Menurutku, proses editing atau menyunting draft tulisan adalah langkah paling melelahkan dalam menulis. Rasanya pengen banget dalam sekali duduk bisa bikin tulisan yang udah sempurna dan langsung bisa diunggah hari itu.
Meski udah serius menekuni bidang kepenulisan fiksi selama kurang lebih 2 tahun, ternyata aku masih menemukan kekurangan dalam tulisanku sendiri. Mulai dari penggunaan diksi, tata bahasa, sampai mentok nggak bisa bikin kalimat yang bagus.
Setelah menyimak banyak diskusi, mengikuti kelas editing, dan mengamati tulisan penulis lain, ternyata memang takdir manusia itu harus terus belajar. Mencoba meraih kesempurnaan pada setiap karya yang aku buat itu nggak mungkin. Kalau aku terlalu lama berkutat pada keinginan untuk menghasilkan sebuah masterpiece pun, yang ada malah nggak menghasilkan apapun.
Makanya belakangan ini aku mencoba fokus menyisihkan waktu untuk belajar editing atau menyunting tulisan sendiri. Kalau aku bisa buat draft kasar sebuah cerita dalam waktu 1-2 jam, untuk proses editing bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Dari proses editing juga aku menemukan banyak kekurangan dan kelemahan pada tulisanku. Tapi, dengan meluangkan waktu khusus untuk menyunting tulisan sendiri, aku jadi punya kesempatan untuk memperbaiki ceritaku. Aku dapat menemukan plot hole, serita mengembangkan alur dan tokoh dalam ceritaku di waktu yang bersamaan.
Memang, ya, berproses itu nggak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Semuanya butuh kesadaran dan kemauan besar untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri kita yang sebelumnya.
Kalau kamu adalah penulis yang sedang berproses sama seperti aku, yuk mulai menyisihkan waktu untuk editing tulisan sendiri juga! Apalagi kalau kamu penulis pemula yang masih memiliki keterbatasan biaya, jadi nggak bisa menyewa jasa editor untuk merapikan tulisanmu.
Prosesnya memang akan memakan waktu yang lebih panjang. Tapi, bisa menyunting tulisan sendiri juga bermanfaat buat dirimu sendiri. Sambil menyelam minum air, kamu jadi bisa memperkaya diri dengan ilmu tentang kepenulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Buat yang mau belajar menyunting tulisan sendiri, yuk simak langkah-langkahnya berikut!
Daftar Isi
- Rehat Sejenak dari Tulisan Sendiri
- POV Pembaca: Baca Tulisanmu
- Periksa Garis Besar Cerita
- Editing Per Adegan
- Editing per Kalimat
- Proofreading
- Baca Tulisanmu Keras-keras
- Minta Feedback
- Revisi Kembali
- Tips Tambahan
- Kesimpulan
Rehat Sejenak dari Tulisan Sendiri
Baru mau mulai kok udah disarankan rehat, sih?
Eits rehat di sini bukan berarti kamu istirahat tanpa punya draft tulisan yang perlu disunting, ya.
Setelah kamu selesai menumpahkan semua ide cerita dalam draft pertama, hal yang perlu kamu lakukan adalah istirahat. Menuangkan isi pikiran dalam wujud tulisan itu melelahkan, loh. Secara nggak sadar, kamu udah mendorong otak untuk bekerja keras menuangkan ide dan menulis di saat yang bersamaan.
Supaya kamu tetap fokus saat menulis draft, bisa coba Teknik Pomodoro yang caranya aku jelaskan di artikel berikut, ya.
Sebelum memulai proses editing, jauhi draft pertamamu selama 2-3 hari, dan gunakan waktu tersebut untuk menyegarkan otak. Kalau kamu langsung masuk ke proses editing setelah selesai membuat draft, justru bikin kamu makin jenuh dan malas untuk memperbaikinya.
Kerjakan hal-hal yang menyenangkan atau siapkan self-reward setelah draftmu selesai. Setelah kamu merasa siap, waktunya kamu fokuskan jiwa dan raga untuk mulai menyunting draft naskah.
POV Pembaca: Baca Tulisanmu
Setelah menyempatkan diri untuk beristirahat, sekarang waktunya kamu siap untuk mulai menyunting tulisan. Untuk memulai, posisikan dirimu sebagai seorang pembaca yang sedang membaca sebuah cerita tersebut untuk pertama kalinya.
Dengan memakai kacamata seorang pembaca, kamu akan dapat melihat lebih jelas kekurangan dalam tulisanmu. Bacalah tulisanmu secara perlahan sambil memperbaikinya. Tandai bagian-bagian yang perlu ada perbaikan.
Periksa Garis Besar Cerita
Setelah kamu menemukan berbagai kekurangan pada ceritamu, kini waktunya melakukan editing besar-besaran. Beberapa poin yang dapat kamu lakukan saat editing naskah secara keseluruhan adalah sebagai berikut:
- Periksa kembali apakah ceritamu masih konsisten dengan unsur-unsur intrinsik yang udah kamu buat sebelumnya.
- Periksa bagaimana kelengkapan alur, penokohan atau latar di dalam cerita.
- Cek apakah ada bagian yang nggak konsisten dan melenceng dari kerangka cerita yang udah kamu buat.
- Cek juga dialog antar tokoh, apakah terasa natural atau tidak.
- Perhatikan juga bagaimana kecepatan (pacing) ceritamu, apakah setelah pembukaan tiba-tiba sudah masuk ke konflik utama.
- Pertimbangkan jika perlu adegan tambahan supaya transisi alur terasa lebih mulus.
- Salah satu metode yang diajarkan oleh kak Tika Widya dalam kelas editing-nya adalah menemukan mid point cerita. Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh halaman, lalu temukan halaman paling tengahnya. Di halaman paling tengah ini seharusnya kamu sudah masuk ke dalam konflik utama. Jika belum, berarti ada kemungkinan bagian awalmu terlalu panjang, atau bagian akhir cerita terlalu pendek.
- Kamu bisa mengecek apakah bagian penyelesaiannya terlalu singkat dan nggak masuk akal untuk keseluruhan cerita.
- Lalu, isi bagian-bagian cerita jika rasanya ada plot holes atau adegan yang nggak nyambung satu sama lain.
Editing Per Adegan
Sebuah alur cerita fiksi terbagi dalam 5 bagian besar, yaitu:
- Eksposisi atau Pengenalan, yaitu bagian pembuka di mana penulis memperkenalkan tokoh, latar, serta kejadian awal yang membangun cerita.
- Konflik, adalah masalah yang dihadapi si tokoh utama serta reaksi atau tindakan si tokoh untuk menghadapinya.
- Klimaks, yaitu puncak dari ketegangan di mana si tokoh merasa semua harapan rasanya sirna. Mau tidak mau, si tokoh harus melakukan tindakan drastis untuk mengubah keadaan.
- Resolusi atau Penyelesaian, yaitu bagian di mana seluruh konflik utama terselesaikan. Si tokoh akan mengalami perubahan besar dalam hidupnya atau menjalani konsekuensi dari pilihannya.
- Koda atau Penutup, adalah bagian tambahan dari sebuah alur di mana menjadi akhir dari seluruh rangkaian cerita. Bagian ini dapat berupa epilog atau pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis.
Setiap bagian dari alur di atas perlu kamu periksa apakah ceritamu masih konsisten dari awal hingga akhir. Jika kamu menemukan plot hole, segera isi dengan adegan yang perlu ditambahkan. Usahakan untuk tidak merombak inti cerita terlalu banyak.
Editing per Kalimat
Setelah melalui proses editing dari bagian terbesar, kini waktunya kamu memeriksa draft ke bagian terkecil: kalimat. Periksa apakah setiap paragraf hingga per kalimat saling berkaitan satu sama lain. Apakah kalimat yang kamu gunakan efektif atau hanya sekedar mengisi sebuah paragraf agar terlihat panjang.
Cek juga apakah dialog setiap tokohmu konsisten dengan watak yang udah kamu bentuk dan dapat kamu bedakan satu sama lain. Periksa apakah ada kalimat yang masih dapat kamu deskripsikan lebih detil untuk memperkuat suasana (show, don’t tell). Perlihatkan juga sisi emosi dan reaksi tokoh lebih mendalam.
Proofreading
Proofreading adalah proses koreksi pada diksi, tata cara tulisan, ejaan, dan tanda baca. Perhatikan apakah tulisanmu sudah sesuai dengan KBBI dan kaidah EYD V, sebagai aturan penulisan bahasa Indonesia yang berlaku saat ini.
Meski kamu tidak harus langsung menguasai seluruhnya, penting bagi seorang penulis untuk dapat menulis dengan baik. Apalagi jika kamu berencana menjadi seorang penulis profesional dan ingin mengajukan karya ke penerbit.
Baca Tulisanmu Keras-keras
Salah satu metode yang menurutku sangat membantu dalam proses editing adalah membaca tulisanmu sendiri keras-keras. Dengan melakukannya, kamu dapat melihat apakah tulisanmu enak dibaca, terasa terlalu panjang, atau ada susunan kata yang janggal.
Biasanya, aku memastikan kalimat yang aku buat harus terasa natural seperti bernafas. Rasakan juga apakah jeda per kata terasa alami untuk diucapkan. Bila perlu, baca kalimat yang terasa janggal tersebut berulang-ulang. Potong kalimat menjadi lebih pendek jika makna kalimatnya terasa membingungkan.
Untuk mengecek bagian dialog, cobalah baca kalimatnya dengan intonasi yang alami. Perhatikan juga penggunaan tanda baca seperti koma, titik, tanda seru dan tanda tanya apakah sudah benar.
Minta Feedback
Setelah selesai melakukan editing, mintalah pendapat dari orang-orang terdekat yang dapat kamu percaya. Baik ke teman, saudara, sesama penulis maupun beta reader yang udah kamu tunjuk. Sudut pandang orang lain kadang dapat menawarkan wawasan baru yang tidak kamu pikirkan sebelumnya.
Revisi Kembali
Setelah menerima semua saran dan kritik tersebut, implementasikan poin-poin yang kamu rasa dapat memperbaiki tulisanmu. Jangan takut untuk menulis ulang bagian yang masih perlu perbaikan.
Tips Tambahan
Buat Checklist
Checklist dapat membantu banget, apalagi jika kamu merasa masih memiliki kelemahan pada skill tertentu. Misalnya, kamu kurang teliti dalam menggunakan tanda baca. Atau kamu masih salah dalam menggunakan kata ‘di’ yang benar dalam kalimat. Maka buatlah checklist seperti ‘periksa tanda koma’, ‘periksa penggunaan tanda seru’, dan lain-lain. Tempel catatan checklist tersebut pada area yang mudah terlihat, supaya kamu selalu mengingatnya.
Buat File Baru untuk Setiap Draft Baru
Agar dapat melacak setiap perubahan pada draft tulisanmu, kamu bisa menduplikasi dokumen dan menamainya berbeda dengan file sebelumnya.
Misalnya, draft pertama kamu beri nama ‘Draft 0’ dan untuk revisi pertama kamu beri nama ‘Draft Revisi 1’. Hal ini bisa berguna supaya kamu dapat mengecek perubahan apa saja yang terjadi dan memastikan ceritamu tetap konsisten.
Kesimpulan
Editing atau penyuntingan tulisan adalah proses yang panjang dan lama. Memang rasanya melelahkan, tapi karyamu berhak untuk tampil terbaik sebelum diterima oleh pembaca. Luangkanlah waktu dan energi untuk melalui proses editing, niscaya kamu akan dapat membuat karya yang lebih baik.
Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini