ibu,
lepaskan tanganmu yang telah berkerut dari jemariku
suaramu yang serak karena dua hari tak minum
kakimu yang menyeret, melepuh karena alas kasar di bawah naungan tenda
tanganmu nanti hanya untuk memelukku lagi, ketika kita berbaring di bawah langit surga
yang tak berhalang oleh dinding yang menolakmu kembali ke rumah kita di Yerusalem
di atas bukit hijau, ayahanda melambaikan tangannya, berdiri dengan dua kaki yang kembali utuh
sungai-sungai putih mengalir, yang sekali teguk membuat wajahnya bercahaya
bukan lagi tubuh kusutnya yang berbaring di antara puing, tak sempat kita menidurkannya dengan layak
ibu, izinkan aku mencari tepung untukmu hari ini
agar kau bisa makan dan membuatkanku roti
di antara peluru besi, aku bayangkan piring kita penuh oleh daging, ikan, minyak zaitun, dan terong
adalah kehormatanku engkau terus hidup, di tanah yang kita panggil rumah, yang bagi mereka hanya tempat singgah
ibu, doakan aku kembali untuk mencium kakimu yang wangi surgawi

Tinggalkan Komentar di Sini