Saat sedang membaca unggahan cerita seseorang di Instagram, aku merasakan kejanggalan pada tulisannya. Bukan karena ceritanya tidak bagus, tetapi karena ada cara penulisan yang kurang tepat.
Hal tersebut bukan terjadi sekali, tapi beberapa kali aku temukan kesalahan yang sama dilakukan oleh orang yang berbeda. Menurutku hal tersebut sangat disayangkan, apalagi banyak penulis muda berbakat di luar sana yang mengunggah tulisan yang menarik.
Salah satu pet peeve atau hal remeh yang sering menggangguku saat membaca tulisan seseorang adalah penggunaan ‘di’ yang tidak tepat. Contohnya saja, lagi enak-enaknya baca cerita, tiba-tiba aku terganggu oleh penulisan ‘disuruh’ yang ditulis sebagai ‘di suruh’.
Sebagai seorang penulis yang baik, memahami dan mengaplikasikan aturan yang tercantum dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) adalah sebuah kewajiban. Apalagi jika kamu memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis profesional.
Bila hal tersebut tidak sengaja dilakukan sekali atau dua kali, tidak masalah. Tapi, bagaimana jika kesalahan tersebut tidak segera diperbaiki? Bisa-bisa akan menjadi kebiasaan buruk yang sulit hilang. Yang ditakutkan adalah kebiasaan tersebut akan ditiru oleh orang lain sehingga akan semakin banyak orang yang melakukan kesalahan yang sama.
Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, sediakan waktu untuk membaca EYD V, yaitu ketentuan penulisan dalam bahasa Indonesia yang berlaku saat ini.
Jika kamu salah satu penulis yang masih sering melakukan kesalahan dalam menggunakan kata ‘di’ dalam kalimat, yuk simak penjelasannya berikut!
‘Di’ Sebagai Imbuhan
Imbuhan adalah bubuhan yang ditambahkan pada kata dasar untuk membentuk kata baru. Imbuhan dapat berupa awalan, sisipan maupun akhiran.
Contoh:
- kata dasar makan, mendapat akhiran -an, menjadi makanan.
- kata dasar tulis, mendapat awalan me-, menjadi menulis.
- kata dasar kilau, mendapat sisipan -em-, menjadi kemilau.
Dalam penulisan kalimat, ‘di-‘ dapat digunakan sebagai awalan dari sebuah kata, yang membentuknya menjadi predikat kalimat pasif.
Kalimat pasif adalah bentuk kalimat di mana subyek dikenai tindakan oleh obyek. Pola kalimatnya adalah Obyek + Predikat + Subyek. Pada penulisan ini, awalan di- ditulis menyambung dengan kata kerja, tanpa spasi.
Contoh:
- Kue bolu dimakan oleh Andi
- Buku cerita anak dibaca oleh Budi
‘Di’ Sebagai Kata Depan
Kata ‘di’ yang difungsikan sebagai kata depan atau preposisi, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Biasanya ‘di’ sebagai kata depan berfungsi untuk menunjukkan tempat, arah atau lokasi dalam sebuah kalimat.
- di + tempat/lokasi
Contoh: di sekolah, di rumah, di Jakarta, di dalam lemari, dan lain-lain.
- di + arah
Contoh: di atas, di bawah, di sebelah kanan, di sisi timur, dan lain-lain.
‘Di’ pada Judul
‘Di’ yang berfungsi sebagai imbuhan dan menjadi bagian dari sebuah kata, huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital (huruf besar).
Contoh: Mata yang Enak Dipandang oleh Ahmad Tohari
Sementara itu, ‘di’ yang berfungsi sebagai kata depan atau preposisi pada judul, ditulis dengan huruf kecil semua. Preposisi lain seperti ‘ke’, ‘dari’, ‘pada’, ‘yang’, dan lainnya, juga ditulis dengan huruf kecil.
Contoh: Pelangi di Matamu oleh Jamrud

Tinggalkan Komentar di Sini