Tips Membedakan Buku Bajakan dan Asli

Published by

on

Isu buku bajakan masih jadi perbincangan hangat di kalangan pecinta literasi. Bahkan, nggak sedikit penulis Indonesia yang terus mengangkat isu pembajakan buku hingga berdiskusi dengan pemerintah. Sayangnya, hingga saat ini belum ada aksi nyata yang ditunjukkan oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.

Ditambah lagi, hingga saat ini payung hukum yang melindungi para penulis baru Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Sanksi yang dijatuhkan kepada pelanggar pun cukup berat. Dalam kasus pidana, pembajak buku dapat dikenakan hukuman penjara selama maksimal 10 tahun dan denda senilai Rp 4 Miliar. Jika mendapat sanksi perdata, maka pengedar buku dan pembeli diwajibkan mengganti rugi kepada pihak yang dirugikan.

Sambil menunggu kebijakan pemerintah untuk melindungi industri literasi, ada hal-hal kecil yang dapat kamu lakukan sebagai konsumen. Meski kamu memberikan partisipasi yang kecil, jika dilakukan secara masif akan memberikan dampak yang signifikan.

Untuk membungkam peredaran buku bajakan, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan ketika akan membeli buku. Berikut beberapa faktor yang perlu kamu perhatikan untuk membedakan buku bajakan dengan buku asli.

Kualitas Fisik Buku

Penampilan fisik buku adalah indikasi pertama yang dapat kamu tangkap ketika akan membelinya. Ada loh penikmat buku yang menyukai pengalaman sensori saat menyentuh sebuah buku baru.

Seperti tebalnya kertas, bentuk sampul, ukuran, berat, aroma kertas, serta hasil cetak yang jernih adalah beberapa hal di antaranya. Apakah kamu salah satu orang yang percaya bahwa kualitas fisik buku menjadi faktor penting bagimu untuk membelinya?

Jika iya, maka buku bajakan nggak akan bisa menawarkan kualitas yang sama dengan buku keluaran resmi. Biasanya, buku bajakan dicetak dengan kertas kualitas rendah yang tipis, berwarna kusam seperti kertas buram. Belum lagi cetakan gambar sampul pada kertas manila biasa, serta penjilidan seadanya sehingga lembarnya mudah lepas.

Harga Buku

Harga buku menjadi salah satu momok yang menyebabkan banyak orang beralih ke buku bajakan. Dengan harga Rp 50.000 saja, kamu bisa mendapatkan buku impor populer. Jika membeli di agen resmi, harganya bisa berkali-kali lipat.

Nggak cuma buku fisik, buku elektronik atau e-book juga menjadi target pembajakan. Bila mampir ke market place populer, maka kamu akan dapat menemukan e-book dijual dengan harga mulai dari Rp 5.000 saja. Laris manis kacang goreng deh buat si pembajak!

Reputasi Toko Penjual dan Penerbit

Pada toko-toko online, kamu dapat mengamati nama yang dipakai oleh penjual. Biasanya para penerbit dan penjual resmi akan memiliki simbol ‘centang biru’ setelah nama toko, sebagai penanda ke-valid-an produk yang dijual. Selain itu, penjual buku asli akan mencantumkan deskripsi buku dengan jelas dan nomor ISBN resmi.

Jika kamu mencari buku impor, membelinya lewat toko buku offline seperti Periplus, Gramedia, dan Kinokuniya bisa menjadi pilihan. Harganya mungkin akan sedikit lebih mahal dari buku yang dijual online. Tapi, keuntungan membeli di toko buku offline adalah kamu dapat mengecek kualitas fisik buku secara langsung.

Penerbit resmi akan mencantumkan nama mereka pada bagian sampul dan halaman dalam dari buku. Selain itu, sebagian juga memiliki stiker hologram sebagai tanda bahwa buku tersebut adalah buku asli.

Kesimpulan

Buku bajakan masih menjadi isu yang menimpa industri literasi. Selama belum ada campur tangan dan aturan yang tegas dari pemerintah, masalah pembajakan masih akan terus menghantui pecinta buku.

Yang dapat kamu lakukan untuk mendukung penulis favoritmu saat ini adalah bijak memilih toko yang menjual karya-karya mereka. Dengan memperhatikan kualitas fisik, harga, dan reputasi penjual, maka sudah turut serta memberantas para penjual nakal.

Yuk, dukung para penulis nasional dan internasional dengan membeli buku asli!

Jika kamu punya pengalaman tertipu oleh buku bajakan, boleh bagi ceritanya di kolom komentar.

Tinggalkan Komentar di Sini