoh dengan lingkungan sekitarnya, seperti keluarga, pekerjaan, teman, dan lain-lain.
- Moral, berupa nilai baik buruk yang dianut si tokoh, seperti keberanian, kejujuran, membela kebenaran, dan lain-lain.
Mengapa Tokoh dan Penokohan Penting?
Bayangkan kamu sedang berbincang dengan teman-temanmu, lalu kamu teringat pada sebuah cerita tawuran yang terjadi kemarin. Ketika kamu menyampaikannya, apakah hanya berhenti pada “eh, kemarin ada kejadian tawuran, loh!”?
Bahkan ketika kamu memulai dengan kalimat itu saja, akan timbul rasa penasaran dari teman-temanmu yang ingin mendengar dengan kelanjutannya, kan?
Mereka pasti akan mempertanyakan ‘siapa yang tawuran?’ dan pertanyaan lainnya untuk menjawab rasa penasaran yang muncul.
Sebuah peristiwa tidak akan berlanjut jika tidak ada tokoh yang terlibat di dalamnya. Tentunya, si tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut tidak akan dimengerti oleh pembaca jika ia tidak memiliki alasan, latar belakang, yang membuatnya mengambil tindakan.
Balik lagi ke cerita tawuran yang sedang kamu ceritakan ke teman-temanmu. Tentunya akan timbul pertanyaan ‘kenapa si A sampai terlibat tawuran’. Bagi si pencerita yang mengetahui kejadiannya, tentu kamu akan menjelaskan mengapa peristiwa tersebut sampai terjadi agar teman-temanmu merasa tertarik untuk terus mendengarkan.
Nah, di sinilah penokohan mau nggak mau muncul.
Kamupun melanjutkan ‘ternyata si A berantem sama anak SMA X karena ada yang gangguin adiknya. Merasa nggak terima, si A akhirnya menuntut balas, di mana kejadian ini berbuntut panjang sampai geng dari kedua sekolah terlibat juga’.
Ceritanya jadi lebih menarik karena ada tokoh dan penokohan yang dijelaskan oleh pencerita, kan?
Karena itulah, tokoh dan penokohan tidak dapat lepas dari sebuah peristiwa. Kehadiran tokoh dan bagaimana ia menghadapi peristiwa tersebutlah yang menjadikan cerita hidup.
Setelah mendengarkan cerita tersebut, tentu teman-temanmu dapat menarik beragam kesimpulan. Mereka bisa menilai bahwa si A adalah kakak yang baik karena membela adiknya, tapi juga emosian karena memilih berkelahi sebagai jalan menyelesaikan masalah.
Keberadaan tokoh dengan penokohannya dapat meninggalkan kesan yang berbeda-beda kepada pembaca, sekaligus pesan moral yang dapat diambil di akhir cerita. Penghargaan terindah bagi seorang penulis adalah pembaca yang puas dengan jalan cerita dan dapat mengambil pesan menyentuh yang ada di dalamnya, kan?
Hack: Metode ‘Good, Gone Bad’
Bila kamu adalah seorang penulis yang sering kesulitan saat membuat tokoh dan penokohan, maka metode ‘Good, Gone Bad’ bisa menjadi jalan keluarnya.
Metode ‘Good, Gone Bad’ adalah cara di mana kamu memanfaatkan dan mengembangkan sifat baik yang dimiliki seorang tokoh untuk membentuk konflik.
Contoh mudahnya seperti ini: seorang tokoh B dikenal memiliki sifat suka menolong. Tidak pandang bulu, siapapun akan ia bantu. Di sisi lain, teman-temannya menilai B sebagai si people pleaser. Tapi, karena sifatnya inilah ia akhirnya dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya untuk melakukan kejahatan hingga menjadi kambing hitam dari sebuah tindakan kriminal.
Nah, berangkat dari satu sifat baik saja sudah bisa membuat konflik, kan?
Agar cerita dan tokohmu terasa lebih kompleks, tambahkan saja sifat-sifat baik lain yang sekiranya akan membantu penokohanmu berkembang. Tapi ingat, semakin banyak sifat yang kamu berikan kepada si tokoh, maka semakin rumit konflik yang akan ia hadapi.
Oleh karena itu, aku menyarankan untuk setidaknya membatasi si tokoh dengan membuat maksimal sebanyak 3 sifat utama saja.
Untuk mulai mengembangkan sifat si tokoh, kamu hanya perlu menanyakan pertanyaan ini kepada diri sendiri ketika akan memulai penokohan: “apa yang akan terjadi jika…”
Contohnya, kamu membuat seorang tokoh bernama Keinan, perempuan berusia 30 tahun yang bekerja sebagai desainer pakaian dan memiliki sifat impulsif, mandiri, dan jujur. Setelah menentukan tiga sifat tersebut, maka tanyakan pada dirimu:
- “Apa yang akan terjadi jika Keinan selalu bersikap impulsif?”Alur cerita yang dapat terjadi: ia membeli bahan pakaian berbahan sutra yang terlampau mahal tanpa pikir panjang, sampai-sampai ia tidak punya uang lagi untuk membeli makan seminggu ke depan. (Konflik I)
- “Apa yang akan terjadi jika Keinan terus-terusan mandiri, mengerjakan semuanya seorang diri?”Alur cerita yang dapat terjadi: Karena ia menanggung beban kerja seorang diri, Keinan akhirnya jatuh sakit dan harus dibawa ke UGD. Akibatnya, gaun yang ia janjikan untuk klien tidak selesai dan tertunda sampai minggu depan.
- Apa yang akan terjadi jika Keinan selalu berkata jujur kepada siapapun?”Alur cerita yang dapat terjadi: Keinan tidak menyadari bahwa ia menyakiti perasaan sahabatnya, Vio, ketika mengumbar rahasia tentang pria yang disukai oleh sahabatnya itu. Akhirnya, mereka pun bertengkar dan berhenti bicara satu sama lain.
Tentu saja, masih banyak kemungkinan alur cerita yang dapat terjadi selain contoh di atas. Semuanya kembali kepada kreativitas masing-masing untuk mengembangkan penokohan si tokoh dalam cerita.
Dari hack di atas, aku harap kamu dapat belajar bahwa dalam membuat tokoh dan penokohannya perlu dipikirkan dengan seksama, bukan sekedar menentukan sifat baik yang ujungnya tidak dapat dikembangkan dan membuat pembaca bosan.
Kalau kamu masih ada pertanyaan seputar metode ini, boleh bertanya lewat Instagram atau Twitter ya!

Tinggalkan Balasan ke 7 Unsur Intrinsik dalam Membuat Cerita Fiksi – mozze satrio. Batalkan balasan