Apakah Karaktermu Tergolong Mary Sue?

Published by

on

Pernahkah kamu membaca sebuah cerita di mana si tokoh utama digambarkan sebagai sosok yang sempurna? 

Berparas cantik, tinggi semampai, berasal dari keluarga kaya raya, pintar, memiliki kepribadian yang ramah, banyak teman, populer di sekolah atau kampus, selalu menduduki ranking pertama, dan segala aspek superior lainnya.

Buset, panjang banget ya kelebihannya! Tapi, nggaak berhenti di situ aja.

Nggak cuma penampilan fisik yang sempurna, si tokoh juga punya masa lalu yang tragis atau traumatis. Meskipun begitu, si tokoh dengan mudahnya menyelesaikan semua masalah yang menimpanya.

Dalam istilah penulisan karya fiksi, tokoh ini dikenal sebagai karakter Mary Sue untuk tokoh perempuan. Sementara untuk tokoh laki-laki disebut dengan Gary Stu.

Karakter Mary Sue/Gary Stu trope atau sosok kiasan yang umum ditemukan dalam literasi populer dan modern. Tapi, ternyata istilah ini pertama kali muncul di tahun 1970-an.

Yuk, kenalan dengan istilah Mary Sue lebih jauh! Selain mendeteksi ciri-cirinya, simak tips agar karaktermu terhindar dari label tersebut.

Daftar Isi

  1. Asal Muasal Istilah Mary Sue
  2. Ciri-Ciri Karakter Mary Sue
  3. Contoh Mary Sue dalam Cerita Fiksi Populer
  4. Tips Menghindari Karakter Mary Suea
  5. Kesimpulan

Asal Muasal Istilah Mary Sue

Menurut studiobinder.com, karakter Mary Sue memiliki 2 arketipe dengan definisi yang berbeda.

  1. Mary Sue adalah karakter yang dirancang untuk tampak ideal dan sempurna karena tidak memilki kekurangan yang berarti, berbakat dalam hal apapun tapi entah kenapa memiliki latar belakang tragis.
  2. Mary Sue adalah sosok proyeksi ideal dari si penulis sendiri yang dengan sengaja dimasukkan ke dalam cerita, sebagai bentuk pemenuhan fantasi.

Dalam tvtropes.org menjelaskan asal muasal kata Mary Sue. Istilah ini muncul dalam karya fanfiction Star Trek berjudul A Trekkie’s Tale di tahun 1974 karya Paula Smith.

Karya fanfiction tersebut adalah parodi yang mengisahkan Letnan Mary Sue, seorang remaja 15 tahun berdarah setengah Vulcan. Iamenjadi protagonis dalam cerita untuk menyelamatkan The Enterprise.

Cerita tersebut dibuat sebagai bentuk kritikan terhadap beberapa episode Star Trek yang ia anggap buruk. Salah satunya karena tokoh-tokoh jagoan wanita yang tampil berusia muda bertualang bersama para awak kapal namun selalu berakhir dengan kematian.

Selepas menerbitkan cerita tersebut dalam fanzine (fan magazine, majalah independen yang dibuat oleh fans, biasanya berisi karya fiksi buatan sendiri), Paula Smith terus aktif mengkritik karya lain. Terutama kritikan terhadap sesama penulis fanfiction, yang menyebabkan istilah Mary Sue semakin populer.

Ciri-Ciri Karakter Mary Sue

Dalam membentuk protagonis di dalam cerita, seorang penulis tentu perlu mempertimbangkan berbagai hal. Sifat, perilaku dan skill tertentu perlu dirancang untuk mendukung si tokoh untuk menyelesaikan konflik yang mereka hadapi.

Untuk mendeteksi apakah karakter yang kamu rancang tergolong Mary Sue, coba cek beberapa ciri-cirinya di bawah ini. Apakah daftar berikut terdapat dalam tokoh yang sedang kamu buat?

  • Terlalu Kompeten di Berbagai Bidang
  • Disukai Oleh Semua Orang
  • Tanpa Cela dan Mempesona Secara Fisik
  • Tidak Memiliki Kekurangan yang Berarti
  • Menjalani Romansa yang Ideal
  • Menjadi Pusat dari Cerita
  • Mudah Menjadi Pemenang Ketika Menghadapi Tantangan
  • Memiliki Latar Belakang yang Tragis atau Traumatis
  • Bijaksana Jika Dibandingkan dengan Orang-orang Seusianya

Jika tokoh utama dalam ceritamu memenuhi lebih dari setengah ciri-ciri di atas, bisa tokohmu termasuk Mary Sue/Gary Stu.

Contoh Mary Sue dalam Cerita Fiksi Populer

Meskipun berawal dari tulisan fanfiction, karya Mary Sue masih dapat ditemukan dalam cerita-cerita populer. Bahkan, karakter Mary Sue juga bisa muncul di film box office. 

Beberapa tokoh Mary Sue yang dapat kamu temukan di karya literatur populer adalah Bella Swan (seri Twillight), Harry Potter (seri Harry Potter), Superman dan James Bond.

Bella Swan (Seri Twilight)

Dalam buku Twilight, Bella digambarkan sebagai tokoh perempuan cantik dan berhasil memikat Edward Cullen, si vampir tampan. Bersama Edward, Bella menjalani cerita romansa serta melewati berbagai masalah yang berhasil mereka selesaikan dengan mudah. Bahkan, Bella terlibat dalam cinta segitiga dengan Jacob, si manusia serigala. Hidup Bella seperti digambarkan tanpa cela.

Harry Potter (Seri Harry Potter)

Digambarkan sebagai anak yatim piatu dan tinggal di kolong tangga, Harry Potter justru menjadi pahlawan di dalam cerita. Nggak cuma keturunan dari penyihir berbakat, Harry juga berhasil mengalahkan Voldemort, musuh bebuyutan sekaligus penyihir terkuat sepanjang sejarah dunia sihir.

Meskipun Harry memiliki penampilan biasa saja selama di sekolah, ia dikenal sebagai si Anak yang Bertahan Hidup. Setiap tahun, ia berhasil melewati beragam rintangan dan menjadi pemenang dari setiap tantangan.

Superman

Siapa yang tidak mengenal karakter super hero, Superman. Dalam berbagai versinya, Superman memiliki kekuatan super yang sulit terkalahkan. Mulai dari bisa terbang, super kuat, tahan peluru, dapat menembakkan sinar X dengan matanya, bahkan memiliki pendengaran super. Meskipun begitu, ia digambarkan sebagai karakter yang berpihak pada kebenaran. Bahkan, identitasnya tidak dapat dikenali hanya dengan bermodal kacamata.

Bagaimana menurutmu? Apakah mereka termasuk karakter Mary Sue/Gary Stu?

Tips Menghindari Membuat Tokoh Mary Sue

Agar terhindar dari menulis tokoh yang memiliki ciri-ciri Mary Sue, berikut adalah beberapa tips yang dapat kamu ikuti. 

Jangan Takut Membuat Tokoh yang Memiliki Kekurangan

Seperti halnya di dunia nyata, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Di dalam sebuah tulisan fiksi, adalah tugas utama protagonis untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik sebelum cerita berakhir.

Agar pembaca menyukai tokoh yang kamu buat, rancanglah si tokoh sebagai karakter yang relatable dengan pembaca. Tidak hanya sifat-sifat baik saja, tapi selipkan juga sifat-sifat negatif supaya si protagonis terasa lebih manusiawi. 

Tips: Dari tiga sifat baik, buatlah tiga sifat buruk. Manfaatkanlah sifat-sifat ini untuk mengembangkan tokoh sepanjang cerita sebagai caranya untuk menghadapi hambatan atau konflik yang ada.

Wajar jika seorang tokoh membuat kesalahan dan belajar darinya. Nggak ada salahnya pula jika si tokoh mencapai happy ending di akhir cerita. Tapi, jangan lupakan untuk menampilkan sisi struggling si tokoh saat menghadapi masalah.

Buatlah Tujuan (Purpose) yang Jelas Bagi si Tokoh Utama

Setiap protagonis nggak akan lengkap kalau dia nggak punya tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan bukanlah sekedar memenangkan pertarungan sengit. Tapi, kamu dapat mengulik hal yang lebih dalam dan penting dalam hidup si tokoh. Bayangkan tujuan itu akan memberikan dampak besar pada si tokoh, dan ia akan sengsara jika tidak mencapainya.

Misalnya ia harus menyelamatkan keluarga atau kekasih yang nyawanya terancam, mengatasi trauma, menjaga desa adat dan kelestarian alam, melindungi hewan-hewan hampir punah, menghancurkan rezim otoriter, dan sebagainya.

Rancang Konflik yang Menantang Tokoh Secara Fisik Maupun Mental

Merancang sebuah konflik bukanlah sekedar menghadirkan masalah yang dapat diselesaikan oleh si tokoh. Secara umum, konflik dapat terbagi menjadi tiga bagian yaitu 

  • Konflik Internal: konflik dalam diri si tokoh / perang batin
  • Konflik Interpersonal: konflik di mana si tokoh berhadapan dengan tokoh lain
  • Konflik Eksternal: konflik di mana si tokoh berhadapan dengan lingkungan atau situasi di luar kontrol mereka.

Dengan memasukkan tiga konflik di atas di dalam cerita, maka karaktermu akan lebih kompleks.

Bangun Hubungan yang Kompleks dengan Karakter Lain

Tokoh utama dapat terasa lebih hidup dengan melibatkan tokoh-tokoh lain di dalam cerita. Setidaknya, libatkan seorang tokoh antagonis yang menentang si tokoh. Tokoh-tokoh pendukung juga perlu sebagai suporter utama protagonis.

Kehadiran tokoh antagonis maupun tokoh pembantu dapat memberikan pengaruh pada keputusan yang dibuat si tokoh. Tergantung bagaimana kamu mengatur cerita, hubungan antar tokoh tersebut dapat berakhir pada happy ending ataupun tragis.

Kesimpulan

Jadi, boleh nggak sih kita membuat karakter Mary Sue?

Jawabannya: boleh aja. Kenapa nggak?

Setiap penulis tentu memiliki preferensi dan kompleksitasnya masing-masing. Jika kamu merasa nyaman menulis tokoh Mary Sue, maka buat saja ceritanya.

Sah-sah saja jika kamu suka menulis karakter Mary Sue, toh banyak karya populer yang kini menjadi ikon literasi modern. Beberapa contohnya pun udah aku sebutkan di atas.

Pastikan kamu fokus pada satu akhir cerita, yaitu si tokoh pasti menang.

Bisa dibilang, karakter Mary Sue memiliki posisi yang ambigu dalam sebuah karya fiksi. Apalagi, karakter Mary Sue dibuat untuk mengkritik karya fiksi populer lain, seperti yang dilakukan oleh Paula Smith.

Tapi, bila kamu ingin berkembang sebagai seorang penulis, sebaiknya buatlah tokoh yang melebihi karakter Mary Sue. Bila kamu hanya terpaku pada satu trope, maka ide tersebut dapat membatasi kreativitas dan menjadi penghambat dalam mengenal lika-liku kehidupan.

Sama seperti halnya dalam menjalani kehidupan, kamu tidaklah selalu keluar sebagai pemenang. Meskipun sah-sah saja jika karakter fiksi menjadi cerminan kehidupan yang sempurna, pembaca juga berhak untuk merasakan gejolak emosi.

Tokoh yang dapat memperlihatkan kelebihan dan kekurangan dirinya pun akan lebih berkesan di mata pembaca.

Gimana dengan tokoh yang udah kamu buat? Apakah termasuk Mary Sue? Jika ada yang mau kamu diskusikan, silakan tinggalkan komentar di bawah, ya!

Semangat menulis!

Satu tanggapan untuk “Apakah Karaktermu Tergolong Mary Sue?”

  1. Cara Menulis Tokoh Cerita Fiksi yang Disukai Pembaca – mozze satrio. Avatar

    […] Latar belakang yang kamu buat pun akan membentuk perilaku tokohmu saat ini. Jangan sampai kamu membuat latar belakang yang berlebihan, hingga akhirnya tokohmu menjadi si Mary Sue. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Cara Menulis Tokoh Cerita Fiksi yang Disukai Pembaca – mozze satrio. Batalkan balasan