Kehadiran tokoh antagonis seringkali dikaitkan sebagai sosok jahat yang menjadi lawan dan menghalangi protagonis untuk mencapai tujuannya.
Ternyata, antagonis bukanlah karakter yang sekedar dibuat untuk menjadi penjahat, loh. Bahkan, secara etimologi atau asal katanya saja, tokoh ini secara sederhana memiliki peran sebagai ‘lawan’.
Jadi, membuat tokoh antagonis bukan berarti membuat penjahat, melainkan merancang tokoh lawan yang bertentangan bahkan dapat menandingi si tokoh utama.
Supaya kamu dapat merancang tokoh antagonis yang menarik, lanjut baca artikel ini dulu, ya!
Daftar Isi
- Pengertian Antagonis
- Peran Tokoh Antagonis dalam Cerita
- Tips Menciptakan Antagonis
- Villain vs Anti-Villain
- Kesimpulan
Pengertian Antagonis
Kata ‘antagonis’ berasal dari bahasa Yunani. Antagonis merupakan gabungan dari dua kata, yaitu ‘anti’ (arti: menentang) dan ‘agonist’ (aktor atau pemeran).
Jadi, melihat dari arti gabungan katanya saja, antagonis dapat diartikan sebagai tokoh yang menentang tokoh utama.
Seringkali disandingkan dengan sifat-sifat negatif, sebenarnya tokoh antagonis bukanlah sekedar jahat. Ia memiliki peran untuk menghalangi si protagonis mencapai tujuannya, sehingga membuat cerita lebih menarik.
Tokoh antagonis yang dirancang dengan baik akan dapat menambah ketegangan dalam cerita, sehingga membuat pembaca lebih besimpati kepada tokoh utama.
Peran Tokoh Antagonis dalam Cerita
Agar dapat merancang tokoh antagonis yang bukan sekedar mengisi cerita, ada beberapa perannya yang perlu kamu pahami.
Dengan mengenali beberapa peran berikut, maka kamu dapat memahami bahwa seorang tokoh antagonis tidak cukup cuma sekedar jahat. Tokoh antagonis juga juga harus menarik.
1. Pendorong Konflik
Konsep utama dalam sebuah cerita fiksi adalah tokoh protagonis memiliki tujuan yang ingin mereka capai. Untuk membuat cerita lebih menarik, maka konflik hadir sebagai penghalang dan tantangan bagi si protagonis untuk mencapai tujuannya.
Agar konflikmu terasa lebih kompleks, maka kehadiran tokoh antagonis dapat melengkapinya. Tokoh lawan ini dapat hadir sebagai penentang yang mempersulit kehidupan si protagonis. Mulai dari membuatnya terluka secara fisik ataupun mental, hingga menggagalkan rencana si protagonis untuk menang.
Semakin kompleks tokoh antagonis yang kamu hadirkan, maka akan semakin kompleks pula konflik yang akan kamu bangun. Jadi, pastikan porsi konfliknya juga berimbang dengan kemampuan si antagonis, ya.
2. Pengembang Karakter Protagonis
Seperti yang sedikit aku sebutkan di atas, kehadiran tokoh antagonis dapat menjadi pelaku yang menyebabkan protagonis terluka. Karena hadir dengan sudut pandang yang berbeda dengan tokoh utama, si antagonis juga dapat melemahkan tokoh utama.
Karena kemampuan si antagonis untuk melawan, protagonis pun dapat merasa lemah, tidak berdaya, ragu-ragu, hingga mencapai titik terendah dalam hidupnya. Manfaatkan karakteristik si antagonis sebagai penghalang supaya pembaca dapat semakin bersimpati pada tokoh utamamu.
3. Refleksi Nilai dan Moral
Memasukkan isu-isu yang seringkali menjadi pertentangan dalam masyarakat dapat membuat ceritamu terasa lebih kompleks. Topik seperti kemanusiaan, politik, ekonomi, sosial dan budaya dapat menjadi latar belakang yang memancing sudut pandang berbeda pada setiap tokoh.
Misalnya, tokoh protagonismu menginginkan kebebasan dan menentang rencana perjodohan secara sepihak yang diatur oleh orang tuanya. Dalam cerita ini, kamu dapat menciptakan antagonis yang terus memaksa tokoh utama untuk menikah. Secara nggak langsung, kamu pun sedang mengangkat isu perjodohan yang benar-benar terjadi di masyarakat. Pembaca yang mungkin tidak mengetahui isu tersebut, akhirnya menjadi terbuka pandangannya.
4. Penciptaan Tema
Karena fungsi antagonis sebagai penentang dari protagonis, maka kamu pun akan dapat mempertegas tema yang ingin diangkat dalam cerita. Misalnya, tema kebaikan vs kejahatan, cinta vs benci, atau kebebasan vs otoriter.
Ibaratnya kalau kamu makan gorengan, kurang greget rasanya kalau nggak ada rasa pedas yang bikin panas di mulut. Padahal, gorengannya sendiri udah enak, tapi bakal lebih sedap kalau ada yang ‘melawan’ di lidah. Meskipun sambal cuma sebagai bumbu tambahan, tapi kehadirannya bikin acara makan lebih nikmat, kan?
5. Meningkatkan Intensitas Cerita
Tokoh antagonis yang dapat menandingi protagonis tentu akan menghadirkan ketegangan dan konflik yang lebih intens di dalam cerita. Bayangkan jika protagonismu telah menyusun rencana terbaik yang bisa ia pikirkan, tapi tiba-tiba muncul si antagonis yang menggagalkan semuanya!
Mau nggak mau, si tokoh utama pun perlu memutar otak, bahkan menghadapi konflik lainnya hingga ia bisa menang.
Tips Menciptakan Antagonis
1. Lebih dari Sekedar Jahat
Dalam merancang tokoh antagonis, cobalah untuk tidak sekedar memasukkan kepribadian dan sifat-sifat jahat tanpa alasan. Bukan berarti kamu perlu membuat pembaca bersimpati kepada tokoh lawan. Tapi, buatlah mereka memahami mengapa si antagonis sampai tega melakukan segala cara untuk menentang protagonis.
Misalnya, ada kejadian di masa lalu atau berita yang membuat si antagonis memandang dunia dari sudut yang berbeda. Tunjukkan bahwa sudut pandang si antagonis pantas membuatnya dicap sebagai ‘penjahat’ dalam cerita.
2. Berikan Latar Belakang
Agar antagonismu tidak terasa sebagai karakter pengisi cerita saja, tambahkan masa lalu atau latar belakangnya sendiri yang membentuk kepribadiannya. Dengan begitu, pembaca pun dapat memahami mengapa si antagonis sampai berbuat hal-hal yang menyulitkan protagonis untuk keluar sebagai pemenang.
Dengan menambahkan latar belakang, maka tokoh lawanmu akan terlihat lebih manusiawi dan kompleks, dan bukan sekedar jahat tanpa alasan.
3. Buat Mereka Cerdas
Antagonis yang cerdas atau punya banyak akal akan membuat konflik cerita lebih menarik. Kemana pun si protagonis melangkah, si lawan akan muncul untuk mencegahnya mencapai tujuan. Gimana nggak bikin pembaca gregetan kalau setiap aksi si protagonis selalu saja digagalkan?
4. Berikan Kelemahan
Ingatlah bahwa cerita yang menarik perlu memiliki keseimbangan. Terlalu banyak konflik yang sulit akan membuat pembaca lelah untuk mengikuti alurnya. Sedangkan minimnya konflik akan membuat cerita terasa dangkal.
Sama halnya dengan tokoh protagonis yang terlalu sempurna akan membuat pembaca bosan, tokoh antagonis yang terlalu kuat juga bikin kesal! Padahal, dalam sebuah cerita fiksi perlu ada penyelesaian di akhir cerita.
Sebagai penulis, kamu memiliki kuasa untuk menyisipkan kelemahan dalam diri tokoh-tokohmu, tidak terkecuali si tokoh antagonis. Menghadirkan kelemahan tidak hanya akan menyelesaikan konflik, tapi juga membuat si tokoh lawan terlihat manusiawi.
Villain vs Anti-Villain
Bila kamu sedang membuat cerita dengan tokoh-tokoh yang kompleks dan beragam, maka mungkin kamu perlu untuk mengategorikan tokoh-tokohmu secara spesifik. Tidak hanya para protagonis, tapi juga tokoh antagonis.
Untuk membedakan peran dan tujuan antagonis dalam cerita, kamu dapat membaginya dalam dua kategori besar, yaitu tokoh villain dan anti-villain.
- Villain, atau tokoh penjahat, adalah tokoh antagonis yang murni memiliki niat buruk untuk membuat kekacauan dan menghalangi protagonis untuk menang. Tokoh ini memiliki nilai dan moral yang bertentangan dengan masyarakat secara umum dan lebih tertarik untuk membuat kerusakan. Tokoh villain dapat memiliki sudut pandang kontroversial untuk menjustifikasi perbuatannya.
- Anti-Villain adalah tokoh antagonis dengan nilai dan moral abu-abu. Meski mereka memiliki niat untuk membela kebenaran, tokoh anti-villain cenderung tidak segan untuk menggunakan cara yang mereka yakini benar. Mereka memiliki latar belakang kehidupan yang kompleks, yang mendasari aksi mereka untuk menentang tokoh protagonis. Karena pengalaman hidup yang tragis itulah yang mendorong mereka untuk melawan protagonis, dengan niat memperbaiki dunia dalam cara mereka sendiri.
Kesimpulan
Tokoh antagonis adalah salah satu tokoh yang penting dalam sebuah cerita fiksi. Kehadiran antagonis sebagai penentang atau penghalang dari protagonis untuk mencapai tujuannya turut memiliki peran yang besar dalam membangun konflik.
Agar tokoh antagonismu lebih menarik, berikan latar belakang, tujuan, motivasi hingga kelemahan. Hindari membuat antagonis yang hadir sebagai pengisi cerita saja.
Kamu memang nggak perlu membuat tokoh antagonis yang bikin pembaca bersimpati. Tapi, buatlah dia menjadi lawan yang pantas untuk si protagonis.
Coba ceritain tokoh antagonis yang kamu buat untuk ceritamu di kolom komentar, dong!

Tinggalkan Komentar di Sini