Menulis sebuah cerita fiksi dapat dilakukan oleh siapa saja. Mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Tidak hanya rentang usia penulis saja yang luas, tapi juga pembacanya pun tidak mengenal batas usia.
Bila kamu ingin menjadi seorang penulis cerita anak, tentu kamu perlu memilih tema-tema umum seputar moral, keluarga, atau persahabatan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Bagi yang ingin menulis cerita remaja, kamu dapat mengangkat tema-tema yang lebih bervariasi, mulai dari romansa, fantasi, misteri, dan lain-lain dengan latar cerita yang dapat dipahami oleh para remaja.
Dari sini, tentu dapat dilihat bahwa seorang penulis perlu memiliki kepekaan dalam menentukan karya apa yang ingin mereka tulis, sesuai dengan target pembacanya. Semakin kompleks cerita yang kamu buat, maka semakin dewasa target pembaca yang ingin kamu capai.
Tapi, cerita bagaimana sih yang dikatakan kompleks? Bisa jadi, cerita tersebut mengandung tema-tema berikut:
- isu politik, sosial, budaya
- hubungan antar manusia dewasa yang rumit
- isu kekerasan, tindak kejahatan, hingga kematian
- isu kontroversial lainnya yang ramai dibicarakan
- hal-hal tabu yang dapat membangkitkan trauma seseorang
Jika kamu ingin membuat sebuah cerita yang mengandung unsur-unsur di atas, maka diperlukan riset yang mendalam, kemampuan analisa serta pengaturan bahasa yang tepat dalam tulisanmu.
Agar ceritamu sampai ke sasaran dengan tepat, maka kamu dapat mencantumkan rating dan trigger warning di awal, untuk menghindari calon pembaca di bawah umur yang mungkin menemukan karyamu.
Daftar Isi
- Pengertian Rating dan Trigger Warning
- Kenapa Saya Perlu Mencantumkan Rating dan Trigger Warning?
- Daftar Rating Cerita Fiksi
- Daftar Trigger Warning Cerita Fiksi
- Kesimpulan
Pengertian Rating dan Trigger Warning
Rating adalah klasifikasi atau ranking pada cerita fiksi yang mengindikasikan target pembaca, berdasarkan isi cerita yang disajikan. Memahami rating yang ditampilkan di awal cerita akan membantu calon pembaca untuk memilih dan memilah bacaan mana yang cocok untuk mereka.
Biasanya, klasifikasi rating didasarkan pada rentang usia pembaca. Rating terdapat pada sampul halaman atau ditampilkan bersama profil cerita jika diunggah pada platform digital.
Trigger Warning adalah kata atau frasa tertentu yang mewakili sebuah topik, sebagai peringatan dini karena cerita tersebut mengandung adegan yang dapat membangkitkan stres hingga trauma kepada calon pembaca.
Trigger Warning seringkali disingkat sebagai TW atau TW!, yang kemudian diikuti oleh kata atau frasa tertentu. Sama seperti rating, TW dapat ditampilkan di awal profil cerita bagi yang mengunggah karya di platform digital.
Kenapa Saya Perlu Mencantumkan Rating dan Trigger Warning?
Setiap orang memiliki hak yang sama untuk membaca sebuah buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Tapi, tidak semua orang menjalani pengalaman hidup yang sama. Ada orang yang kehidupannya normal-normal saja, dan ada pula yang melewati fase hidup penuh dengan tantangan, kekerasan, hingga trauma.
Tidak semua orang pula yang telah berhasil berdamai dengan masa lalunya. Bisa saja sebuah kejadian di televisi, buku yang ia baca, hingga hanya dengan mendengar cerita dapat membangkitkan ingatan tentang kisah masa lalu yang kelam.
Sebagai seorang penulis, kamu pun memiliki tanggung jawab moral untuk membagikan informasi yang relevan serta menjaga kesehatan mental calon pembacamu. Dengan memberikan peringatan dini di awal, maka kamu secara tidak langsung telah menunjukkan kepedulian kepada mereka yang hendak membaca karyamu agar lebih bijak dalam memilih bacaan.
Terlepas dari pilihan mereka untuk tetap lanjut membaca karyamu, setidaknya kamu telah meninggalkan jejak sebagai seorang penulis yang memiliki empati dan moral di mata orang lain.
Daftar Rating Cerita Fiksi
Beberapa rating atau klasifikasi tulisan yang sering ditemukan pada cerita fiksi, antara lain:
- G (General Audience): rating atau klasifikasi yang ditujukan kepada pembaca umum, tanpa memandang rentang usia. Biasanya cerita yang disajikan mengangkat topik-topik sederhana seperti kehidupan, romansa fluff, persahabatan, dan lain-lain.
- PG (Parental Guidance): rating atau klasifikasi yang ditujukan kepada pembaca tanpa memandang rentang usia, tapi membutuhkan pengawasan orang tua. Biasanya dapat mengandung topik dan konflik yang lebih rumit, di mana pembaca disarankan untuk meminta izin dari orang tua sebelum membacanya.
- PG-13 (Parents Strongly Cautioned): rating atau klasifikasi yang ditujukan kepada remaja usia dini yaitu 13 tahun ke atas. Biasanya mengandung adegan kekerasan, hubungan antar tokoh yang kompleks, topik dewasa, tapi tidak mengandung adegan dewasa yang eksplisit.
- R (Restricted): rating atau klasifikasi yang ditujukan kepada pembaca dewasa, biasanya hingga batas usia kurang dari 17 tahun. Mengandung adegan kekerasan yang lebih eksplisit, adegan dan topik dewasa yang lebih rumit, bahasa-bahasa yang kasar. Dibutuhkan pengawasan dari orang tua bagi pembaca di bawah umur.
- NC-17 (Adults Only) / M (Mature): rating atau klasifikasi yang ditujukan kepada pembaca dewasa pada rentang usia 17 tahun ke atas. Terdapat adegan-adegan dewasa (kekerasan fisik, seksual, SARA, pembunuhan, dll) yang sangat eksplisit, dengan tokoh-tokoh berusia dewasa. Pada rating ini, hindarilah menulis tokoh utama yang masih remaja untuk menghindari isu eksploitasi remaja.
- NC-21 (Adults Over 21): rating atau klasifikasi yang ditujukan kepada pembaca usia 21 tahun ke atas. Biasanya mengandung topik-topik tabu dan dewasa yang dapat memicu trauma pembaca.
Daftar Trigger Warning Cerita Fiksi
Berikut adalah daftar trigger warning yang sering ditemukan dalam cerita fiksi.
- Kekerasan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang kekerasan fisik, emosional, dan/atau psikis.
- Pelecehan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang pelecehan secara fisik, emosional, seksual, dan/atau psikis.
- Konten Seksual: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang kegiatan seksual yang eksplisit atau aktivitas yang mengarah pada kegiatan seksual.
- Pemerkosaan/Pencabulan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang pemerkosaan atau pencabulan.
- Self-Harm: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang aktivitas menyakiti/melukai diri sendiri
- Bunuh Diri: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang bunuh diri atau pikiran untuk melakukan bunuh diri.
- Penyakit Mental: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang masalah-masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, PTSD, dan lain-lain.
- Penyalahgunaan Obat-obatan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang penggunaan narkoba atau alkohol.
- Eating Disorders: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang kelainan pola makan.
- Kematian/Sekarat: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang kematian atau kondisi sekarat, termasuk bila ada binatang peliharaan dalam cerita.
- Berduka/Kehilangan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang tokoh yang melalui masa duka cita mendalam/kehilangan sosok penting.
- Kekerasan pada Anak: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang kekerasan yang melibatkan anak-anak.
- Kekejaman pada Binatang: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang penyiksaan hewan.
- SARA: adanya penggambaran adegan atau diskusi yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan.
- LGBT+: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang LGBT+, termasuk diskriminasi dan kekerasan kepada kelompok LGBT+.
- KDRT: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, baik fisik, emosional dan psikis.
- Penculikan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang penculikan.
- Trauma Medis: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang prosedur medis yang eksplisit. misalnya: kemoterapi, pengambilan sum-sum, tindakan operasi, dll.
- Peperangan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang peperangan atau pertempuran, baik yang melibatkan militer maupun sipil.
- Penganiayaan: adanya penggambaran adegan atau diskusi tentang berbagai penyiksaan/penganiayaan yang menyebabkan penderitaan secara fisik.
Kesimpulan
Setiap penulis memiliki kebebasan untuk menyalurkan kreativitasnya dalam tulisan mereka. Namun, semakin kompleks cerita yang mereka buat, apalagi jika mengangkat isu-isu penting hingga tabu, maka penulis memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi pembacanya yang mungkin memiliki trauma tentang isu tersebut.
Oleh karena itu, penulis dapat mencantumkan rating dan trigger warning di awal tulisan, sebagai peringatan dini kepada pembacanya. Rating dan TW yang disebutkan tidak hanya dapat mengerucutkan target pembaca, tapi juga mengedukasi calon pembaca untuk bijak dalam memilih bacaan.

Tinggalkan Komentar di Sini