kata-katamu yang gemerisik
seperti matahari
di sela dedaunan musim panas
berayun-ayun
membawa kedamaian
memeluk wajahku hangat
berpikir tentang
kasih sayang
yang kadang kuanggap
mitos belaka
hatimu yang santun
meyakinkanku untuk percaya
bahwa hidup
selayaknya berjalan saja
tanpa prasangka
tapi tetap terarah
di antara badai
yang kuterjang sendiri
aku menyakitimu
tak sengaja
bukan karenamu
bukan karena kita
tapi karena dia
namanya juga cinta bersama
dia inginkan kamu
dengan segala cara
kotor, tengik, kelabu
menimbun dadaku dalam sesak
menahanku agar membusuk
diam-diam culas
untuk ego, berharap terlihat manusiawi
maafku mungkin
tak tersampaikan benar
dalam kata yang dapat menenangkan
hatimu yang terluka
kini kita luka bersama dulu
nanti juga sembuh
suatu saat
ketika waktunya tepat
aku akan menaungi lagi
dirimu yang penat
kita akan melupakan
luka menyayat
di bawah dedaunan itu
kita duduk bersila
menertawakan cerira lama
dan aku mendengarmu kembali jadi hebat

Tinggalkan Komentar di Sini