Pentingnya Dialog Tag dalam Penulisan Cerita

Published by

on

Ketika membaca sebuah dialog, apakah kalian pernah memperhatikan cara menulisnya? Misalnya, seperti dialog antara Mahendra dan Bumi, dalam ceritaku ‘Every Three Little Things berikut.

“Sori, momennya cakep banget tadi,” Mahendra beralasan. 

Bumi menghela nafas dan mengeluh, “Dasar, lu, ya. Gue lagi kesel, eh malah ditinggal motret.” 

“Gue kan udah bilang sori,” Mahendra membalas manja. “Lu mau sampai kapan ngambek, sih? Cari makan, yuk! Gue laper!”

Dari kalimat-kalimat di atas, apakah kamu tahu mana yang disebut dengan dialog tag? Yes, kalimat yang tercetak tebal adalah dialog tag yang menemani kalimat langsung.

Dialog tag adalah frase kecil yang mengikuti, mendahului atau menyela dialog dalam cerita. Dalam contoh di atas, dialog tag adalah kalimat yang tercetak tebal.

Sementara itu, kalimat langsung adalah kalimat berupa ungkapan atau pernyataan seseorang tanpa lewat perantara lain. Biasanya, kalimat langsung ditulis dalam tanda petik dua (“) yang diletakkan di awal dan akhir kalimat.

Kalimat langsung dapat berdiri sendiri tanpa perlu diikuti oleh dialog tag. Sementara dialog tag nggak bisa tampil sendirian menjadi kalimat independen.

Fungsi Dialog Tag

Kalau memang dialog tag nggak bisa berdiri sendiri, terus kenapa ia diperlukan ketika kamu membuat dialog?

Ada beberapa alasan kenapa kamu perlu memanfaatkan kehadiran dialog tag dalam narasimu. Alasan-alasan tersebut berkaitan dengan fungsinya, sebagai berikut:

  • Mengidentifikasi Siapa Tokoh yang Sedang Bicara. Percakapan yang terjadi antara dua tokoh akan terasa membingungkan jika tidak ada dialog tag yang menjelaskan siapa yang sedang bicara. Coba simak contoh berikut.

“Wah, aromanya sedap sekali!” seru Adik saat menyelinap ke dapur. “Ibu masak apa hari ini?”

“Masak semur ayam kesukaanmu,” jawab Ibu sambil tersenyum.

“Asyik! Masak yang banyak, ya, Bu!”

Bandingkan dengan kalimat berikut.

“Wah, aromanya sedap sekali! Ibu masak apa hari ini?”

“Masak semur ayam kesukaanmu.”

“Asyik! Masak yang banyak, ya, Bu!”

Pada contoh kedua, sulit untuk mengetahui siapa saja tokoh yang sedang bicara. Bisa saja bukan Adik dan Ibu yang sedang bicara, tapi Adik dengan Ayah. Atau antara Adik dan Kakak yang mengamati ibunya dari jauh, dan lain-lain.

  • Memberikan Konteks Emosional. Sebagai pendamping dari kalimat langsung, dialog tag nggak cuma berfungsi untuk menjelaskan siapa tokoh yang sedang berbicara. Dengan memilih kata yang tepat, kamu juga bisa membangun emosi dalam percakapan tersebut. Contohnya:

“Sepuluh tahun ini aku sudah setia sama kamu,” suara Keinan makin gemetar saat Mason makin menjauh. Pipinya basah oleh air mata yang jatuh satu per satu, seperti hatinya yang semakin retak setiap kali ia bicara. “Tapi sebegitu mudahnya kamu ninggalin aku demi dia!”

Mason menghela nafas. Selalu saja semua ini tentang perasaan Keinan. Dengan suara lirih, Mason membalas, “Harus gimana lagi aku jelasinnya, Kei? Aku udah nggak bahagia sama kamu.”

  • Menguatkan Aksi Tokoh. Bangkitkan imajinasi pembaca lewat dialog tag dengan menjelaskan apa yang sedang tokoh kerjakan saat percakapan berlangsung. Nggak mungkin kan saat mereka sedang bicara, si tokoh hanya berdiri diam tidak bergerak. Cerita akan terasa lebih natural ketika kamu memasukkan sedikit aksi ke dalam dialog tag. Contohnya:

Kakak menarik nafas dalam-dalam, merasakan udara dingin memenuhi kerongkongan, leher hingga dadanya. Ia bergumam pada dirinya sendiri, “Wah, segar banget udaranya.”

Bayangkan jika tidak ada kalimat-kalimat yang menjelaskan apa yang sedang Kakak lakukan ketika ia mengucapkan kata-kata itu. Tentu pembaca akan bingung kenapa Kakak mengucapkan kata-kata tersebut.

  • Menunjukkan Interaksi yang Terjadi Antar Tokoh. Kehadiran dialog tag pada sebuah percakapan juga dapat memperlihatkan kegiatan timbal balik yang sedang terjadi antara dua tokoh.

“Nih, double cheeseburger lo,” ucap Mahendra sambil menawarkan sebungkus cheeseburger hangat kepada pria di sampingnya.

“Makasih, Ndra,” balas Bumi, menerima pesanannya dengan tersenyum. Aroma makanan yang gurih membuat Bumi terlena ketika ia membuka bungkusnya.

“Enak, nggak?” tanya Mahendra. Bumi mengangguk penuh semangat.

  • Menambah Ketegangan. Bagi kamu yang suka menulis cerita misteri, horor, atau thriller, bisa memanfaatkan dialog tag untuk turut membangun suasana. Terkadang, kalimat yang pendek juga dapat membentuk ketegangan dan memberikan nuansa misteri.

“Kamu jangan jauh-jauh dari aku. Awas–” tiba-tiba Kakak berhenti bicara ketika mendengar suara benda jatuh di kejauhan.

“Apa itu kak?” Adik bertanya.

Kesimpulan

Meski keliatannya sepele, kehadiran dialog tag dalam narasi ternyata memiliki banyak peran untuk ceritamu. Oleh karena itu, manfaatkanlah dialog tag untuk menemani dialog antar tokohmu, supaya adegannya lebih dinamis.

Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini