Selama dua bulan terakhir, aku mencoba untuk berhenti melakukan banyak hal di waktu bersamaan. Misalnya, aku ingin tetap konsisten mengunggah konten tips menulis di Instagram dan Twitter setiap harinya. Ternyata, badan dan mentalku akhirnya menyerah.
Dalam unggahan blogku yang berjudul ‘Balada si Tukang Cemas dan Jagoan Menunda-nunda‘, aku menceritakan bagaimana aku berlatih menjadi konsisten. Ini adalah langkah awal yang penting. Mungkin gol-gol kecil yang aku lakukan setiap hari nggak se-menakjubkan orang lain. Tapi, hingga hari ini aku pun merasakan manfaatnya.
Meski kondisiku mentalku masih naik turun, setiap hari aku bisa merasa senang saat menulis. Mulai dari mengerjakan novel ‘Lukas’ dan juga fanfiction sebagai selingan di waktu senggang.
Tapi, bisa menulis setiap hari bukan berarti aku nggak merasa frustasi saat tulisanku nggak berjalan sesuai dengan yang aku inginkan. Ada kalanya pikiran intrusifku seringkali menyerang, membuatku berhenti sejenak karena ide-ide baru terus muncul di kepala.
Nah, ketika berhenti inilah perhatianku seringkali teralihkan pada kegiatan lain. Mulai dari scrolling media sosial, bikin sketsa, sampai akhirnya aku menyibukkan diri melakukan hal lain dan lupa dengan tulisanku sendiri. Tahu-tahu hari udah semakin malam, aku ngantuk dan waktunya tidur.
Yang tersisa cuma rasa penyesalan karena aku membuang-buang waktu dan ide cerita yang harusnya aku tulis hilang ditelan udara. Saat menghadapi draft tulisanku lagi, aku merasa udah kehilangan momentum, dan semakin stuck untuk lanjut menulis.
Kenapa ya Tulisanku Seringkali Stuck di Tengah Jalan?
Kalau kamu mempertanyakan hal yang sama, sebenarnya ada beberapa alasan kenapa kamu merasa sulit melanjutkan tulisanmu lagi. Berikut beberapa alasan di antaranya.
Kamu Terlalu Perfeksionis / Overthinking
Kamu ingin segalanya terlihat sempurna, sampai kamu berusaha sekeras mungkin agar orang lain tidak dapat menemukan kelemahanmu. Alhasil, kamu jadi mengkhawatirkan hal-hal terkecil dalam tulisanmu. Di matamu, setiap kalimat bahkan kata harus sempurna. Setiap karakter harus dapat terlihat sekompleks mungkin, dengan jalan cerita yang rumit dan dramatis.
Bukannya membiarkan ide cerita mengalir, kamu jadi terlalu khawatir apakah tulisanmu cukup pantas untuk dibaca orang lain.
Struktur Ceritamu Masih Belum Lengkap
Kamu udah belajar gimana caranya bikin struktur cerita dari awal hingga akhir. Mulai dari membuat prolog, sinopsis, bahkan membuat konflik yang berlapis. Tapi, saat mulai menulis, ternyata kamu masih menemukan banyak plot hole. Rasanya adegan sebelumnya tidak dapat berlanjut ke adegan berikutnya dengan mulus.
Akhirnya, kamu nggak tahu gimana caranya melanjutkan ceritamu lagi.
Tokoh Ceritamu Masih Dangkal dan Nggak Punya Motivasi yang Jelas
Kamu telah menunjukkan kelebihan, kelemahan, dan nilai moral yang dijunjung oleh si tokoh. Namun, kamu merasa adegan yang kamu tulis masih terasa flat. Atau, adegan yang kamu tulis justru melenceng jauh dari akhir cerita yang kamu inginkan.
Bisa jadi, motivasi yang kamu susun untuk tokohmu masih belum kuat. Yang perlu kamu ingat adalah sebuah cerita nggak akan ‘bergerak’ ketika tokohnya nggak punya motivasi atau tujuan yang ingin dicapai.
Kamu Lelah Secara Mental
Coba, deh, kamu udah minum air berapa gelas hari ini? Apakah kamu tidur cukup semalam? Atau, kamu memiliki masalah yang belum terselesaikan? Bisa jadi faktor-faktor tersebut mempengaruhi kesehatan mentalmu juga. Mungkin ada baiknya kamu berhenti nulis sejenak dan beristirahat hari ini.
Kamu Nggak Tahu Adegan Apa yang Harus Ditulis Selanjutnya
Kamu udah punya tokoh, struktur cerita, dan tahu bagaimana ending cerita yang kamu rencanakan. Menurutmu, plot twist yang kamu buat udah sempurna dan bakal jadi adegan paling seru dari cerita. Tapi, kamu menemukan masih ada logika yang belum klop sehingga kamu merasa ragu-ragu untuk mengekskusi cerita tersebut. Akhirnya, tulisan kamu mandeg karena kamu nggak tahu harus menulis apa.
Kalau kamu mengalami hal-hal di atas, sini aku kasih writing hack. Metode ini aku pelajari saat mengikuti kelas menulis dari Paige Toon, seorang penulis asal Australia yang telah menerbitkan 20 buku.
Metode yang beliau ajarkan disebut Metode BLAH. Metode ini bukanlah kumpulan singkatan, tapi secara harfiah menggunakan kata ‘BLAH’ dalam draft tulisanmu. Gimana caranya?
Cara Menggunakan Metode BLAH
Sebelum mulai menggunakan Metode BLAH, kamu perlu menulis draft ceritamu dalam aplikasi menulis. Metode ini secara umum dapat kamu lakukan pada aplikasi manapun.
- Tulis semua ide yang ada di kepala menjadi narasi cerita dalam aplikasi penulisan seperti MS Word, Google Docs, dll.
- Kesampingkan dulu keinginan untuk memperbaiki diksi, tata bahasa, typo, atau membuat narasi yang indah.
- Ketika semua ide sudah kamu tulis, akhiri paragraf tersebut dengan BLAH, atau di bagian-bagian yang membuatmu tersendat.
- Tinggalkan naskahmu selama 1-2 hari, dan gunakan waktu rehatmu untuk melakukan hal lain.
- Setelah kamu siap, kembalilah ke naskahmu. Gunakan command Alt+F (Windows) atau Cmd+F (iOS) dan ketiklah kata BLAH pada kolom pencarian. Aplikasimu secara otomatis akan menandai setiap kata BLAH di dalam naskahmu.
- Nah, kamu udah bisa deh mengisi lagi bagian-bagian BLAH dalam naskah dengan narasi sesuai dengan kebutuhan ceritamu.
Tips Tambahan
Menggunakan metode BLAH nggak cuma untuk mengisi narasi saja, tapi bisa kamu gunakan untuk berbagai hal. Mulai dari nama tokoh, lokasi, bahkan mantra sihir (kalau ceritamu ber-genre fantasi, ya) yang mungkin belum kamu temukan diksinya.
Setelah kamu selesai menyunting naskah, jangan lupa untuk sekali lagi mengeceknya ya. Jangan sampai masih ada kata BLAH yang tersisa di naskahmu, ya, supaya editor atau pembacamu nggak bingung, hehe.
Gimana, kamu mau coba metode BLAH ini?
Jangan lupa follow akun media sosialku dan subscribe supaya kamu mendapat notifikasi ketika aku mengunggah tulisan baru, ya!

Tinggalkan Komentar di Sini