Pentingnya Membuat Outline Bagi Penulis Pemula

Published by

on

Pernahkah saat kamu sedang menulis sebuah cerita, tiba-tiba merasa stuck di satu adegan dan tidak tahu bagaimana melanjutkannya?

Padahal kamu punya ide brilian yang ingin kamu bagikan kepada pembaca. Bagian awal cerita tersebut begitu manis, dengan tokoh protagonis dan antagonis yang menarik.

Tapi, saat tiba di bagian klimaks cerita, tiba-tiba ide kamu hilang! Kamu nggak tahu lagi bagaimana caranya melanjutkan cerita tersebut. Lama-lama, pembacamu mulai berkomentar mereka merasa bosan dengan ceritanya dan berhenti membaca tulisanmu. Waduh!

Kalau hal ini sering terjadi, ada baiknya kamu mencoba belajar membuat outline atau kerangka cerita.

“Aku malas bikin outline, maunya langsung buat ceritanya aja!”

Seperti penyakit flu, writer’s block bisa menyerang seorang penulis kapan dan di mana saja. Apalagi, jika si penulis sedang merasa lemah karena plot yang sudah dia buat tidak kuat dan banyak lubangnya.

Apa hubungannya writer’s block dengan membuat outline? Kalau kamu penasaran, coba deh simak dulu beberapa alasan kenapa membuat outline itu penting bagi penulis pemula.

Daftar Isi

  1. Apa Sih Outline Itu?
  2. Belajar Struktur dan Cara Menyusun Cerita
  3. Membantu Pengembangan Tokoh
  4. Mengatur Keseimbangan Cerita
  5. Membantu dalam Eksplorasi Cerita
  6. Mencegah Writer’s Block
  7. Memudahkan Saat Editing dan Revisi
  8. Kesimpulan

Apa Sih Outline Itu?

Singkatnya, outline adalah kerangka cerita. Mungkin kamu pernah mendengar istilah tersebut saat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Bayangkanlah outline seperti tubuhmu. Di balik kulit, terdapat rangkaian tulang yang tersusun dari kepala hingga ujung kaki. Nah, outline adalah bagian penting yang perlu dipersiapkan penulis sebelum membuat ‘daging’nya, yaitu si cerita itu sendiri.

Secara umum, outline atau kerangka cerita dapat diartikan sebagai garis besar dari sebuah tulisan yang runtut dari awal hingga akhir. Tidak hanya tulisan fiksi saja yang butuh outline, tapi juga tulisan non-fiksi.

Outline sendiri pun sifatnya nggak kaku, kok. Saat sudah menyusun poin-poin penting tulisan dari awal hingga akhir, seorang penulis masih berhak untuk mengisi bagian-bagian yang masih dirasa kurang. Bahkan mengubah adegan klimaksnya sah-sah aja, jika hal tersebut dapat membantu meningkatkan gregetnya cerita.

Setelah tahu apa itu outline, yuk cari tahu kenapa menulis outline itu penting, terutama bagi para penulis pemula.

Belajar Struktur dan Cara Menyusun Cerita

Bila kamu adalah tipe penulis yang impulsif dengan ide baru yang seringkali muncul secara tiba-tiba, membuat outline bisa jadi latihan.

Sebuah cerita yang baik memiliki alur yang mudah diikuti dan dipahami oleh pembacanya. Kalau banyak dari pembacamu yang mengeluh tentang adegan yang melompat-lompat, membingungkan, terasa datar dan membosankan, bisa jadi susunan ceritamu sebenarnya belum padat benar.

Dalam membuat outline, kamu juga dapat sekaligus berlatih untuk menulis sebuah cerita dari awal hingga akhir. Mulai dari pembukaan, pengenalan tokoh, hambatan kecil hingga besar, klimaks, antiklimaks, serta penyelesaiannya. 

Secara umum poin kunci dari menyusun sebuah outline adalah sebagai berikut.

  1. Pembukaan: adegan pembuka yang mencerminkan akhir cerita.
  2. Katalis: adegan yang mendorong protagonis melakukan sesuatu
  3. Aksi Utama: adegan protagonis melakukan aksi nyata
  4. Hambatan 1-3: poin-poin hambatan yang menghalangi protagonis mencapai tujuan
  5. Hambatan Terbesar: hambatan yang membuat protagonis merasa kehilangan segalanya
  6. Penyelesaian: solusi protagonis dalam menyelesaikan masalah
  7. Adegan Penutup: adegan penutup yang melibatkan kembali adegan penting di bagian pembukaan.

Dengan membuat outline, kamu dapat melihat apakah ceritamu telah memiliki setiap aspek penting dalam alurnya. Selain itu, memotong adegan-adegan yang dirasa tidak perlu juga bisa dilakukan agar intensitas cerita tetap terjaga.

Membantu Pengembangan Tokoh

Sebuah cerita tidaklah lengkap jika tidak memiliki tokoh utama yang menarik serta tokoh sampingan yang mendukung si protagonis. Oleh karena itu, menciptakan seorang tokoh utama tidaklah cukup hanya memperhatikan penampilan fisik serta sifat-sifat baiknya. 

Seorang protagonis yang menarik adalah tokoh yang dapat melewati setiap hambatan. Ia juga mengenali kelemahan diri dan mengubahnya menjadi kekuatan demi mencapai tujuan. 

Sebagai pelaku dalam cerita, kamu dapat memetakan setiap aksi dan reaksi si tokoh utama dalam outline.

Dengan membuat poin-poin penting, maka kamu akan dapat melihat apakah tokoh yang kamu buat sudah memiliki karakter yang kuat.

Jika belum, kamu dapat memperkaya penokohan si protagonis dengan menambah berbagai hal. Seperti latar belakangnya, mulai dari keluarga, pekerjaan, hobi, asal daerah, adat budaya, pandangan moral. Selain itu juga hal-hal mendalam seperti trauma, rasa cemas, minder, hingga sifat negatif yang sesuai.

Mengatur Keseimbangan Cerita

Agar pembaca terus tertarik membaca ceritamu, seorang penulis harus ahli dalam mengatur adegan-adegan manis, santai ataupun membangun ketegangan.

Cerita yang memiliki terlalu banyak adegan santai atau manis akan membuat pembaca cepat merasa bosan. Sementara ketegangan tanpa henti akan membuat pembaca terkuras energinya. Tidak semua pembaca menyukai banyak adegan klise nan romantis. Sesekali, mereka juga perlu dihibur dengan situasi dramatis yang membangkitkan emosi.

Oleh karena itu, seorang penulis perlu mengatur jalan cerita dengan menempatkan dan membangun suasana di waktu yang tepat. Selain itu, mengatur panjang dan pendeknya sebuah adegan juga diperlukan agar pembaca tidak merasa bosan.

Dengan membuat outline, maka kamu dapat berlatih membuat sebuah cerita yang seimbang. Kamu bisa menganalisa dan mengatur banyaknya adegan yang diperlukan dan membuang ide yang tidak sesuai dengan alur.

Membantu dalam Eksplorasi Cerita

Berkaitan dengan poin di atas, membuat outline dapat membantumu untuk menemukan atau mengembangkan ide-ide baru. 

Misalnya kamu sudah memiliki kerangka kasar berupa poin-poin adegan penting dari awal hingga akhir cerita. Agar ceritamu tidak terasa membosankan atau memiliki alur yang melompat, maka kamu bisa mengisi adegan tambahan di antara poin-poin tersebut.

Dengan melihat adanya potensi plothole dalam plot ceritamu, maka kamu bisa membuka perspektif, ide, hingga latar baru yang melengkapi ceritamu. Misalnya, kamu bisa menambahkan latar adat istiadat yang dirasa perlu untuk mengisi penokohan. Tambahkan juga deskripsi latar tempat atau dunia untuk memperjelas setting cerita, dan lain-lain.

Tentunya untuk menambahkan detil tersebut kamu memerlukan waktu dan sumber informasi sebagai bagian dari proses riset. 

Yang perlu diingat adalah kamu perlu membatasi diri agar tidak kebablasan dalam menambahkan adegan baru. Jangan sampai ceritamu keluar dari jalurnya.

Mencegah Writer’s Block

Sebuah outline cerita ada baiknya selesai terlebih dahulu sebelum kamu membuat draft pertama. Dengan menyelesaikan outline, maka dapat terlihat berapa lama waktu yang kira-kira diperlukan untuk mengembangkan setiap poin yang telah kamu tulis.

Semakin banyak poin yang tercantum, tentunya akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya. Dengan melihat panjangnya outline yang telah kamu buat, nggak ada lagi deh alasan kamu menderita writer’s block.

Keuntungan dari menyelesaikan outline terlebih dahulu adalah kamu nggak harus menulis draft pertama secara runtut.

Misalnya, hari ini kamu lebih mood menulis adegan pembuka, maka fokuskan perhatian untuk menyelesaikannya.  Bila besok kamu lebih semangat mengerjakan adegan klimaks, maka kamu bisa mulai menyicil bagian tersebut. Nggak usah takut ceritamu nggak nyambung satu sama lain. Yang penting, tulis aja dulu!

Kalaupun kamu hanya sanggup menulis 250 kata hari ini, hal itupun nggak masalah karena outline-mu sudah jadi. Kamu masih dapat melanjutkan sisanya besok.

Dengan adanya outline maka kamu akan selalu punya panduan untuk menulis ceritamu, tanpa perlu takut kehilangan ide.

Memudahkan Saat Editing dan Revisi

Berkaitan dengan poin di atas, hal yang perlu menjadi catatan adalah outline bukanlah draft pertama. Ibarat sebuah jalan raya, outline hanyalah bagian tepi jalan dengan penandanya yang menjagamu agar tidak berkendara di luar jalur. 

Bila plot cerita adalah jalan itu sendiri, maka draft pertama adalah panjangnya jalan yang kamu lalui tersebut. Plot cerita memiliki awal dan akhir. Sementara itu, draft pertama adalah panjangnya jalan yang perlu kamu buat, dengan titik awal dan akhir yang telah ditentukan sebelumnya. 

Setelah selesai menulis draft, maka kamu dapat memasuki proses editing. Di fase ini, kamu dapat memperbaiki kalimat, struktur, menambah ataupun mengurangi adegan yang relevan, dan lain-lain. Dengan memperhatikan poin-poin penting dalam outline yang kamu buat sebelumnya, maka kamu tidak perlu khawatir akan keluar dari jalan cerita.

Saat menawarkan naskah ke penerbit, outline juga memiliki peran yang besar. Perbaikan cerita dalam skala revisi juga tidak akan terasa berat karena kamu telah memiliki outline yang dapat didiskusikan dengan editor.

Kamu juga akan memiliki posisi yang kuat sebagai seorang penulis karena cerita idealmu telah ada sejak pembuatan outline. Tentu saja, masukan dari seorang editor yang profesional tetap perlu menjadi pertimbangan.

Tapi, dengan adanya outline, maka kamu memiliki alasan yang lebih kuat dalam mempertahankan alur cerita.

Kesimpulan

Seorang penulis pemula memiliki kreativitas dan ide yang tidak terbatas. Namun, agar cerita tersebut dapat ditulis dan selesai dengan baik, maka kamu perlu berlatih untuk membuat outline atau kerangka cerita.

Dalam membuat outline, kamu dapat belajar untuk mengenal cara menyusun cerita. Mulai dari menyusun struktur, mengembangkan tokoh, mengatur konflik dan momen manis dalam cerita. Kamu juga bisa belajar mengembangkan ide hingga mengisi plothole yang mungkin terjadi.

Bikin outline memang terasa seperti langkah tambahan yang menyita waktu. Tapi percaya deh, seorang penulis akan menjadi penutur cerita yang baik ketika ia dapat menghubungkan awal hingga akhir cerita secara natural.

Bila kamu ingin menerbitkan sebuah buku, membuat outline juga dapat meyakinkan pihak ketiga seperti editor dan penerbit. Membuat kerangka cerita dapat menjadi senjatamu untuk menawarkan alur cerita yang kuat.

Gimana, udah siap bikin outline atau kerangka cerita hari ini?

Yuk, semangat belajar dan nulis!

Satu tanggapan untuk “Pentingnya Membuat Outline Bagi Penulis Pemula”

  1. 7 Langkah Membuat Cerita AU Sosial Media di Instagram – mozze satrio. Avatar

    […] Bagi kalian yang baru mulai menulis, aku menyarankan untuk berlatih membuat outline terlebih dahulu. Meski kesannya remeh, sangat penting untuk membuat outline sebelum mulai menulis draft pertama. […]

    Suka

Tinggalkan Komentar di Sini