Tahun ini aku punya resolusi untuk membaca lebih banyak buku. Karena sebagai penulis, perlu suka baca buku juga dong. Aku masih belajar untuk menjadi konsisten, jadi aku nggak membuat target besar. Cukup sekitar 7 buku yang ingin aku selesaikan. Yang penting, aku berani memulai dulu.
Jika aku berhasil menuntaskan judul-judul ini sebelum tutup tahun, pasti aku akan menambah bacaan lainnya.

Salah satu buku yang berhasil aku selesaikan adalah novel karya Raditya Dika yang berjudul ‘Timun Jelita’. Buku ber-genre komedi ini adalah buku ke-9 berformat narasi yang pernah ditulis olehnya.
Nama Raditya Dika sendiri sebenarnya udah nggak asing di dunia literasi. Salah satu buku populer yang pernah ia tulis adalah ‘Kambing Jantan’, yang menjadi kumpulan cerita pribadinya sewaktu kuliah di Australia.
Beberapa karya lain seperti ‘Cinta Brontosaurus’, ‘Marmut Merah Jambu’, dan ‘Koala Kumal’ juga menjadi judul-judul populer ber-genre komedi. Selain menulis buku, Raditya Dika juga seorang komika, Youtuber, sutradara, dan pemain film.
Ide ‘Timun Jelita’ pun muncul ketika Raditya Dika mendapat tugas untuk tampil di sekolah anaknya. Ia membentuk band bersama orang tua murid lainnya, yang membangkitkan kenangan Radit tentang masa mudanya yang suka main gitar.
Tidak hanya merilis dalam bentuk novel, Raditya Dika juga menulis lagu dan membentuk band bernama ‘Timun Jelita’. Bersama Mutiara Amadea Putri, keduanya merilis EP berjudul ‘Timun Jelita’ dan telah merilis 4 buah lagu.
Jika ‘Timun Jelita’ menjadi salah satu buku dalam TBR-mu, semoga review singkat ini bisa membantu. Yuk, mulai review-nya!
Daftar Isi
- Informasi Umum
- Sinopsis
- Gaya Penulisan dan Struktur
- Karakter dan Pengembangan Tokoh
- Tema Utama
- Kelebihan dan Kekurangan
- Kesimpulan
Informasi Umum
- Judul Buku: Timun Jelita
- Nama Penulis: Raditya Dika
- Genre Buku: Komedi
- Penerbit dan Tahun Terbit: Gagasmedia, 2024
- Jumlah Halaman: 174 halaman
Sinopsis
Di usianya yang menginjak 40 tahun, Timun hanyalah seorang akuntan freelance yang berperawakan bapak-bapak. Meninggalnya sang ayah menjadi pukulan besar bagi Timun. Ketika pamannya mampir ke rumah, ia membawa sebuah gitar tua yang penuh kenangan. Gitar itu mengingatkan Timun pada impian kecilnya, yaitu menjadi seorang musisi.
Keinginan kuat itu membawa Timun bertemu dengan Jelita, sepupunya yang seorang mahasiswi dan punya pengalaman nge-band. Sayangnya, pengalaman pahit yang pernah Jelita alami semasa SMA membuatnya enggan untuk membantu Timun.
Tapi, ada sesuatu pada lagu ciptaan Timun dan gaya bermain gitarnya yang membuat lagu-lagu itu hidup. Jelita yang awalnya ragu, akhirnya mau menjadi bagian dari musik yang dibuat oleh Timun. Bersama-sama, mereka membentuk duo band bernama Timun Jelita.
Perjalanan Timun dan Jelita untuk mewujudkan mimpi mereka bermusik membawa keduanya berani untuk melewati trauma dan ketidakpercayaan diri. Timun dan Jelita menjadi duo musik yang mengajarkan bahwa passion nggak kenal umur dan perlunya keberanian untuk jujur dalam berkarya.
Gaya Penulisan dan Struktur
Menurutku, bahasa penulisan Raditya Dika dalam buku ini sangat simpel dan lugas. Kalau kamu pecinta karya sastra yang menggunakan bahasa-bahasa cantik dan deskriptif, mungkin kamu nggak akan menemukannya dalam buku ini.
Gaya menulis Raditya Dika ini membuat cerita Timun dan Jelita menjadi musisi terasa begitu cepat. Penuturan yang sederhana ini membuat ‘Timun Jelita’ mudah dibaca dalam waktu yang panjang. Bahkan, kamu bisa menyelesaikan buku ini dalam satu kali duduk.
‘Timun Jelita’ memiliki alur cerita maju. Setiap adegannya disampaikan secara runtut tanpa ada kilas balik yang panjang ke masa lalu. Alur ini membuat pembaca mudah untuk mengikuti proses Timun dan Jelita dalam bermusik. Mulai dari rencana mereka membuat musik, memutuskan menjadi musisi, hingga akhirnya manggung di hadapan penonton.
Karakter dan Pengembangan Tokoh
Karakter Timun digambarkan sebagai tokoh pria berusia awal 40-an dengan perawakan tubuh yang cukup berisi. Ia juga punya gaya berpakaian yang biasa saja, seperti setelan kemeja untuk bekerja.
Ia juga tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dalam beberapa dialog, Timun seringkali meminta pendapat istrinya, apalagi yang berkaitan dengan keinginannya untuk mulai main musik lagi. Ia juga cenderung menjadi seorang people pleaser yang mendahulukan kepentingan klien-kliennya daripada kepentingan pribadi.
Tapi, sisi baik dari kepribadian Timun juga tampak dari sikapnya yang lembut. Seperti bagaimana ia bermanja pada istrinya yang bernama Putri dan suka meluangkan waktu bersamanya. Timun juga orang yang setia kawan, suka belajar dan mau mencoba hal baru.
Sementara itu Jelita digambarkan sebagai gadis yang tomboi, easy going tapi multi-talenta. Ketika menyukai sesuatu, Jelita akan meluangkan waktu untuk menggiati hobi tersebut. Seperti bagaimana ia suka bermusik dan bernyanyi, sehingga ia mempelajari aplikasi dan peralatan tentang musik.
Jelita juga ringan tangan dan suka menolong siapapun yang butuh bantuannya. Sayangnya, karena pernah kecewa, Jelita punya sisi skeptis terhadap laki-laki yang pernah dekat dengannya. Ia perlu waktu untuk membuka diri pada laki-laki yang ingin mendekatinya.
Sama seperti Timun, Jelita juga punya sisi setia kawan. Seperti bagaimana Jelita menolak tawaran sebuah label ternama untuk menjadi penyanyi solo, karena ia ingin membuat musik bersama dengan Timun. Kesamaan sifat antara dua tokoh inilah yang membuat keduanya cocok bermusik bersama.
Tema Utama
Selain unsur komedi di dalamnya, ‘Timun Jelita’ turut mengangkat tema-tema umum seperti persahabatan dan perjuangan untuk menggapai mimpi.
‘Timun Jelita’ memiliki latar kehidupan modern, di mana para tokohnya tinggal di ibukota. Tapi, meskipun Timun dan Jelita menjalani hari-hari yang sama seperti kebanyakan orang, ada kejadian-kejadian yang membuka diri mereka untuk tumbuh.
Seperti Timun yang awalnya nggak yakin bisa bermusik lagi, ternyata bisa mewujudkan mimpi itu bersama Jelita. Begitu juga Jelita, yang dapat melewati luka di masa lalu karena dikhianati oleh teman-teman band SMA-nya.
Kelebihan dan Kekurangan
Kisah ‘Timun Jelita’ memang tidak memiliki alur cerita dan konflik yang rumit. Ide sederhananya adalah seorang pria berusia 40 tahun-an yang ingin nge-band kembali.
Masalah yang muncul lebih kepada pertentangan batin antara tokohnya. Seperti saat Timun yang merasa ragu untuk mulai bermusik karena sudah terlalu tua untuk memulai passion di masa muda. Ditambah lagi Jelita yang mengalami trauma di masa lalu karena pernah didepak oleh teman-teman bandnya. Jelita pun mengalami pertentangan batin ketika ia mendapat tawaran untuk menjadi penyanyi solo dan meninggalkan Timun.
Sayangnya, konflik yang dialami oleh dua tokoh dalam cerita ini terasa kurang seimbang, apalagi tokoh Timun. Pertumbuhan watak Timun pun terasa kurang menonjol dibandingkan dengan Jelita.
Hal yang agak menggangguku saat membaca ‘Timun Jelita’ adalah kehadiran sebuah bab berjudul ‘Kuntilanak Vila’. Dalam bab ini, Timun dan teman-temannya mendapat tawaran liburan di vila oleh salah satu kliennya.
Mungkin Raditya Dika ingin menghadirkan sisi komedi dari perjalanan Timun menjadi musisi sekaligus mengarahkan alur cerita ke bagian penyelesaian. Tapi, bab liburan ke villa ini rasanya jadi memecah alur cerita secara tiba-tiba. Kehadiran tokoh Anwar yang hanya muncul di awal tiba-tiba hadir kembali di sepertiga akhir dari alur cerita.
Menurutku, cerita bab ini dapat terasa mengalir jika diselipkan dengan lebih halus.
Entah karena Gagasmedia ingin menjaga keunikan si penulis, tapi rasanya segi struktur buku ini kurang melalui proses editing yang baik. Ada adegan-adegan yang menurut saya kurang relevan dengan jalan cerita. Rasanya adegan tersebut hadir untuk sekedar menjadi pengisi dan bahan komedi, tapi tidak memiliki peran berarti dalam berjalannya cerita.
Contohnya seperti adegan saat Robert kencan buta dengan beberapa perempuan, yang menurut saya agak dipaksakan untuk hadir. Meskipun adegan itu lucu, alur cerita jadi terasa terpotong dan tidak mengalir dengan alami.
Seandainya Raditya Dika dapat menambahkan deskripsi yang lebih showing di beberapa adegan, rasanya pembaca dapat merasa lebih antusias. Dengan showing, rasanya tokoh TImun juga dapat memberikan dampak yang lebih dramatis kepada pembaca.
Resolusi dari novel ini pun terasa begitu singkat, di mana sebuah postingan dari mantan Jelita menyelesaikan semuanya. (Spoiler!) Meski berujung dengan happy ending, menurutku bagian ini dapat digali lebih dramatis lagi.
Kesimpulan
Jadi, apakah ‘Timun Jelita’ menarik untuk dibaca? Menurutku, yes, kalau kamu tipe pembaca yang suka bacaan ringan atau penggemar dari Raditya Dika.
Meskipun mengandung unsur komedi, premis ‘Timun Jelita’ sebenarnya cukup menarik. Menurutku, ‘Timun Jelita’ seharusnya dapat ditulis lebih baik lagi, apalagi dari segi struktur cerita yang masih melompat-lompat.
Kabarnya buku ke-2 dari perjalanan Timun dan Jelita menjadi musisi pun sudah terbit. Kalau kamu tertarik untuk mengetahui kelanjutan dari kehidupan Timun Jelita, buruan beli bukunya di toko-toko buku resmi, ya!
Bagi yang sudah baca ‘Timun Jelita’, adegan mana yang paling berkesan untukmu?

Tinggalkan Komentar di Sini