tamanmu adalah rumput liar, yang tampak indah di tepi bagi mereka yang sekedar lewat. dari jendelaku, kau tumbuhkan yang tak bernilai. kau mengingkari ucapanku, tapi telingaku panas mendengar gerutu tentang teman-temanmu. kau tak memelukku. tak ada kata cinta. bagimu, cukup sekenanya memeliharaku dengan usaha seadanya. kesempurnaanmu hanya untuk para penikmat di tepi, bukan untukku. seakan aku tak pantas menerima yang terbaik, hanya yang biasa-biasa saja. hingga aku lelah meminta, berhenti menuntut banyak. berhenti memberi banyak. aku benci menyadari bahwa aku tumbuh sepertimu. aku tak akan pernah lupa caramu menenangkanku saat menangis. kau bilang ‘jangan keras-keras, malu sama tetangga.’ padahal aku sedang menangisi hatiku yang padam, tapi kau perlakukan dia seperti bayangan. tak berharga, jika tak putih dan mahal. aku lelah jadi samsak tinjumu. aku bosan jadi kantung sampah luapan emosimu. menyeret hatiku agar merapuh padahal kau sendiri yang terganggu. bagaimana caranya aku protes pada Tuhan, ketika separuh tubuhku adalah darahmu. berhenti menarik pelatukku. aku tak ingin menjadi orang jahat, tapi kau pembina tertinggiku.

Tinggalkan Komentar di Sini