Balada si Tukang Cemas dan Jagoan Menunda-nunda

Published by

on

Belakangan ini aku mengalami slump yang panjang sebagai seorang penulis. Kepalaku penuh dengan ide cerita, tapi selalu tersendat saat waktunya mengeksekusi. Padahal aku udah bikin premis, sinopsis, tokoh, penokohan sampai outline. Pokoknya semua elemen udah lengkap, deh!

Tapi, begitu duduk di depan laptop, isi kepalaku malah melanglang buana mikirin hal lain di luar menulis. Mulai dari yang ngurus kucing lah, belum laundry baju, belum ini, itu, ono, ino, dan lain-lain.

Sampai akhirnya siang berubah jadi malam, dan udah waktunya tidur. Masa-masa itu terus berlangsung selama berhari-hari, sampai aku merasa minder dengan diri sendiri. Aku merasa gagal dan nggak pantas menjadi penulis.

Kalaupun aku memaksakan menulis, aku merasa konten yang aku buat nggak tulus dan cuma mempertahankan algoritma. Aku merasa semakin terkukung dalam kepala sendiri dan takut untuk menulis.

Padahal semua ini terjadi karena pikiranku sendiri, kan? Semua ini akibat aku menolak untuk konsisten dan takut memulai. Rasanya seperti terus berjalan tapi tujuanku terasa begitu jauh. Aku tahu mau ke mana, tapi aku takut dengan hambatan-hambatan yang mungkin akan aku temui di jalan.

Mereka Benar: Konsistensi adalah Kunci!

Aku tahu nggak bisa begini terus. Aku harus melawan rasa minder dan ketakutan yang aku rasakan. Kalau aku nggak berani mengambil langkah, bisa-bisa aku akan terus ketinggalan dibandingkan penulis lain.

Sedikit demi sedikit, aku melatih diri untuk lebih disiplin. Meski hasil di akhir hari nggak seberapa, aku merasa cukup karena berhasil mencapai sesuatu. Cara-cara yang aku lakukan untuk melawan rasa takut adalah dengan konsisten membangun kebiasaan kecil yang coba aku taati setiap hari.

Membuat Gol Harian

Nggak muluk-muluk, setiap hari aku membuat gol-gol kecil yang aku tentukan sebelum mulai berkegiatan. Dengan modal post-it-note kecil, aku membuat checklist hal-hal yang akan aku lakukan hari itu. Mulai dari nulis blog, membuat post Instagram, menyunting draft cerita, baca buku. Sampai hal-hal lainnya yang menurutku penting untuk kucapai hari itu.

Setidaknya, aku membuat 4 gol setiap harinya. Setelah menyelesaikan satu tugas, aku akan membubuhkan centang di kertas note itu. Di akhir hari, aku akan mereview apa saja yang telah aku capai. Meskipun ada hal nggak sempat aku kerjakan, aku menjadikan hal tersebut motivasi untuk aku cantumkan dan selesaikan esok hari.

Membaca Buku

Jika kamu menanyakan kepada setiap penulis bagaimana caranya untuk mulai nulis, mereka pasti akan bilang membaca buku. Ya, bener juga sih. Gimana bisa jadi penulis kalau nggak suka baca? Kalau nggak menempatkan diri sebagai pembaca, kamu nggak akan tahu tulisan seperti apa yang bagus dan tidak.

Oleh karena itu, di tahun ini aku berkomitmen untuk rutin membaca buku. Nggak perlu waktu yang panjang, cukup 10-15 menit sehari. Selain novel, aku juga membaca kembali manga-manga yang pernah menginspirasiku untuk menulis.

Nggak cuma menggunakan kacamata pembaca, aku juga menempatkan diri sebagai seorang penulis. Setiap dari buku yang aku baca, menganalisanya menjadi salah satu kebiasaan yang muncul. Mulai dari penggunaan kosa kata, cara menyusun plot cerita, sampai gaya bahasa si penulis.

Sejauh ini yang aku rasakan, membaca buku memang membantuku belajar gimana menulis cerita yang bagus.

Selain itu, aku jadi mengenal kembali diriku sendiri. Seperti jenis cerita apa yang aku suka, serta pacing seperti apa yang membuatku tertarik untuk membalik halaman. Membaca buku juga nggak perlu mengikuti tren buku apa yang sedang populer saat ini. Mau kamu tertarik dari segi gambar sampul, blurb di belakang ataupun mencoba genre baru, semua sah-sah aja dilakukan.

Mencoba Kegiatan Seni Lainnya

Ketika aku merasa terjebak dalam ruwetnya kepalaku sendiri, aku tahu harus menyalurkan isi kepalaku pada hal lain. Kalau rasanya aku sedang nggak ingin menulis narasi yang panjang, aku beralih pada format seni lainnya. Misalnya, membuat puisi atau membaca prompt-prompt di medsos atau aplikasi Fortelling.

Sejauh ini, cara tersebut cukup membantu mengurai isi kepala. Aku juga lebih sibuk menyusun emosi yang aku rasakan dalam kata-kata yang puitis. Meskipun nggak ada yang baca, pada akhirnya aku merasa jauh lebih tenang setelah menghasilkan sesuatu. Hal ini lebih baik kan daripada menghabiskan energi kita untuk hal-hal negatif?

Selain menulis, aku juga suka menggambar. Kalau kepalaku penuh dengan ide-ide visual, aku akan menggunakan energi itu untuk membuat sketsa karakter ceritaku. Hasilnya memang nggak bagus-bagus amat, tapi aku suka ketika tokoh yang aku buat akhirnya punya wajah.

Menjaga Kualitas Tidur

Hal terakhir yang belakangan ini aku jadikan rutinitas adalah menjaga kualitas tidur. Dulu, aku terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Hasilnya, aku tidak punya energi di pagi hari, mood-ku berantakan dan berat badanku pun naik turun.

Belakangan ini aku mencoba untuk sudah berbaring di tempat tidur setidaknya pada jam 9-10 malam.

Saking sulitnya aku tidur, bahkan aku menggunakan sleep patch di tangan. Memang sih, barang ini keliatannya seperti gimmick semata. Tapi, entah karena sugesti, aku memang merasa tidurku terasa lebih dalam setelah rutin menggunakan patch ini.

Aku jadi bisa bangun lebih awal, badanku tidak sakit-sakit, dan aku punya energi untuk beraktivitas seharian. Buat yang mengalami insomnia, mungkin bisa mencoba menggunakan sleep patch setiap malam. Kalau kamu orang yang suka ditemani dengan musik, bisa menggunakan audio yang menemani saat tidur.

Frekuensi suara tertentu ternyata bisa membantu kita lebih tenang sehingga bisa menjaga kualitas tidur juga, loh.

Kesimpulan

Sebagai penulis, mengalami masa surut adalah hal yang wajar. Terkadang, kita tidak memiliki energi untuk menulis apapun dan merasa tidak punya kemampuan seperti penulis-penulis lainnya. Kita jadi sering minder, nggak bersemangat dan berpikir untuk menyerah.

Tapi, meskipun berat, rasa tersebut haruslah dilawan. Ketika kamu takut untuk mencapai sesuatu, mungkin sebenarnya hal itu sangat berarti bagimu. Oleh karena itu, kamu harus berusaha untuk melawan rasa takut meskipun sulit.

Menjadi konsisten pun nggak harus dengan melakukan perubahan yang drastis. Membuat gol-gol kecil yang kamu selesaikan hari demi hari, lama-lama akan membawamu mencapai tujuan yang kamu inginkan. Nggak papa kalau langkahmu lebih lambat dari orang lain, yang penting kamu nggak berhenti hari ini.

Cobalah untuk keluar dari isi kepalamu yang ruwet itu dan menyalurkan energimu pada hal-hal yang positif. Semoga apa yang kutulis dapat memberikan secercah harapan dan semangat untukmu hari ini, ya!

Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini