insting berdering
pada jiwa yang merasakan genting
hidup terancam, kematian bagai berdiri di ujung tebing
berteriak agar bapak, ibu, dan adik dapat makan sehari tiga piring
tapi dikatain anjing
raja kecil cari simpati dengan bagi-bagi susu
raja besar bermain podium, teriak ‘ndasmu!’
si babi dan tikus jadi antek, teriak ‘paket!’ di pintu
kepalanya jadi kado, tersirat berbisik ‘berikutnya kamu’
susahnya jadi anjing di negeri para binatang
tali kekang di leher, mulut dihalang
perut keroncongan, kepala ditendang
melawan sedikit, si anjing hilang
taringku tanggal, suaraku parau
nyawaku tunggal, nilainya tak terjangkau
tapi bila aku jadi sunyi, carilah mereka yang bernyanyi
dalam kata-kata dangkal seperti tak berakal
mungkin uang haram bikin mereka tak pernah lagi muram
makan seperti babi, berkhianat seperti tikus
panggil aku anjing, menggonggong demi asa yang tak putus
panggil aku anjing, demi ibu yang berduka di setiap kamis
panggil aku anjing, seperti para burung yang tegas bercicit
panggil aku anjing, asalkan tak bunuh saudara sendiri
panggil aku anjing, menggonggong aku sampai kau terguling

Tinggalkan Komentar di Sini