Ketika sedang membaca sebuah cerita, pernahkah kamu melihat penulisnya menggunakan tanda baca titik tiga (…) di antara kalimat? Nah, dalam bahasa Indonesia, tanda baca ini disebut sebagai elipsis.
Kehadiran elipsis dalam sebuah kalimat itu bukan sebagai tanda baca yang dicantumkan asal. Menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima (EYD V), elipsis punya beberapa fungsi.
Sebelum mengenal fungsi dan contoh penggunaannya, yuk kenali dulu definisinya berikut.
Pengertian Ellipsis
Berdasarkan KBBI VI, elipsis memiliki makna:
n Ling tanda berupa tiga titik yang diapit spasi (…), menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
Berdasarkan maknanya, udah terlihat tuh fungsinya. Tapi, untuk lebih lengkapnya, akan aku jelaskan di bawah, ya.
Berdasarkan EYD V, elipsis merupakan tanda baca berupa rangkaian titik, yang menunjukkan potongan kalimat atau bagian teks yang dihilangkan. Dan seperti tanda baca lainnya, tanda elipsis (…) tidak akan punya makna jika ia berdiri sendiri.
Fungsi Elipsis
Mengikuti panduan EYD V, elipsis (…) memiliki beberapa fungsi utama dalam penulisan bahasa Indonesia, di antaranya adalah:
1. Menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan atau tidak disebutkan.
Contoh:
- Penyebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
- Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah …
- …, lain lubuk lain ikannya.
2. Menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Contoh:
- “Menurut saya, …, seperti …. Bagaimana, Bu?”
- “Jadi, simpulannya …. Oh, sudah saatnya kita beristirahat!”
3. Menandai jeda panjang dalam tuturan yang dituliskan.
Contoh:
- Maju … jalan!
- Kamera … siap!
- Satu, dua, … tiga!
Elipsis dalam Penulisan Fiksi: Memainkan Emosi
Tidak hanya sekedar memotong kalimat, kamu juga dapat menggunakan elipsis untuk menampilkan emosi tokoh kepada pembaca. Seringkali elipsis ditemukan dalam dialog untuk menunjukkan emosi yang kuat. Misalnya, rasa ragu, kepedihan, hingga menguatkan ketegangan dalam dialog.
Misalnya:
- “Ketika ditanya alasan kepergiannya, dia hanya diam saja …”
- “Kamu tahu apa yang terjadi jika aku gagal …?”
- “Ia menatap langit … lalu menunduk.”
- “Aku … tidak yakin ia akan kembali kepadaku.”
Tentu saja, perlu ada narasi yang melengkapi konteks penggunaan elipsis dalam dialog, baik sebelum atau setelahnya. Jika kamu butuh membangun emosi lebih dalam, menyelipkan elipsis tentu akan membuat dialogmu terasa lebih intens.
Aturan Penulisan Elipsis dalam EYD V
Penulisan elipsis (…) pun tidak dilakukan sembarangan. Karena bahasa adalaah bagian dari budaya, ada baiknya kamu mematuhi aturan yang berlaku supaya bahasa Indonesia tetap lestari. Malu juga, kan, kalau menggunakan ‘kebebasan berekspresi’ sebagai alasan, eh tahunya malah melanggar aturan!
Berikut aturan penulisan elipsis berdasarkan EYD V.
- Susun tiga titik berturut-turut tanpa jeda di antara titik-titiknya.
- Beri satu spasi sebelum dan satu spasi setelahnya, jika elipsis berada di tengah kalimat.
- Jika elipsis terletak di akhir kalimat, tambahkan titik keempat sebagai tanda akhir kalimat, sehingga tampak empat titik berturut-turut.
- Tidak ada jeda spasi antara tanda baca lain yang mengikuti setelah elipsis, seperti koma (,) tanda seru (!) atau tanda tanya (?).
Gimana, sampai sini kamu udah paham dong definisi, fungsi dan penggunaan elipsis yang benar dalam penulisan bahasa Indonesia. Jika kamu masih terus melakukan kesalahan, jangan bosan-bosan untuk terus berlatih.
Karena yang bisa memelihara bahasa Indonesia, ya kita para penulis yang menggunakannya!
Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini