Dalam hidup ini, kamu tidak pernah tahu kapan akan bertemu dan kehilangan seseorang. Misalnya, ketika datang ke satu tempat, kamu berkenalan dengan seseorang yang ternyata begitu memesona setelah meluangkan waktu bersamanya. Kamu merasa kalian memang ditakdirkan untuk bertemu dan dunia terasa lebih indah dengan kehadiran orang itu.
Tapi, tiba-tiba sebuah kejadian memaksamu untuk pergi dan meninggalkan orang itu. Karena kesalahpahaman dan putusnya komunikasi, akhirnya kamu tidak lagi mendengar kabar temanmu lagi dan hubungan kalian kandas begitu saja.
‘Anything Could Happen’ menawarkan cerita drama romansa yang mengajarkan kita untuk mengambil kesempatan dalam percintaan. Kisah asmara ini pun mengajarkanmu bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan waktu dan tempatnya.
Daftar Isi
Profil Penulis
Lucy Diamond adalah seorang penulis kelahiran Inggris dan besar di Nottingham. Ia menjalani pendidikan di Universitas Leeds di fakultas Sastra Inggris. Setelah menyelesaikan studinya, Lucy Diamond yang memiliki nama asli Sue Mongredien pindah ke London selama beberapa tahun. Ia pun sempat bekerja di industri penerbitan.
Saat ini, Lucy Diamond telah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak dan tinggal di wilayah Bath, Inggris. ‘Anything Could Happen‘ adalah buku ke-20 yang ia terbitkan. Buku pertamanya yang berjudul ‘Any Way You Want Me’ berhasil terjual sebanyak lebih dari 900,000 kopi.
Selain menjadi penulis buku novel dewasa, Lucy Diamond juga sempat menerbitkan sejumlah buku anak-anak yang diterbitkan dengan nama aslinya.
Sinopsis
Eliza adalah seorang remaja berusia 19 tahun yang akan segera lulus dan melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Namun, sebelum ia lulus, Eliza ingin meluruskan satu hal: ia ingin mencari tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Selama ini, ia mengira darah sang ayah tiri mengalir dalam tubuhnya. Tapi setelah dikonfirmasi oleh ibunya sendiri, Lara, Eliza mengetahui bahwa ia bukan ayah kandungnya.
Nekat karena Lara, sang ibu, menentang usaha Eliza untuk mencari ayahnya, ia pun pergi menyetir mobil seorang diri. Padahal, wilayah Cambridge cukup jauh dengan jaraknya sekitar 4-5 jam dengan mengendarai mobil. Di tengah jalan, Eliza-yang sebenarnya belum jago-jago banget nyetir-dicegat oleh polisi dan dijemput paksa oleh ibunya.
Karena sang putri terus ngotot untuk mencari ayah kandungnya, Lara pun mengalah. Bersama dengan Eliza, mereka melanjutkan perjalanan menuju Cambridge untuk bertemu dengan Ben.
Lara dan Ben memiliki kisah cinta yang kandas di masa lalu. Ben, yang kala itu sedang berlibur ke New York, bertemu dengan Lara di sebuah bar. Dalam sekejap, keduanya pun merasakan ketertarikan yang sama dan merasa nyaman satu sama lain. Malam itu, keduanya menghabiskan waktu bersama, hingga Ben harus pergi karena ia mendapat kabar tidak menyenangkan dari rumah: ayahnya kritis.
Karena mendadak harus pergi, Ben terpaksa membatalkan janjinya dengan Lara untuk bertemu malam berikutnya di sebuah restoran. Ia meninggalkan sebuah pesan di meja resepsionis restoran, tapi pesan itu tidak pernah sampai ke Lara.
Dua puluh tahun berlalu, Eliza pun lahir. Ternyata, hubungan intim yang terjalin antara Lara dan Ben yang berlangsung satu malam menyebabkan Lara hamil. Komunikasi yang terputus di antara keduanya membuat Lara frustasi dan ia harus berjuang sendiri menjadi seorang calon ibu. Ia pun menikahi pria lain, yang akhirnya menjadi ayah tiri Eliza.
Pertemuan kembali dengan Lara dan Eliza membuat Ben terkejut, apalagi saat itu ia sedang makan malam dengan istrinya, Kirsten. Pernikahan mereka yang telah berlangsung bertahun-tahun pun sebenarnya sedang di ujung tanduk. Kini, Eliza, putri yang selama ini tidak pernah diketahui oleh Ben, tiba-tiba hadir dan memperburuk keadaan. Ben dan Kirsten telah lama berjuang dan melakukan segala cara untuk memiliki anak. Ketika mengetahui bahwa Ben ternyata memiliki seorang putri, Kirsten pun syok dan memutuskan untuk pergi dari rumah.
Pertemuan kembali antara Lara dan Ben terasa canggung. Tapi pria itu tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mengetahui bahwa ia memiliki seorang putri. Ben berkomitmen untuk membuat banyak memori dengan Eliza, sebelum putrinya itu pergi untuk melanjutkan pendidikan di Edinburg.
Perjalanan ke New York menjadi hadiah yang Ben siapkan untuk Eliza, di mana Lara pun turut serta. Bersama-sama mereka menyusuri tempat-tempat ikonik di New York. Wisata keluarga itu pun menjadi acara napak tilas bagi Lara dan Ben, menghidupkan kembali memori-memori di masa lalu yang terlewatkan.
Review
Jujur saja, aku adalah pembaca baru dari karya Lucy Diamond. Aku membeli buku ini karena waktu itu ada diskon di Periplus dan blurb yang tercantum di sampul menarik perhatianku. Saat itu, aku sedang mencari bacaan romansa yang ringan sebagai inspirasi, karena sedang semangat menyusun cerita sendiri.
Saya bukanlah penggemar cerita yang beralur lambat. Tapi, bila kamu sedang mencari bacaan ringan dengan tema seputar keluarga dan romansa, Anything Could Happen dapat menjadi bacaan yang menarik di waktu senggang.
Hal yang aku sukai dari buku ini adalah bagaimana setiap tokoh yang tampil memperlihatkan diri mereka lewat pemikiran dan emosi mereka. Dialognya pun terasa mengalir dan natural, apalagi antara Eliza dan Lara sebagai anak dan ibu. Cara mereka berkomunikasi memperlihatkan kedekatan di antara mereka, meski Eliza dan Lara sama-sama memiliki sudut pandangnya masing-masing.
Meskipun ada unsur romansa dan drama dalam buku ini, saya merasa konflik yang terjadi di dalamnya kurang kuat. Rasanya seperti sedang mendaki jalanan menanjak, tapi kita hanya mencapai ujung bukit, bukan ujung gunung. Rasanya penulis membawa pembaca menghadapi konflik baru, namun penyelesaiannya terasa begitu datar.
Perasaan yang muncul kembali antara Lara dan Ben rasanya tidak dieksekusi dengan kuat. Entah karena faktor umur keduanya yang saya perkirakan telah mencapai 40-50 tahun saat bertemu kembali, rasanya percikan asmara di antara mereka kurang menggigit. Menurut saya seharusnya peristiwa Ben masuk rumah sakit dapat menjadi momentum terbaik, tapi si penulis memutuskan untuk melewatkannya, entah kenapa.
Secara keseluruhan, buku ini memiliki kekuatan dalam menyampaikan emosi terdalam dari para tokohnya. Banyak adegan monolog yang membuat pembaca dapat memahami setiap sudut pandang para tokoh dalam buku ini. Konfliknya memang terkesan modern dan tidak terlalu dramatis, sehingga mudah diikuti. Menurutku, ‘Anything Could Happen‘ dapat menjadi bacaan romansa dengan latar metro-pop yang ringan.
Apa kamu udah pernah baca buku ini atau karya Lucy Diamond yang lain? Kalau iya, boleh banget cerita di kolom komentar, ya!
Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini