Setelah dua bulan baca buku ini pelan-pelan, akhirnya semalam selesai aku baca juga. Beberapa kali aku hampir menyerah untuk menuntaskan The Affinities, karena berbagai istilah dan topik asing yang nggak familier. Namun, aku terus mendorong diriku untuk menyelesaikannya karena buku terbitan 2015 ini punya premis yang menarik.

Alasan lain aku membeli buku ini pun sederhana. Bukan karena penulisnya, bukan hanya karena aku mencari buku ber-genre fiksi ilmiah, tapi karena … ehm, harganya murah. Aku membelinya di Periplus yang saat itu sedang diskon gila-gilaan, apalagi kalau akhir tahun.
Makanya, jangan lupa mampir ke website Periplus di tanggal-tanggal tertentu, ya. Potongan harga untuk buku-buku impor lumayan soalnya. Meski beli dengan harga murah, di saat yang bersamaan kamu juga mendukung buku orisinil dan bukan bajakan.
Daftar Isi
Informasi Umum
- Judul Buku: The Affinities
- Nama Penulis: Robert Charles Wilson
- Genre Buku: Fiksi Ilmiah / Science Fiction
- Penerbit dan Tahun Terbit: Tor Doherty Associates, 2015
- Jumlah Halaman: 300 halaman
Profil Penulis
Robert Charles Wilson adalah seorang penulis kelahiran 1953 yang tumbuh besar di Kanada. Wilson telah menulis buku ber-genre science fiction, termasuk novel dan cerita pendek. Ia juga telah memenangkan banyak penghargaan semenjak debutnya di tahun 1986.
Salah satu penghargaan bergengsi yang berhasil ia menangkan adalah Hugo Award. Buku berjudul “Spin” yang ia tulis di tahun 2005 berhasil menyabet penghargaan ini. Bahkan hingga tahun-tahun berikutnya, buku tersebut masih memenangkan berbagai penghargaan internasional, seperti Geffen Award, Kurd-Laßwitz-Preis, dan Seiun Award di Jepang.
“The Affinities” sendiri ia tulis tahun 2015. Lalu, gimana sih cerita yang disajikan oleh Wilson dalam buku tersebut? Yuk, simak sinopsisnya berikut.
Sinopsis
Memasuki usia pertengahan 20-an, Adam Fisk mengalami krisis identitas. Ia berada di tahun akhir perkuliahan, tidak memiliki banyak teman, dan tidak ada keluarga yang mendukungnya. Satu-satunya orang yang mendukung Adam berkuliah di bidang seni adalah neneknya yang sekarat. Adam merasa kesepian dan tidak memiliki tempat dalam kehidupan sosialnya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mendaftarkan diri dalam sebuah program milik InterAlia, sebuah perusahaan yang menawarkan jasa pertemanan dan bersosialisasi. Dalam The Affinities, Adam diwajibkan untuk melakukan sejumlah tes yang menempatkannya dalam sebuah komunitas eksklusif. Kelompok tersebut berisi orang-orang yang memiliki kepribadian dan nilai moral yang serupa dengan dirinya.
Penggolongan oleh InterAlia membawanya masuk dalam kelompok Tau, salah satu grup populer dalam The Affinities. Dengan menjunjung nilai kebebasan dan kesetiaan, Adam akhirnya menemukan tempat yang dapat ia panggil ‘keluarga’. Ia pun jatuh cinta pada Amanda, seorang perempuan eksentrik yang menjadi pusat dunia dari Adam. Sayangnya, Amanda hanya melihat Adam sebagai salah satu dari banyak ‘pacar’ yang ia sayangi. Adam harus menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah menjadi satu-satunya cinta dalam hidup Amanda.
Seiring berjalannya waktu, kelompok mayoritas The Affinities mulai mengembangkan komunitas mereka sendiri. Mulai dari bidang politik, kesehatan, hingga asuransi di mana hanya anggota Tau yang dapat menjadi bagian dari sistem infrastruktur tersebut.
Pertemuan Adam, Amanda dan Damian dengan Meir Klein adalah awal dari kekacauan sekaligus meningkatnya kompleksitas dari para kelompok The Affinities. Mereka ingin lepas dari InterAlia, yang menurut Damian tidak sepenuhnya transparan dan membebaskan komunitas untuk berkembang. Kelompok yang dulunya hanya komunitas pertemanan, kini telah menjadi aliansi besar yang mempengaruhi dunia.
Perjalanan Adam yang awalnya hanya sekedar anggota, kini menjadi orang penting dan dipercaya dalam Tau. Adam memiliki tugas sebagai diplomat untuk berdiskusi dengan komunitas lainnya. Musyawarah yang terjadi antara Tau dan Het (kelompok mayoritas lain dalam The Affinities) tidak jarang memunculkan pertikaian. Teror dan ancaman membuat dua kelompok besar tersebut bersitegang hingga melibatkan anggota keluarga Adam.
Aaron, kakak Adam, telah menjadi anggota kongres yang memiliki pengaruh besar dalam politik negara. Istri Aaron sekaligus teman dekat Adam, Jenny, menyimpan sebuah video rahasia yang dapat menjatuhkan nama Aaron di dunia politik. Kelompok Tau dan Het pun bersaing dan saling mengancam agar video kekerasan tersebut tidak dibocorkan ke publik.
Sementara itu, Adam harus mempertaruhkan kehidupannya sebagai anggota keluarga Fisk sekaligus sebagai anggota Tau. Kira-kira, ‘keluarga’ manakah yang akan ia bela dan pilih? Apakah Keluarga Fisk yang tidak pernah menganggapnya spesial, atau Tau yang telah menerima Adam apa adanya?
Gaya Penulisan dan Struktur
Kisah ‘The Affinities’ memiliki alur maju, di mana pembaca akan mengikuti kehidupan Adam Fisk sebagai tokoh utama. Berawal dari Adam yang menjadi mahasiswa semester akhir, pasif, minder sebelum bergabung dalam Tau. Adam yang awalnya tidak melihat masa depan yang cerah, tumbuh menjadi orang terpercaya dalam Tau.
Berkaitan dengan gaya penulisan, Robert Charles Wilson memiliki gaya bertutur yang cukup puitis dengan kosakata yang kaya. Hal yang perlu menjadi perhatian dari buku ini adalah banyaknya istilah ilmiah yang mungkin akan membingungkan pembaca.
Hal unik dalam buku ini adalah pernyataan Robert Charles Wilson yang meminjam istilah ‘teleodynamics’. Terdapat disclaimer di akhir buku di mana Wilson tidak sepenuhnya memahami arti kata tersebut—yang menurutku agak disayangkan. Pada akhirnya, pembaca awam sepertiku tidak akan mempertanyakan definisi sebenarnya dari istilah ini. Kecuali mereka memang tertarik dengan topik ilmiah atau sosiologi, mungkin akan mempertanyakan penggunaan istilah tersebut.
Karakter dan Pengembangan Tokoh
Karakter Adam Fisk digambarkan sebagai sosok penyendiri yang merasa ia tidak disayangi oleh keluarganya. Ia merasa iri pada Aaron, kakaknya, yang digambarkan sebagai tipikal anak pertama kesayangan ayahnya. Meski begitu, Adam berusaha menjadi sosok yang baik Geddy, adik tirinya yang masih belia.
Adam tidak hadir sebagai tokoh utama yang memiliki kepribadian yang kuat. Ia cenderung pasif, apalagi jika berhubungan dengan lawan jenis. Meski memiliki hubungan yang dekat dengan Jenny, Adam tidak pernah membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Ketika bertemu dengan Amanda pun, ia tidak mengusahakan dirinya menjadi sosok yang dominan seperti Damian. Posisi yang ia dapatkan dalam Tau pun tidak melalui perjuangan yang berat. Ia dapat memiliki peran dalam kelompok tersebut karena menjadi ‘sidekick’ dari Damian dan Amanda yang memiliki inisiatif lebih tinggi darinya.
Di akhir cerita, perkembangan dari watak Adam pun hanya muncul dalam porsi yang kecil. Ia menunjukkan emosinya bukan ketika Jenny atau Amanda terancam dalam bahaya, tapi saat Geddy terlibat dalam masalah. Ia membuat keputusan besar ketika saudara tirinya terancam bahaya, yang mengubah jalan hidup Adam di akhir cerita.
Menurutku, hal ini cukup ironis dan tragis karena penokohan Adam rasanya seperti terlambat untuk tumbuh sebagai tokoh utama. Di dua pertiga bagian novel, Adam terkesan tampil sebagai ‘tokoh sampingan’ yang menceritakan kisahnya sebagai bagian dari Tau. Pada akhirnya, ia pun dibuang oleh kelompok Tau karena dianggap berkhianat karena tidak mengedepankan visi dan misi sebagai Tau.
Tema Utama
‘The Affinities’ mengangkat tema dinamika sosial yang kompleks. Buku ini menyoroti kehidupan manusia yang ingin menemukan tempat untuk dirinya dan berteman dengan orang-orang yang setipe dengannya.
Kalau aku bisa menyederhanakan tema dalam buku ini, rasanya seperti mendaftar ‘Tinder on steroid’. Komunitas yang mempertemukanmu dengan orang-orang yang memiliki hobi sejenis, justru berkembang menjadi isu yang lebih kompleks. Setiap komunitas ini ingin tumbuh sebagai kelompok yang independen dan dominan dalam lingkungan manusia. Hal ini menjadi cerminan dari kehidupan kita saat ini yang mengkotak-kotakkan diri dalam golongan tertentu.
Kelebihan dan Kekurangan
Nggak ada buku yang sempurna, begitupun ‘The Affinities’. Berikut kekurangan dan kelebihan yang aku rasakan ketika membaca buku ini.
Kelebihan
Menurutku, bab pertama dari ‘The Affinities‘ menjadi bagian yang paling menarik. Diawali dengan Adam yang terjebak dalam kerusuhan demonstran hingga ia terluka karena menjadi target pemukulan polisi. Cara Robert Charles Wilson membuka kisah The Affinities dengan konflik menjadi jalan yang efektif untuk memperkenalkan Adam.
Selain itu, karena buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca dapat merasakan pemikiran Adam secara personal. Pembaca juga dapat mengenal sosok Adam lebih dekat dan memahami wataknya. Beberapa tokoh pendukung pun dideskripsikan dengan menarik melalui kacamata Adam, sehingga lebih mudah membayangkan wujud dan peran mereka.
Kekurangan
Buku ini nggak memiliki klimaks yang menggigit. Rasanya seperti mencoba naik ke puncak cerita, tapi pembaca malah dibawa mengambang ketika menyusuri bagian penyelesaian.
Bagian yang membingungkan buatku adalah liniwaktu ketika Amanda ditembak oleh seseorang. Menurutku adegan ini memiliki potensi (atau mungkin memang menjadi klimaks?) menjadi puncak cerita. Sebagai love interest dari Adam, seharusnya Amanda memiliki peran yang besar untuk menegaskan tujuan utama Adam sebagai tokoh utama.
Pada akhirnya, Amanda justru lepas dari kehidupan Adam begitu aja. Yang membuat Adam berani berbuat nekat justru saudara tirinya Geddy, yang diculik oleh komunitas Het. Hal ini bikin aku sebagai pembaca merasa kebingungan dengan siapa sebenarnya sosok yang paling penting untuk Adam.
Kenapa kesan yang tertinggal justru Geddy menjadi prioritas daripada Amanda? Padahal Amanda memiliki peran yang lebih besar dalam perjalanan hidup Adam menemukan jati dirinya.
Hal lain yang disayangkan adalah tidak ada antagonis yang jelas dalam buku ini. Sosok Tom yang muncul di akhir sebenarnya meninggalkan kesan yang kuat, tapi kehadirannya di bab-bab sebelumnya begitu samar. Aaron, kakak Adam, juga memiliki potensi sebagai antagonis, tapi kehadirannya dalam cerita ternyata hanya sebagai karakter pengisi saja.
Kesimpulan
Jadi, apakah ‘The Affinities’ perlu masuk dalam TBR-mu? Menurutku, tergantung apakah kamu tipe pembaca seperti apa. Kalau kamu suka cerita dengan alur yang cepat, mungkin buku ini akan ngebosenin.
Tapi, kalau kamu suka dengan tema fiksi ilmiah, mungkin konsep ‘The Affinities’ bakal bisa membuka topik pembicaraan yang menarik. Apalagi jika melihat buku ini terbit di tahun 2015, di mana tahun itu konsep sosialisasi semacam Tinder baru muncul. Yang perlu kamu perhatikan mungkin ada bagian-bagian dalam cerita yang sulit untuk dipahami karena terlalu ilmiah.
Kalau kamu tertarik untuk membaca ‘The Affinities’, janga lupa untuk membelinya di toko buku resmi, ya!

Tinggalkan Komentar di Sini