Apa Struktur Dasar Cerita Fiksi yang Mudah Diikuti? Coba Struktur Tiga Babak!

Published by

on

Struktur cerita fiksi adalah sebuah sistem yang wajib dikuasai oleh seorang penulis. Bila diibaratkan sebagai sebuah tubuh, struktur cerita fiksi serupa dengan susunan tulang yang menjadi tempat melekat dari setiap otot.

Bayangkan kalau tubuh kamu nggak punya tulang-tulang yang kokoh. Otot dan organ-organ vitalmu nggak akan bisa tetap pada tempatnya dan berfungsi dengan baik.

Sama halnya seperti menyusun sebuah cerita. ‘Organ-organ’ cerita atau yang kita kenal sebagai unsur-unsur intrinsik bakal berantakan dan nggak enak dibaca tanpa adanya struktur yang jelas.

Nggak hanya alur cerita yang bisa melenceng dari ide semula. Penokohan, bahkan klimaks ceritamu bisa membingungkan pembaca. Cerita tanpa struktur yang kuat juga dapat berakhir sebagai proyek mangkrak.

Oleh karena itu, dalam menyusun sebuah naskah, ada baiknya kamu terlebih dulu menyusun struktur cerita yang kokoh. Kalau kamu baru mulai menulis, coba deh gunakan Struktur Tiga Babak yang gampang diikuti.

Daftar Isi

  1. Daftar Isi
  2. Sejarah Singkat
  3. Babak 1: Hook Pembuka
  4. Babak 2: Membangun Klimaks
  5. Babak 3: Resolusi
  6. Persentase Pembagian Babak
  7. Kesimpulan

Struktur Tiga Babak

Sejarah Singkat

Struktur Tiga Babak sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno, bahkan diperkenalkan oleh Aristotle dalam karyanya Poetics. Baru di tahun 1979, seorang penulis bernama Syd Fields memperkenalkan dan mempopulerkan Struktur Tiga Babak. Dalam bukunya yang berjudul, Screenplay: The Foundations of Screenwriting, Fields menjelaskan bahwa tiga babak besar cukup untuk menggerakkan sebuah cerita.

Sementara itu, Shawn Coyne, menjelaskan Struktur Tiga Babak lewat kacamata seorang editor. Ia sendiri adalah seorang editor asal Irlandia yang telah berpengalaman lebih dari 25 tahun dalam penerbitan buku.

Dalam The Story Grid, Coyne menjelaskan bahwa kerangka cerita yang baik pasti akan menghasilkan cerita yang baik. Selain dari tiga sumber di atas, masih banyak referensi lain yang bisa kamu gunakan untuk menjelaskan Struktur Tiga Babak.

Diagram Struktur Tiga Babak (sumber: pinterest.com)

Kali ini, aku akan mencoba menjelaskan Struktur Tiga Babak dari sebuah artikel di The Writing Practice yang ditulis oleh David Safford.

Babak 1: Hook Pembuka

Kebiasaan seorang penulis pemula yang umum terjadi adalah memulai cerita dengan mendeskripsikan latar dan dunia terlalu mendetail di bab awal. Dengan kata-kata puitis dan detail yang memancing imajinasi, mengisi bab dengan situasi yang deskriptif memang proses yang menyenangkan bagi penulis.

Tapi, pembaca suka nggak sih disuguhkan detail sejak awal?

Bukannya menarasikan dengan detail nggak boleh, ya. Membangun latar juga perlu agar pembaca merasa ikut serta menjadi bagian dari cerita. Namun, ada cara lebih baik untuk memancing rasa penasaran pembaca dan terus membalik halaman di bab awal.

Yaitu, dengan menetapkan situasi status quo si protagonis sejak awal. Perkenalkan bagaimana hidup si protagonis yang terlihat stabil, mapan, baik-baik saja. Kehidupannya berjalan semestinya–lalu, perlahan selipkan insiden yang dapat mengancam kondisi fisik, psikis, bahkan mendatangkan kematian.

Ingat! Semakin banyak insiden yang kamu berikan kepada si protagonis, semakin banyak masalah yang harus ia selesaikan nantinya. Jadi, putuskan dengan bijak masalah-masalah mana saja yang paling mempengaruhi hidup si tokoh, ya!

Akhiri Babak 1 dengan si protagonis harus membuat sebuah keputusan setelah mengalami rentetan kejadian yang membolak-balik hidupnya. Di babak ini, menjadi kesempatanmu untuk mengenalkan tokoh, konflik dan resiko yang harus ia hadapi.

Babak 2: Membangun Klimaks

Memasuki Babak 2, masalah dan tantangan yang dihadapi oleh si protagonis meningkat dengan tajam. Hadirkan subplot-subplot yang menawarkan dilema yang membuat sudut pandang tokoh tertantang. Si protagonis jadi mempertanyakan keputusan yang ia ambil, lewat kejadian yang terus muncul.

Untuk meningkatkan ketegangan, susunlah cerita yang membuat persepsi pembaca terombang-ambing, dan percaya bahwa si protagonis akan kalah di babak ini. Kehadiran tokoh antagonis juga dapat memperkuat konflik cerita, sehingga resiko dan taruhan yang dihadapi oleh si protagonis meningkat.

Di akhir Babak 2, si protagonis mencapai status ‘All Is Lost’, di mana si protagonis merasa kehilangan segalanya.

Ingat! Di bagian ini, si protagonis berada di titik terendah. Konflik terbesar dan terberat yang mengguncang si tokoh ada di Babak 2. Si tokoh mengalami konflik batin yang kuat. Ia menyadari, bahwa keputusan yang ia pertaruhkan di Babak 1 saat menghadapi konflik ternyata berakibat buruk.

Babak 2 menjadi kesempatanmu untuk meningkatkan kepedulian pembaca kepada si protagonis. Buat mereka merasakan berbagai emosi dan berempati pada si tokoh.

Babak 3: Resolusi

Babak 3 menjadi bagian akhir dari cerita. Di bagian ini, hukum sebab-akibat dari perjalanan si tokoh berlaku dan terlihat jelas. Bagian ini menjadi kesempatan bagi penulis untuk memenuhi ‘janji’ kepada pembaca. Janji itu adalah:

Janji I: bahwa si protagonis telah menderita ketika berusaha meraih tujuan yang ingin dia capai.

Janji II: Meski telah melewati tragedi dan masa-masa tersulit, si tokoh dapat melewatinya dan pada akhirnya merayakan kemenangan.

Dalam hal ini, aku meminjam ungkapan ‘bersama kesulitan, ada kemudahan’. Bahwa meski menghadapi kesulitan, kehidupan si tokoh terus berjalan dan pada akhirnya semua masalah pun terurai.

Bagaimanapun juga, Babak 3 menjadi titik dalam hidup si protagonis bahwa ia akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan dan butuhkan. meskipun dalam prosesnya (di akhir Babak 1 dan sepanjang Babak 2) ia harus mengubah pandangan, sebagian atau seluruh dirinya.

Persentase Pembagian Babak

Idealnya, sebuah cerita yang menggunakan Struktur Tiga Babak perlu kamu bagi dalam persentase. Kenapa hal ini perlu dilakukan? Selain sebagai kontrol terhadap panjang naskahmu, persentase ini menjadi standar ideal agar laju cerita tidak terlalu panjang dan membosankan.

Persentase idealnya adalah 25 : 50 : 25.

Misalnya, kamu menulis novel dengan panjang 80.000 kata. Idealnya, novel tersebut terdiri dari Babak 1 sepanjang 20.000 kata, Babak 2 sepanjang 40.000 kata, dan Babak 3 sepanjang 20.000 kata. Pembagian ini akan membuat ceritamu terasa lebih kompak, dengan konflik yang padat dan tidak bertele-tele.

Tentu saja, sebagai penulis pemula, mungkin kamu akan kesulitan dalam berpatokan pada persentase ini–karena hal itu yang aku rasakan, hehe. Setidaknya, cobalah untuk tidak melenceng terlalu jauh dari persentase yang disarankan.

Kesimpulan

Struktur Tiga Babak adalah tipe kerangka cerita yang paling mudah diikuti oleh penulis pemula. Terbagi menjadi tiga babak, yaitu

  • Babak 1 sebagai perkenalan tokoh dan konflik
  • Babak 2 sebagai puncak dari konflik dan momen si tokoh kehilangan segalanya
  • Babak 3 sebagai hasil dari keputusan dan konsekuensi yang dihadapi oleh si tokoh utama.

Menulis dengan struktur cerita yang jelas tidak hanya akan memudahkanmu memetakan isi cerita, tapi juga mendorongmu untuk menyelesaikannya. Kalau saat ini ada ide cerita yang mau kamu kembangkan, coba deh membuat kerangkanya dengan menggunakan Struktur Tiga Babak ini.

Buat kamu yang udah pernah menggunakan Struktur Tiga Babak, boleh berbagi cerita di kolom komentar, ya!

Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini