Em Dash: Bukan Tanda Baca Ciptaan AI

Published by

on

Sebenarnya, topik yang mau aku bahas ini sudah lewat. Namun, nggak ada salahnya mengangkat hal ini kembali, apalagi di tengah gempuran konten AI yang semakin mudah diproduksi. Orang-orang udah nggak takut lagi jualan karya AI, bahkan membuat buku dengan bantuan AI.

Jadi, beberapa waktu lalu di Threads sempat ramai pembicaraan tentang penggunaan ‘em dash’ dalam artikel. Sayangnya, aku nggak menyimpan hasil tangkapan layar utas aslinya. Inti dari utas tersebut menyatakan bahwa setiap tulisan yang menggunakan ‘em dash’ adalah buatan AI. Lucunya, kalimat tersebut keluar dari seorang pemilik akun yang aku duga bekerja sebagai content writer.

Gara-gara pernyataan itu, muncul deh perdebatan tentang penggunaan em dash dalam sebuah naskah atau artikel. Bahkan, ada sebagian orang yang enggan menggunakan em dash karena takut dibilang penulis yang cuma jago copy-paste karya AI.

Aku salah satu orang yang menelan mentah-mentah pernyataan si pemilik utas.

Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa aku mesti takut, ya, pakai em dash? Sebenarnya, tanda baca ini udah lazim digunakan di banyak buku cetak. Tidak hanya fiksi, tapi juga non-fiksi.

Terus, kok bisa ya orang itu membuat pernyataan seolah-olah AI-lah yang menciptakan em dash?

Sebelum membahas lebih jauh bagaimana sebaiknya kamu menyikapi utas serupa, yuk intip dulu sejarah munculnya em dash.

Sejarah Tanda Baca Em Dash

Menurut PublishingState.com, em dash sudah ada sejak abad ke-17. Seperti halnya banyak kebudayaan lain di dunia, industri literasi turut berkembang pesat, apalagi setelah manusia nggak hanya menulis dengan tangan.

Di abad ke-18, maraknya penggunaan mesin cetak dan pengaturan teks dengan mesin menjadi pemicu munculnya em dash. Mesin-mesin cetak yang pengoperasiannya masih manual menggunakan barisan plat yang mewakili setiap abjad (A sampai Z), serta berbagai tanda baca.

Pada awalnya, kemunculan em dash pun murni digunakan dalam proses percetakan artikel koran atau buku. Nggak ada teori tata bahasa di baliknya. Nah, seiring berjalannya waktu, para penulis pun mulai menggunakan em dash di dalam naskah, sebagai bentuk ekspresi dalam cerita.

Dari situlah em dash menjadi bagian dari naskah literasi hingga saat ini.

Apa Itu Em-Dash?

Setelah mengenal sejarah singkatnya, waktunya kamu kenalan dengan tanda baca ini.

Em dash adalah tanda baca berupa garis horizontal (—) yang lebarnya setara dengan huruf kapital ‘M’.

Selain em dash, ada juga en dash (–) yang lebar garisnya setara dengan huruf ‘N’. Tanda baca ini mungkin tidak sepopuler saudaranya si em. Namun, kamu nggak perlu merasa asing ketika mendengar ada yang menyebut en dash, ya.

Tanda baca em dash, en dash dan hypen atau tanda hubung (-) memiliki panjang garis dengan fungsi yang berbeda pula.

Fungsi Em-Dash

Penggunaan em dash pada sebuah naskah dapat menunjukkan adanya jeda dalam gagasan, penyelaan kalimat, atau perubahan mendadak dalam nada bicara.

Nggak hanya digunakan dalam artikel, em dash juga bisa digunakan dalam sebuah dialog. Coba deh kamu perhatikan penggunaannya dalam tiga kalimat di bawah ini.

Contoh:

Hanya ada tiga hal penting di dunia ini—keberanian, ketulusan, dan kegigihan.

“Tolong, jangan sakiti aku lagi—STOP!” jeritnya.

“Kamu tahu aku nggak bermaksud—”

“Nggak ada yang perlu kamu jelasin lagi,” potong Miri. “Maaf saja nggak cukup, Baskara.”

Jika digunakan dengan tepat, em dash dapat memperjelas konteks sebuah kalimat. Keberadan em dash dalam sebuah dialog juga membuatnya tampak lebih natural, seakan sedang meniru percakapan verbal. Nggak jarang, kan, kamu berbicara dengan seseorang yang senang memotong pembicaraan orang, atau mengalihkan topik secara tiba-tiba?

Nah, kalau kamu menggunakannya dengan benar, em dash justru bisa menonjolkan ciri khas tokoh dalam ceritamu!

Seperti yang udah disebutkan sebelumnya, bahwa em dash sering digunakan oleh para penulis fiksi—bahkan oleh mereka yang namanya telah mendunia!

Contohnya, Jane Austen, Virginia Woolf, Herman Melville, hingga Emily Dickinson.

Nih, Emily Dickinson menggunakan em dash sebagai ekspresi dalam salah satu puisinya yang berjudul ‘Wild Nights’. Terasa, kan, emosinya?

salah satu contoh puisi karya Emily Dickinson, seorang penyair Amerika yang menjadi figur penting di tahun 1800-an.

Kesimpulan

Pada akhirnya, yuk, kita sepakati bahwa menggunakan em dash di dalam naskah bukanlah tanda tulisan tersebut dibuat oleh AI. Bahkan, AI baru berkembang di abad ke-20, yaitu sekitar tahun 1956 di Dartmouth College, New Hampshire, Amerika Serikat.

Em dash udah lahir lebih dulu jauuuh sebelum AI ada. Yang artinya, sebagai sebuah kecerdasan buatan, AI mengolah informasi berdasarkan sejarah, data, dan perkembangan ilmu manusia yang sudah ada sebelumnya.

Cara kerja AI itu bukan menciptakan, tapi mengolah data menjadi sesuatu yang relevan buat kamu. Jadi, kalau ada orang yang menuduhmu penulis bermodal AI hanya karena kamu menggunakan em dash, mungkin dia yang kurang wawasan 😅

Oleh karena itu, jangan takut lagi menggunakan em dash di dalam naskah, ya. Pelajari bagaimana menggunakannya dengan benar, supaya naskahmu bisa naik level!

Kalau AI aja pakai em dash, masa kamu nggak? Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini