Dalam membuat sebuah novel, bab pertama adalah bagian penting yang perlu menjadi perhatian seorang penulis. Dengan membuat sebuah bab pertama yang menarik, maka pembaca akan tertarik untuk terus mengikuti kisah fiksi yang kamu buat.
Tapi, salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh seorang penulis adalah memasukkan kalimat klise pada awal paragraf. Kalimat klise dapat diartikan sebagai ide atau gagasan yang disusun dalam kalimat, terlalu umum digunakan, dan sering ditemukan di awal cerita. Penggunaan kalimat klise ini dapat membuat penulis kehilangan momentum dalam menyampaikan ide cerita.
Kalimat klise tidaklah selalu buruk. Tapi, terlalu sering menggunakan kalimat ini di awal cerita akan membuatmu terlihat sebagai penulis amatir yang tidak memiliki karakter.
Menggunakan kalimat klise dapat berakibat fatal dalam mempertahankan rasa penasaran pembaca untuk terus melanjutkan cerita. Oleh karena itu, sebaiknya kamu mulai berlatih untuk menghindari kebiasaan menggunakan kalimat klise. Gantilah kalimat tersebut dengan kalimat-kalimat lain yang lebih membuat pembaca penasaran.
Daftar Isi
- Kenapa Sih Bab Pertama itu Penting?
- Kenapa Aku Harus Menghindari Kalimat Klise?
- Contoh Kalimat-Kalimat Klise
- Tips Membuat Kalimat Pembuka Anti Klise
- Kesimpulan
Kenapa Sih Bab Pertama itu Penting?
Sama halnya seperti saat kamu bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya. Kamu nggak mau dong meninggalkan kesan yang buruk. Orang bilang, first impression is a must! Kalau kamu bisa memberikan kesan pertama yang baik, pasti kamu akan lebih diingat oleh orang itu.
Agar pertemuan pertama kalian tidak terasa canggung, tentu kamu harus menunjukkan sikap, kata-kata atau perbuatan yang membuatnya merasa nyaman. Mulai dari cara menyapa yang sopan, sikap ramah, tutur bahasa, topik pembicaraan yang asyik, bahasa tubuh yang positif, dan lain-lain.
Bagi seorang penulis, bab pertama adalah senjata first impression yang sebaiknya meninggalkan kesan mendalam kepada pembaca. Apalagi kemungkinan pembaca tulisanmu bukanlah kerabat atau keluarga yang kamu kenal. Mereka adalah pembaca baru yang tidak mengenalmu, tapi tertarik untuk membaca karyamu.
Meninggalkan kesan yang kuat pada bab pertama akan dapat membantumu mendapat pembaca baru yang berpotensi menjadi pembaca setia.
Membuat bab pertama juga bukan berarti kamu memamerkan kemampuan berbahasa dan menulismu dengan begitu indah dan kompleksnya.
Bisa-bisa, pembacamu malah ketakutan lebih dulu karena tidak memiliki pengalaman diksi yang sama. Sebagai penulis, kamu harus pintar-pintar mengatur susunan kalimat dan alur yang bikin pembaca ingin membalik halaman. Hal-hal lain seperti pilihan kata, gaya bahasa, nuansa, latar, bocoran konflik dan informasi penting, atau foreshadowing menjadi detil yang perlu kamu pikirkan juga.
Kenapa Aku Harus Menghindari Kalimat Klise?
Kalimat klise adalah susunan kalimat yang sering dipakai oleh penulis dalam mendeskripsikan tokoh, situasi atau latar dari sebuah cerita.
Samal halnya ketika kamu menyuguhkan sepiring nasi goreng buatanmu kepada tamu yang datang. Bagi yang pertama kali mencicipi, tentu akan mengatakan bahwa nasi goreng buatanmu sangat enak. Tapi, bagi yang sudah bolak-balik disuguhkan nasi goreng yang sama, tentu tidak akan lagi menganggap hidangan itu spesial. Masih enak sih untuk disantap, tapi kalau bisa makan hidangan lain tentu akan lebih memuaskan lidah.
Nah, nasi goreng dalam perumpamaan di atas memiliki efek yang sama jika kamu memasukkan kalimat klise yang itu-itu saja. Kalimat klise yang kamu tulis mungkin nggak jelek, tapi pembacamu bisa jadi pernah menemukan kalimat serupa pada cerita lain.
Beberapa dampak yang dapat terjadi jika kamu menggunakan kalimat klise ke dalam bab pertama adalah:
- Pembaca merasa bosan dan tidak tertarik untuk lanjut membaca ceritamu
- Kamu tidak memiliki warna dan ciri khas yang unik sebagai seorang penulis
- Suasana, latar dan tokoh jadi terlihat tidak menarik di mata pembaca
- Pembaca tidak merasa terikat secara emosional saat membaca ceritamu
- Kamu kehilangan momentum untuk memperkenalkan konflik
- Pembaca tidak dapat memahami tema cerita yang kamu tawarkan, entah itu romansa, tragedi, komedi, misteri, dan lain-lain.
Contoh Kalimat-Kalimat Klise
Berikut adalah beberapa contoh kalimat klise yang mungkin sering kamu temukan dalam karya-karya fiksi.
- “Pada suatu hari, di sebuah negeri antah berantah…”
- “Suara alarm yang berbunyi membangunkanku dari mimpi indah.”
- “Suatu hari yang cerah,…”
- “Malam itu langit gelap penuh bintang…”
- “Aku tidak pernah menyangka hari itu mengubah hidupku selamanya.”
- “Dengan sekali pandang, aku tahu dia adalah cinta sejatiku.”
Kalimat pembuka yang klise bukanlah sebuah momok kepenulisan yang harus selalu dihindari. Tergantung pada konteks ceritamu, maka menggunakan kalimat klise juga dapat menjadi pembuka yang menarik.
Beberapa situasi dalam cerita yang memungkinkan untuk menggunakan kalimat klise adalah sebagai berikut:
- Parodi atau satir, di mana kalimat klise dapat digunakan untuk menyindir situasi klise.
- Nostalgia, di mana cerita yang dibuat memang dimaksudkan untuk membangkitkan suasana klasik di masa lalu, seperti pada cerita dongeng.
- Ironi atau kontras, di mana penggunaan kalimat klise dilanjutkan dengan situasi sebaliknya untuk meninggalkan kesan dan kejutan kepada pembaca.
- Eksperimen, di mana penulis dapat memanfaatkan kalimat klise untuk menghadirkan twist yang tidak disangka-sangka oleh pembaca.
Tips Membuat Kalimat Pembuka Anti Klise
Bila kamu seorang penulis pemula, ingatlah bahwa bab pertama menjadi bagian krusial yang perlu kamu rencanakan dengan baik. Bab pertama yang ditulis dengan baik akan dapat mendorong pembacamu untuk lanjut membaca cerita hingga tuntas.
Hal-hal yang dapat kamu lakukan agar kalimat pembuka dan bab pertamamu terlihat menarik adalah sebagai berikut.
1. Atur Suasana Cerita Sejak Awal.
Sajikan deskripsi secara nyata tentang situasi yang dihadapi oleh tokoh utama, seperti latar tempat, waktu dan suasana. Buatlah kalimat deskriptif yang melibatkan panca indera pembaca, mulai dari apa yang dapat mereka lihat, rasakan, dengar, hirup dan lain-lain.
Jangan lupa untuk mengatur kalimatnya secara efektif supaya pembaca tidak bosan.Contoh: Selepas hujan, Jakarta diliputi oleh kesunyian dan angin malam yang menyapu hawa panas dari setiap sudut kota.
2. Perkenalkan Protagonis
Mulai dengan memperkenalkan detil atau aksi menarik yang dilakukan oleh si protagonis dalam cerita.
Contoh: Di mata Anika, setiap orang memancarkan warna aura yang berbeda, tapi Bima hanya terlihat sebagai kumpulan awan hitam.
3. Selipkan Pertanyaan
Tidak ada salahnya memulai sebuah cerita dengan pertanyaan. Hal ini dapat memicu pembaca untuk berpikir, terutama jika ceritamu mengandung unsur misteri.
Contoh: Apa yang akan kamu lakukan ketika menemukan sebuah kotak berlapis emas tak bertuan?
4. Mulai dengan Sebuah Aksi
Membangun ketegangan sejak awal dapat dilakukan dengan melibatkan tokohmu dalam sebuah aksi mencekam. Buatlah sebuah situasi di mana si tokoh harus segera mengambil keputusan dalam waktu singkat.
Contoh: Arlan tidak tahu makhluk apa yang mengejarnya. Tapi ia terus berlari karena ia merasakan bahaya akan datang dari bayangan hitam itu.
5. Gunakan Dialog
Menggunakan dialog juga dapat memancing rasa penasaran dari pembaca. Tipe-tipe dialog yang dapat kamu gunakan dapat berupa sudut pandang si protagonis atau tokoh menarik lainnya.
Dengan menggunakan dialog, kamu juga dapat memperkenalkan situasi yang sedang dihadapi, kutipan kalimat bijak, atau situasi genting di tengah konflik.
Contoh: “Seperti pepatah pernah bilang, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Kak Rosa mencibir.
6. Tunjukkan Konflik Segera
Bagi penulis yang ingin membuat pembaca langsung ‘terjun’ ke dalam cerita, nggak ada salahnya kamu langsung memasukkan konflik. Cara ini mungkin bisa langsung membangun ketegangan, tapi juga memiliki resiko perhatian pembaca terhadap alur cerita segera terkuras sejak awal. Kamu harus pintar-pintar mengatur tempo cerita supaya rasa penasaran terus muncul dalam benak pembaca.
Di bagian ini, kamu juga dapat memperlihatkan kelemahan atau keunggulan dari tokoh utamamu saat menghadapi masalah. Ketegangan yang tiba-tiba dialami oleh pembaca akan membuat mereka penasaran untuk mengetahui bagaimana si protagonis menyelesaikannya.
Contoh: Bara mencengkeram erat pisau di tangannya, terjebak dalam dua pilihan yang mengharuskannya memilih: menyelamatkan atau membunuh sahabatnya.
7. Gunakan Perspektif yang Unik
Tawarkan perspektif atau sudut pandang yang unik untuk memberi kejutan kepada pembaca. Misalnya, mulai dengan melibatkan benda-benda di sekitar tokoh protagonis, alam, atau para karakter pendukung.
Contoh: Tiba-tiba, Elena si kucing anggora mengembangkan ekornya, membuat Diana menyadari ada yang tidak beres di ruang bawah tanah itu.
Kesimpulan
Kalimat klise seringkali ditemukan pada bab pertama dan telah umum digunakan oleh penulis. Meski penggunaan kalimat klise tidaklah buruk, tapi seorang penulis tidak dapat menunjukkan ciri khas dan gaya menulisnya yang unik. Ia akan terlihat sama seperti penulis amatir lain.
Dalam beberapa situasi cerita, kalimat klise masih dapat digunakan. Tapi agar kreativitas penulis semakin meningkat, ada baiknya mencoba untuk menghindari penggunaan kalimat klise dengan menggunakan pendekatan yang berbeda.
Kalau kamu ada pengalaman menulis kalimat klise di awal cerita, bisa berbagi di kolom komentar, ya!
Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini