Salah satu tantangan dalam membuat karakter fiksi adalah bagaimana membuat pembaca mau mendukung perjalanannya sepanjang cerita. Bukan hanya sekedar menjadi tokoh yang tampan, baik hati, suka menolong, dan rajin menabung, tapi juga terasa manusiawi.
Sebagaimana cerita fiksi adalah proyeksi dari kehidupan nyata. Tokoh di dalamnya juga perlu menawarkan nilai-nilai kehidupan agar pembaca dapat merasa terhubung dengannya. Kalau meminjam istilah anak sekarang, tokohnya harus relatable.
Karakter utama adalah pelaku yang menjalani setiap adegan dalam cerita, dari awal hingga akhir. Tidak hanya sekedar ada, seorang tokoh perlu menjadi subjek yang bertransformasi, entah menjadi sosok yang lebih baik atau buruk.
Sebagai pelaku atau penggerak cerita, pembaca perlu memahami mengapa si tokoh mengambil keputusan A atau B. Mengapa ia memilih jalur ke kanan daripada ke kiri. Semua itu dapat dengan implisit kamu sampaikan dengan menyusun 4 hal.
Empat hal tersebut adalah latar belakang, motivasi, kelemahan, dan juga arc karakter.
Daftar Isi
- Membangun Backstory atau Latar Belakang Tokoh
- Menentukan Motivasi
- Menampilkan Kelemahan
- Membangun Arc Karakter
- Kesimpulan
Membangun Backstory atau Latar Belakang Tokoh
Backstory atau latar belakang tokoh adalah bagian penting yang melekat pada si karakter, yang turut membangun kepribadiannya.
Misalnya, ada tokoh bernama Miri, seorang wanita dewasa yang memiliki kepribadian mandiri. Ia jarang meminta bantuan dari siapapun ketika ada masalah, memilih untuk memendam masalah dan menyelesaikannya sendiri.
Kenapa Miri memiliki kepribadian tersebut? Karena Miri dibesarkan oleh orang tua tunggal yang sibuk bekerja seharian, sehingga Miri harus bertahan seorang diri setiap harinya. Sedari kecil, Miri belajar mengurus rumah, memasak, mengerjakan PR sendirian, tanpa dampingan sang ibu. Akibatnya, Miri jadi pribadi yang terlalu mandiri dan sulit terbuka pada orang lain.
Nah, contoh di atas menunjukkan hubungan ‘sebab-akibat’ terbentuknya kepribadian Miri. Dari luar, ia memang terlihat sebagai pribadi yang mandiri–di mana dapat berdiri di kaki sendiri adalah pribadi yang baik. Namun, ada cerita pedih di baliknya. Hal ini yang membuat Miri menjadi sosok yang menarik.
Jadi, ketika kamu menyusun kepribadian seorang tokoh, hindari sekedar mencantumkan sifat baik tanpa ada cerita yang jelas. Kenapa si tokoh tampil sebagai sosok yang ramah? Kenapa ia begitu berani melawan ketidakadilan? Semuanya dapat kamu jelaskan lewat latar belakang atau kisah masa lalu si tokoh.
Menentukan Motivasi
Bulan November kemarin, ibuku tiba-tiba mengajakku untuk pergi liburan ke Banyuwangi. Awalnya aku sempat menolak. ‘Buat apa, sih, ke Banyuwangi?’
Lalu, ibuku menjawab. ‘Buat liburan, lah. Biar nggak di rumah terus. Lihat-lihat tempat baru, main ke pantai, kumpul sama ibu-ibu lain.’
Alasan Ibu membuatku berpikir. Untuk menuju ke suatu tempat, akan terasa lebih menyenangkan jika kita punya dorongan atau alasan kuat. Nah, itulah yang disebut motivasi.
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar /tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (KBBI). Sama seperti ceritaku, tokoh dalam ceritamu juga perlu motivasi yang menggerakkannya untuk berbuat sesuatu.
Kenapa sih Harry Potter berjuang melawan Voldemort? Alasannya ada banyak. Orang tua Harry, teman, dan walinya meninggal karena melawan Voldemort. Si penyihir jahat sudah merusak tatanan kehidupan penyihir yang sebelumnya baik-baik saja, menjadi berbelok dengan membentuk kubu yang destruktif. Harry harus berjuang demi kehidupan teman-temannya yang masih hidup.
Semua motivasi kuat itu turut membentuk watak Harry menjadi pribadi yang tangguh, dan berani melawan gangguan yang mengusik lingkungannya.
Gimana dengan tokohmu? Motivasi apa yang mendorong dirinya untuk melakukan sesuatu, meski kelihatannya sulit?
Menampilkan Kelemahan
Poin yang selalu ditekankan oleh banyak penulis adalah membangun karakter yang memiliki kelemahan.
‘Tapi tokoh utama kan jagoan. Kalau dia punya kelemahan, nanti malah nggak terlihat kuat, dong?’
Eits, bentar dulu. Kata siapa seorang tokoh utama harus jadi jagoan. Tokoh utama atau protagonis sebagai penggerak cerita nggak harus jadi pembela kebenaran, loh. Tokoh utama adalah sosok yang dipilih oleh penulis untuk menjalankan alur cerita.
Ia bereaksi dari sudut pandangnya. Pilihan dan sikap yang ditunjukkan oleh si tokoh inilah yang menghidupkan cerita.
Contohnya saja seperti tokoh Light Yagami dalam manga ‘Death Note’. Berawal dari seorang anak SMA yang cerdas, hidup dalam keluarga normal, Light hanyalah remaja biasa. Awalnya ia berniat menggunakan Death Note untuk mengeksekusi penjahat di seluruh dunia.
Tapi, egonya yang tinggi justru menjerumuskan Light sendiri, hingga ia menabrakkan nilai-nilai baik dengan metode yang disalahgunakan. Orang-orang yang tidak bersalah turut menjadi korban, demi menutupi jejaknya saat menggunakan Death Note.
Menunjukkan kelemahan yang dimiliki si tokoh seharusnya nggak bikin kamu minder sebagai seorang penulis. Justru, kelemahan yang dimilikinya membuat si protagonis lebih manusiawi.
Membangun Arc Karakter
Pernah nggak sih kamu membaca buku yang menampilkan seorang tokoh yang wataknya datar-datar aja? Ketika menghadapi masalah, reaksinya biasa aja. Ketika berhasil melewatinya, ia juga nggak terlihat emosional. Dari awal sampai akhir, apapun yang ia lakukan terasa datar, mudah, dan biasa aja.
Membosankan banget, ya.
Kalau kamu sedang mengalami hal di atas dan merasa kesulitan dalam membangun ketegangan dalam cerita, coba deh evaluasi arc karakternya.
Arc Karakter adalah perjalanan perubahan batin dan perkembangan psikologis seorang tokoh dalam sebuah cerita. Hal ini menjadi poin penting yang menunjukkan bagaimana karaktermu bertumbuh, dari awal hingga akhir cerita.
Perubahan yang terjadi pun bisa beragam. Tidak hanya dari segi fisik, tapi juga emosional, psikologis, moral hingga spiritual. Arc karakter yang kamu susun juga bisa menentukan apakah tokohmu akan tumbuh sebagai sosok yang lebih baik atau lebih buruk.
Secara umum, arc karakter dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
- Positive Arc: karakter tumbuh menjadi sosok yang lebih baik, mempelajari nilai-nilai moral baru, serta mengatasi kelemahan dalam dirinya.
- Flat Arc: watak si tokoh dalam cerita tetap sama saja. Namun, sikap dan keputusan yang ia ambil membawa perubahan besar bagi lingkungan atau orang-orang di sekitarnya.
- Negative Arc karakter tumbuh menjadi sosok yang lebih buruk. Nilai-nilai moral yang ia anut berubah, bahkan terjerumus lebih dalam karena kelemahannya sendiri.
Untuk bahasan Arc Karakter akan aku ulik di artikel terpisah, ya. Jadi, tungguin aja postingan berikutnya.
Kesimpulan
Keberadaan tokoh utama dalam cerita fiksi bukan sekedar menjadi sosok baik, tapi juga perlu manusiawi. Sama halnya seperti manusia di kehidupan nyata, kamu juga perlu membangun latar belakang, motivasi, kelemahan dan arc karakter yang menarik.
Kalau kamu ada cerita menarik saat menyusun karaktermu, boleh berbagi di kolom komentar. Ceritain gimana prosesmu dalam membuat si tokoh, apa motivasi dan hambatan yang ia alami.
Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini