Tips Menulis untuk Atasi Overthinking

Published by

on

Beberapa waktu lalu aku pernah merasa tidak bersemangat untuk bangun pagi dan bangkit dari tempat tidur. Rasanya ingin seharian hanya rebahan saja, bahkan enggan untuk membuka laptop dan mulai menulis. Aku akan melakukan apa saja asalkan nggak duduk di depan meja dan menghadapi draft tulisanku. Mulai dari bersih-bersih rumah, jalan-jalan, nonton TV, pokoknya kegiatan lain yang membuatku sibuk seharian.

Hingga tanpa sadar aku sudah melewatkan waktu selama berhari-hari, bahkan sampai 2 minggu tidak menulis apapun. Yang tersisa hanyalah rasa menyesal dan kecewa sama diri sendiri karena aku sudah membuang waktu. Waktu yang seharusnya bisa aku manfaatkan untuk menulis dan menyunting tulisan malah aku gunakan untuk melakukan hal lain.

Setelah merasa lebih tenang, akupun mulai mencari akar masalahnya. Sepertinya aku merasa minder melihat teman-teman sesama penulis yang tiba-tiba saja sudah memenangkan macam-macam lomba. Mereka yang bukunya sudah diterbitkan oleh penerbit besar. Sementara aku belum menghasilkan apa-apa.

Rasa iri dan rendah diri itu justru membuatku stres, padahal aku sudah berusaha untuk menulis setiap hari. Karena aku terus mengejar validasi dari orang lain, aku merasa kecewa karena tidak juga mendapatkannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, usahaku memang belum sekeras mereka.

Aku malah sibuk menyalahkan keadaan dan nggak mau disiplin membuat karya secara konsisten. Aku jadi overthinking dan terus menunda tulisan yang seharusnya bisa aku bagikan kepada orang lain.

Semenjak itu, aku bertekad untuk mendorong diriku terus berkarya meskipun hasilnya tidak menakjubkan seperti orang lain. Karena kerja keras yang aku lakukan, harusnya dapat aku nikmati juga prosesnya, kan?

Nah, bagi kamu yang masih terjebak dalam overthinking dan pikiran-pikiran yang nggak jelas, coba deh ikutin tips berikut.

Menulis Bebas

Supaya kamu tidak terjebak dalam pikiran sendiri, salurkan rasa yang tersimpan dengan menulis bebas. Yang dimaksud dengan menulis bebas adalah menuangkan segala ide dan pikiran dalam tulisan, tanpa memedulikan proses koreksi.

Agar terasa lebih seru, kamu dapat menggunakan timer saat kamu sedang menulis bebas. Misalnya, kamu harus dapat menuliskan semua ide dalam waktu 30 menit.

Tidak hanya dengan mengetik, kamu juga dapat melakukan journaling pada buku catatan tersendiri. Simpan tulisanmu dengan rapi, karena siapa tahu kamu dapat membaca tulisan itu kembali dan menjadikannya ide cerita.

Batasi Revisi

Menurutku, menyelesaikan draft pertama adalah salah satu hal paling memuaskan bagi seorang penulis. Dalam draft pertama inilah semua ide dapat tertuang, terasa mentah tapi murni tanpa polesan. Setelah semua idemu tertuang dalam draft pertama, hal berikutnya yang dapat kamu lakukan adalah melakukan revisi.

Proses revisi adalah kegiatan mengoreksi kesalahan yang terjadi dalam tulisan, baik dalam segi teknis ataupun diksi. Tapi, proses ini dapat menjadi momok tanpa ujung bagi seorang penulis yang tidak ingin karyanya mempunyai cela. Kamu fokus ingin membuat karya yang dikagumi oleh pembaca dan nggak ingin namamu dikenal sebagai penulis yang jelek.

Kamu jadi sibuk bolak-balik menyunting tulisan, karena kamu nggak pernah percaya diri dengan apa yang kamu tulis.

Ingat ya, melakukan kesalahan adalah hal yang lumrah sebagai manusia. Dan membuat karya yang 100% sempurna sejak awal adalah hal yang tidak mungkin.

Bahkan, setelah mengunggah tulisanmu pun pasti masih saja ada kesalahan yang nantinya dapat kamu temukan. Mungkin susunan kalimatmu tidak tepat, ada kesalahan tanda baca, atau ada kesalahan penggunaan kata. Semua hal tersebut dapat dikoreksi agar tulisanmu lebih baik dari sebelumnya.

Supaya kamu nggak sibuk mengoreksi tulisanmu terus, tentukanlah batasan. Misalnya, secara keseluruhan, kamu hanya dapat merevisi tulisan sebanyak 3 kali. Pertama saat draft pertama telah rampung. Kedua saat bersiap mengunggah bab baru. Ketiga saat akan mengirimkan naskah ke penerbit. Setelah itu, kamu tidak akan mengoreksi tulisanmu lagi.

Dalam proses penyuntingan ini, cobalah untuk fokus satu hal saja. Misalnya kamu hanya memperbaiki tanda baca, susunan kalimat atau mengganti diksi dengan yang lebih tepat. Pastikan juga kamu meluangkan satu hari khusus untuk menyunting, sehingga pikiranmu tidak terbagi untuk mengerjakan hal lain.

Kalau kamu tidak puas dengan tulisanmu, yang dapat kamu lakukan ya membuat karya baru!

Gunakan Prompt

Dalam penulisan fiksi, prompt adalah pernyataan, pertanyaan atau skenario yang didesain untuk menginspirasi penulis ketika mengalami kebuntuan ide. Bentuk prompt bermacam-macam, ada yang berbentuk kalimat, paragraf, bahkan hanya beberapa kata saja untuk memancing kreativitas.

Dalam bukunya ‘Creative Writing‘, A.S. Laksana mengenalkan metode tiga kata yang dapat digunakan untuk membuat sebuah cerita secara bebas. Saat ini juga banyak aplikasi menulis yang menawarkan prompt gratis yang dapat kamu gunakan untuk inspirasi. Selain itu, bergabung dengan komunitas dan event menulis juga dapat melatihmu untuk lebih banyak menulis.

Bahkan di reedsy.com ada kompetisi menulis cerita pendek berhadiah $250 (sekitar Rp 4.100.000) jika kamu berlangganan buletin mereka. Kamu dapat mengirimkan cerita sesuai prompt yang diberikan dan dikirimkan dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan.

Tentukan Gol yang Realistis

Menurutku, nggak ada impian yang nggak dapat tercapai. Semua hal dapat kamu lakukan ketika kamu membuat rencana yang matang dan realistis. Kamu ingin menyelesaikan sebuah novel dalam waktu 3 bulan? Bisa aja. Yang perlu kamu lakukan adalah membuat jadwal realistis yang dapat kamu penuhi setiap harinya.

Misalnya, untuk dapat menyelesaikan satu buah bab novel, kamu perlu menulis sebanyak 2000 kata. Jika rasanya tidak mungkin untuk menulis kata sebanyak itu, maka bagilah menjadi porsi yang lebih kecil. Contoh, kamu dapat menargetkan untuk menulis 500 kata saja per hari yang kamu kerjakan selama 4 hari. Jika saat kamu coba masih terasa berat, kurangi jumlah kata tersebut menjadi 200-300 kata per hari.

Dalam menulis, yang kamu butuhkan bukanlah kuantitas, tapi kualitas. Lebih baik menulis sedikit tapi kamu dapat fokus saat menulisnya, daripada menulis banyak kata tapi membuatmu tertekan.

Nggak perlu merasa rendah diri jika kamu memulai dari jumlah kata yang sedikit. Asalkan kamu konsisten menulis, lama kelamaan pasti kamu dapat meningkatkan kemampuanmu. Mulailah dari hal kecil dulu.

Baca Keras-keras

Salah satu cara yang aku sukai belakangan ini, apalagi saat sedang melakukan editing, adalah dengan membaca tulisanku keras-keras. Dengan bersuara, kamu dapat melihat tulisanmu dalam perspektif yang baru. Misalnya, kamu dapat menemukan pola kalimat yang janggal, tanda baca yang tidak tepat, atau membuat dialog terasa lebih natural.

Minta Feedback

Meminta saran dan kritik dari orang lain mungkin hal yang menakutkan. Tapi, hal ini efektif untuk memacu dirimu lebih bersemangat untuk menulis. Mulailah dengan meminta bantuan dari orang terdekatmu, seperti saudara atau sahabat. Masukan dari mereka mungkin dapat membantumu bertumbuh sebagai seorang penulis.

Istirahat Sejenak

Setelah menguras ide dari otak, duduk berjam-jam di depan meja untuk mengetik atau menulis, kini waktunya kamu untuk bersantai. Kamu nggak harus kok sibuk sepanjang waktu. Kepalamu nggak harus dipenuhi tentang rencana dan jadwal yang mungkin belum terpenuhi. Kalau kamu lelah, ya, istirahat saja.

Tutup dulu buku catatan, matikan ponsel atau laptop, lalu luangkan waktu untuk rileks sejenak. Hal ini juga dapat kamu lakukan ketika kamu sudah mencapai target tertentu.

Misalnya, kamu sudah menargetkan untuk menulis 2000 kata dalam 5 hari. Setelah target tersebut tercapai, hadiahi dirimu dengan hal-hal menyenangkan kecil sebagai penghargaan terhadap usaha yang telah kamu lakukan. Contoh, pergi ke kafe favorit, makan snack, atau membeli pensil lucu yang kamu lihat sebelumnya.

Sekecil apapun progres yang udah kamu lakukan, berhak untuk dirayakan. Jadi, jangan sampai lupa untuk menghargai kemenangan dirimu sendiri, ya!

Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini