Banyak yang bilang membuat sebuah tokoh itu jangan perfect-perfect amat, nanti bikin pembaca cepat bosan. Nasihat tersebut nggak salah, tapi apa iya memasukkan sifat negatif udah cukup bikin tokoh kita terlihat lebih manusiawi?
Misalnya, tokoh A punya sifat ramah kepada semua orang. Dia pandai bergaul, gampang banget punya teman, dan disukai ibu-ibu tetangga. Tapi, di sisi lain, dia jadi bahan omongan teman-temannya karena dianggap genit ke lawan jenis, dicap playboy, dan nggak setia.
Sifat-sifat yang bertolak belakang ini emang udah bikin tokohmu terlihat lebih hidup. Tapi, kamu bisa eksplorasi si tokoh lebih jauh lagi dengan menambahkan quirk atau ciri khas yang bikin dia lebih unik.
Salah satu caranya adalah dengan menambahkan phobia. Dalam bahasa Indonesia, dikenal juga dengan fobia atau pobia. Menurut KBBI, fobia memiliki definisi ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya.
Dalam kehidupan nyata pun memang nggak semua orang memiliki fobia. Ketakutan ini biasanya dilandasi oleh kejadian yang traumatis sehingga mempengaruhi reaksi seseorang ketika dihadapkan dengan situasi tertentu.
Kapan Memasukkan Phobia dalam Kehidupan si Tokoh?
Nggak semua tokoh yang kamu buat harus memiliki fobia. Apalagi kalau pada akhirnya kamu malah menjadikan fobia sebagai ciri khas dari tulisanmu. Padahal, memiliki fobia erat kaitannya dengan kejadian traumatis yang dialami seseorang. Bisa jadi, kejadian itu hampir mengancam keselamatan nyawanya.
Makanya, sebaiknya tampilkan fobia seperlunya saja. Jangan memasukkan hal ini terus-menerus di setiap cerita tanpa alasan yang jelas. Kalau kamu melakukan ini, takutnya pembaca akan menilaimu sebagai penulis yang gemar meromantiasasi trauma seseorang.
Berikut beberapa alasan di mana kamu dapat memberikan fobia pada si tokoh:
- si tokoh memiliki masa lalu atau masa kecil yang traumatis, di mana akhirnya menyebabkan ia memiliki rasa takut berlebihan. kamu juga perlu mempertimbangkan apakah masa lalu ini penting diketahui pembaca. pastikan juga kehadiran fobia ini benar-benar dapat mempengaruhi alur cerita. kalau nggak penting, mending nggak usah memberikan fobia pada si tokoh.
- fobia yang ditampilkan dapat mengisi ‘dunia’ si tokoh dalam cerita. contohnya, seperti Ron Weasley (Harry Potter) yang memiliki arachnophobia, atau ketakutan berlebihan pada laba-laba. Dalam cerita pun ditampilkan ketika Ron bertemu makhluk laba-laba berukuran besar nan cerdas ketika nyasar di hutan bersama Harry.
- fobia dapat mempengaruhi cara si tokoh mengambil keputusan, apalagi ketika ketegangan dalam cerita mulai naik atau cerita memasuki fase klimaks. hal ini dapat menunjukkan character development atau perkembangan karakter si tokoh ketika menghadapi ketakutan terbesarnya. apakah si tokoh dapat melawan fobianya, atau justru lari tunggang langgang saking takutnya? semuanya tergantung kebutuhan ceritamu.
Tips Menyelipkan Phobia dalam Penokohan
Agar fobia yang dialami si tokoh tidak hanya muncul sebagai fakta, cobalah beberapa tips berikut. Ini bisa membantu kamu menggambarkan phobia secara efektif.
1. Pahami Phobia yang Dipilih
- Pilihlah fobia yang sekira memang benar-benar akan mempengaruhi kehidupan tokohmu, bukan karena namanya terdengar keren.
- Lakukan riset tentang phobia yang akan kamu tulis, termasuk gejala fisik dan psikologis yang dapat muncul. Misalnya, arachnophobia (takut laba-laba) bisa membuat seseorang merasa panik, gelisah, hingga sesak nafas.
- Tentukan gejala mana saja yang dapat kamu tampilkan. Bukan berarti gejala lainnya nggak penting atau masuk akal, ya. Tapi membatasi gejala di sini dimaksudkan agar kamu nggak menjadikan fobia si tokoh prioritas di cerita. Kalau daftar gejalanya panjang, setidaknya pilihlah 3-5 saja.
2. Gunakan Teknik “Show, Don’t Tell”
Daripada menulis ‘si A mengidap rasa takut pada X’, tunjukkan kepada pembaca bagaimana reaksi si tokoh. Kamu dapat menarasikannya dengan menunjukkan bagaimana kondisi fisik maupun psikologis si tokoh ketika berhadapan dengan fobianya. Misalnya:
- Muncul keringat dingin saat si tokoh melihat jurang.
- Napas si tokoh memburu ketika ia berada dalam lift kaca.
- Tangannya gemetar saat berdiri di menara yang tinggi.
3. Narasikan Bagaimana Phobia Tersebut Mempengaruhi Pikiran dan Emosi si Tokoh
Secara umum, rasa takut muncul ketika seseorang merasa tidak nyaman berdekatan dengan sebuah benda atau situasi tertentu. Padahal, bagi orang lain, hal tersebut biasa saja. Namun, ketakutan yang dialami si tokoh tidak dapat ia tahan.
Cobalah untuk menampilkan reaksi negatif si tokoh, dengan memperlihatkan pikiran atau emosinya. Misalnya:
- “Tinggi banget! Aku pasti jatuh!” seru si A dengan suara gemetar, meskipun si B sudah menuntunnya berjalan melewati jembatan.
- Ketika masuk ke dalam ruangan, degup jantung C begitu kencang seakan-akan melompat keluar dari dadanya. Rasanya setiap pemilik mata menghujamnya dengan peluru tajam, membuat C tak dapat melangkah lebih jauh. Jika ia mengucapkan satu kata saja, mereka pasti akan menertawakan tingkahnya.
4. Tambahkan Pemicu dan Respons Fisik
Rasa takut seseorang biasanya memiliki pemicu yang spesifik. Agar kamu dapat menampilkan reaksi atau respon dalam narasi, gunakan pemicu tersebut. Misalnya, seseorang yang takut pada gelap (nyctophobia) dapat berteriak ketika lampu tiba-tiba mati.
Atau, seseorang yang mengidap claustrophobia (takut ruang sempit) dapat merasa sesak nafas saat berada di dalam lift yang penuh orang.
Untuk menampilkan respon fisik, kamu dapat melakukan riset pada situs-situs kesehatan tentang bagaimana seseorang yang memiliki fobia bereaksi. Beberapa respon yang umum antara lain detak jantung meningkat, keringat berlebihan, pusing atau sesak nafas.
5. Gunakan Latar Belakang yang Mendukung
Seperti telah disebutkan sebelumnya, fobia dapat muncul karena seseorang memiliki pengalaman traumatis. Jadi, fobia bukan tiba-tiba saja muncul tanpa alasan yang jelas. Beberapa alasan yang dapat kamu gunakan untuk menguatkan munculnya fobia pada tokoh antara lain:
- Trauma masa kecil. Misalnya pernah terlibat kecelakaan, terancamnya nyawa, menderita sakit, dan lain-lain.
- Pengalaman buruk yang membekas, mulai dari kekerasan, pelecehan, penculikan, melihat kejadian tragis, dan lain-lain.
- Pengaruh lingkungan atau keluarga. Misalnya KDRT, lingkungan yang dekat dengan kejahatan, wabah penyakit, perang, konflik adat, dan lain-lain.
6. Tunjukkan Perkembangan Karakter
Dalam dunia fiksi, mengalami trauma dan/atau fobia adalah bagian perjalanan hidup yang dapat diambil dari pengalaman nyata seseorang. Jika kamu bertanya pada orang-orang yang menderita fobia atau ketakutan tidak wajar, kebanyakan dari mereka pun tidak ingin mengalaminya. Tidak jarang pula yang melakukan terapi untuk memperbaiki kualitas hidupnya.
Nah, tokohmu pun dapat melakukan hal yang sama. Karenanya, kamu jangan melupakan bahwa tokohmu perlu mengalami perkembangan karakter. Bukan berarti si tokoh harus 100% bebas dari fobia atau trauma yang ia alami. Tapi dengan menunjukkan perjuangan atau usaha si tokoh untuk keluar dari traumanya, pembaca akan tergugah untuk mendukungnya.
Tunjukkan bagaimana si tokoh berusaha mengatasi fobianya, atau berikan momen di mana ia harus menghadapi ketakutan terbesarnya. Dengan begitu, konflik ceritamu pun akan terasa lebih mendalam dan dekat dengan hati pembaca.
Daftar Phobia yang Umum Terjadi
Setelah mengetahui gimana caranya menyelipkan fobia di dalam narasi ceritamu, yuk intip daftar fobia berikut. Kamu dapat menggunakan referensi ini untuk menjadi bagian dari penokohan tokohmu.
Phobia terhadap Hewan
- Arachnophobia – Takut terhadap laba-laba.
- Ophidiophobia – Takut terhadap ular.
- Cynophobia – Takut terhadap anjing.
- Entomophobia – Takut terhadap serangga.
Phobia terhadap Lingkungan
- Acrophobia – Takut terhadap ketinggian.
- Nyctophobia – Takut terhadap kegelapan.
- Thalassophobia – Takut terhadap laut atau perairan dalam.
- Astraphobia – Takut terhadap petir dan badai.
Phobia terhadap Situasi
- Claustrophobia – Takut terhadap ruang sempit.
- Agoraphobia – Takut terhadap tempat ramai atau terbuka.
- Aerophobia – Takut terhadap terbang dengan pesawat.
- Glossophobia – Takut berbicara di depan umum.
Phobia terhadap Objek atau Kondisi Medis
- Trypophobia – Takut terhadap pola lubang kecil yang berulang.
- Hemophobia – Takut terhadap darah.
- Dentophobia – Takut terhadap dokter gigi.
- Nosophobia – Takut terhadap penyakit serius.
Phobia Unik dan Jarang Diketahui
- Nomophobia – Takut kehilangan akses ke ponsel.
- Chronophobia – Takut terhadap berjalannya waktu.
- Eisoptrophobia – Takut terhadap cermin.
- Xenophobia – Takut terhadap orang asing atau budaya lain.
Kesimpulan
Mengalami trauma hingga munculnya rasa takut yang berlebihan adalah hal yang sering kita temui dalam masyarakat. Dalam cerita fiksi, nggak ada salahnya kamu memasukkan hal ini sebagai bagian dari penokohanmu. Tapi, yang perlu diingat adalah bagaimana menjadikan fobia atau rasa takut tersebut bagian dalam membangun cerita.
Fobia atau rasa takut berlebihan bukanlah asesoris yang sekedar mempercantik tokohmu. Pilihlah fobia yang tepat dengan bijak, sesuaikan dengan kebutuhan tokohmu, lalu sajikan dalam narasi yang cantik untuk pembaca.
Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini