Bagaimana Membuat Konflik dalam Cerita Romansa?

Published by

on

Cerita romansa adalah salah satu genre yang populer di kalangan penikmat cerita fiksi. 

Genre ini memiliki fokus pada dua orang tokoh utama yang terlibat dalam hubungan romantis. Tidak hanya sekedar menggambarkan cerita indah yang penuh dengan cinta, tokoh dalam cerita romansa juga punya konfliknya sendiri. Mulai dari para tokohnya yang melewati hambatan, mengalami pergulatan emosi hingga mencapai aktualisasi diri.

Cerita romansa nggak sekedar mempertemukan dua karakter yang saling jatuh cinta. Yang bikin seru justru proses mereka saling jatuh cinta, meluapkan emosi, saling mengenal, hingga mencapai ending-nya.

Oleh karena itu, konflik dalam cerita romansa adalah bagian terpenting yang harus dibangun dengan baik untuk menghidupkan cerita.

Daftar Isi

  1. Mengapa Cerita Romansa Populer?
  2. Pentingnya Membangun Konflik dalam Cerita Romansa
  3. Tips Membuat Konflik Cerita Romansa
    1. Membangun Dinding Emosional
    2. Membangun Hambatan Eksternal
    3. Kesalahpahaman dan Miskomunikasi
    4. Membuat Tokoh Antagonis sebagai Rival
    5. Menyelipkan Adegan ‘Bom Waktu’
  4. Kesimpulan

Mengapa Cerita Romansa Populer?

Sepanjang tahun 2024, cerita bertema romansa masih menempati salah satu posisi teratas dalam genre populer. Selain romansa, tema-tema seperti fantasi, science-fiction, thriller dan misteri juga berada di peringkat atas.

Beberapa alasan mengapa cerita romansa masih menjadi tema populer di kalangan para penulis adalah:

  • Mengangkat tema universal tentang cinta itu sendiri. Cerita romansa yang berfokus pada hubungan antar manusia punya pesonanya sendiri. Nggak cuma tentang jatuh cinta, tapi juga patah hati dan pencarian jati diri.
  • Pencarian hubungan emosional yang didambakan oleh pembaca. Tidak jarang pembaca menjadikan cerita romansa sebagai tempat mengeksplorasi dan mengenal berbagai macam emosi manusia. Mulai dari rasa suka, benci, dendam, kesetiaan hingga patah hati.
  • Sebagai pelarian dari kehidupan nyata. Cerita romansa menawarkan fantasi kehidupan romantis yang sempurna antara dua tokohnya. Pembaca yang belum memiliki pengalaman pun dapat mulai mengenal bagaimana hubungan romantis terjadi. Variasi jalinan cinta yang bahagia juga dapat membuat seorang pembaca lupa pada kekhawatiran dan kesedihan yang sedang ia rasakan.
  • Happy Ending. Meski tidak semua cerita romansa memiliki akhir yang bahagia, namun happy ending adalah harapan yang sering diinginkan pembaca. Hal ini membuat pembaca menginginkan pengalaman serupa dalam kehidupan asmaranya.
  • Berkembangnya tokoh dalam cerita adalah salah satu daya tarik yang dimiliki oleh genre romansa. Misalnya, tokoh yang awalnya tidak dewasa di awal cerita perlahan mengenal bagaimana seharusnya ia mencintai orang lain.
  • Pengaruh perkembangan budaya dan kehidupan sosial tidak jarang menjadi unsur yang melekat dalam cerita romansa. Secara tidak langsung, pembaca juga dapat mengenal budaya, adat, peran dan stigma gender dalam suatu masyarakat yang terus berkembang.

Pentingnya Membangun Konflik dalam Cerita Romansa

Secara umum, konflik adalah bumbu pedasnya dari sebuah cerita fiksi. Tidak terkecuali dalam meramu alurnya, perjalanan si tokoh dari awal hingga akhir cerita tidak akan terasa gregetnya tanpa konflik.

Berikut adalah beberapa alasan pentingnya membangun konflik dalam sebuah cerita romansa.

  • Pengembangan Tokoh. Konflik adalah tantangan yang harus dihadapi seorang tokoh. Ia dipaksa untuk menghadapi rasa takut, minder dan menyadari kelemahan yang ia miliki.Dengan membuat si tokoh mengenali kelemahannya sendiri, memberikan peluang padanya untuk berusaha menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Melahirkan Ketegangan dan Antisipasi. Kehadiran konflik dalam cerita melahirkan ketegangan ketika si tokoh menghadapi sebuah masalah. Pembaca jadi berharap pada kelanjutan dari cerita, apakah si tokoh berhasil melewatinya atau tidak.
  • Dalamnya Emosi. Konflik dapat memunculkan emosi dari si tokoh yang mungkin belum tereksplorasi sebelumnya. Seiring berjalannya plot cerita, dapat terlihat apakah ia dapat melewati setiap emosi yang ia rasakan.
  • Hubungan yang Bertumbuh. Kehadiran konflik dapat memperlihatkan kemampuan pasangan tokoh untuk melewati sebuah masalah bersama. Perjalanan cinta pasangan dalam cerita pun terasa semakin bermakna dengan ikatan emosional yang semakin erat di antara mereka.
  • Perkembangan Plot. Kehadiran konflik dapat mendorong cerita untuk berkembang menuju jalan cerita selanjutnya. Karena konflik adalah masalah yang harus diselesaikan, maka si tokoh pun harus berjuang untuk melewatinya.

Setelah mengetahui pentingnya membangun konflik dalam sebuah cerita, yuk kita mulai caranya bikin konflik untuk cerita romansa!

Tips Membuat Konflik Cerita Romansa

Membangun Dinding Emosional

Dinding emosional digambarkan sebagai penghalang yang menghambat tokoh atau pasangan utama meraih kebahagiaan mereka. Dinding penghalang yang bersifat emosional dapat berupa 

  • trauma masa lalu, 
  • trust issue, 
  • perbedaan sudut pandang, atau 
  • pemahaman yang berbeda terhadap sebuah topik.

Misalnya, tokoh A melihat pernikahan sebagai hal yang sakral. Sementara tokoh B menilai pernikahan hanya sebagai sebuah status dalam lingkungan masyarakat.

Contoh lainnya, tokoh C tumbuh dalam keluarga broken home. Ia tidak terbiasa menerima cinta yang tulus, sementara tokoh D adalah anak yang disayangi oleh orang tuanya. 

Dengan adanya dinding emosional ini, maka kamu dapat memulai sebuah konflik yang harus ‘dirobohkan’ oleh pasangan dalam ceritamu.

Membangun Hambatan Eksternal

Dalam sebuah cerita, konflik yang lebih kompleks dapat dibangun dengan memasukkan konflik internal, interpersonal dan eksternal. 

Salah satu hal yang sering terlupa oleh penulis adalah mengembangkan konflik eksternal yang memberikan tekanan lebih kepada pasangan utama. Konflik eksternal merupakan hambatan yang terjadi antara tokoh utama dengan lingkungan sekitarnya.

Mulai dari status sosial, adat budaya, pertentangan keluarga, tekanan dan norma masyarakat, hingga jarak yang memisahkan tokoh-tokoh utama secara fisik.

Dengan adanya konflik eksternal ini, maka pasangan utama akan terdorong atau terinspirasi untuk berjuang bersama melawan hambatan tersebut.

Kesalahpahaman dan Miskomunikasi

Nggak ada hubungan romantis yang sempurna jika tidak terjalin komunikasi dan kesepahaman di dalamnya. Untuk mencapai keharmonisan tersebut, pasangan utama harus mampu melewati kesalahpahaman dan miskomunikasi yang terjadi.

Beberapa contoh kesalahpahaman yang dapat kamu gunakan dalam cerita:

  • interpretasi bahasa tubuh yang salah,
  • gosip atau rumor,
  • minimnya komunikasi,
  • kehadiran orang ketiga, dan lain-lain.

Dengan menyelipkan faktor ini , maka akan membuat jalinan asmara di antara dua tokoh terasa lebih hidup. Kalau mereka berhasil melewatinya, pembaca juga jadi punya harapan kisah cinta keduanya dapat berlanjut.

Seperti yang orang bilang, berantem itu ibarat bumbu dapurnya di rumah. Adu mulut dan argumen tidaklah selalu hal yang buruk dan manipulatif. Tergantung bagaimana kalian meramu dialog yang terjadi, jadikan argumen sebagai katalis bagi pasangan untuk saling memahami satu sama lain.

Membuat Tokoh Antagonis sebagai Rival

Salah satu hal yang paling umum dilakukan oleh penulis dalam membuat sebuah cerita romansa adalah menyisipkan seorang tokoh antagonis. Sosok antagonis juga bukan melulu seorang musuh, tapi juga bisa sebagai tokoh saingan.

Kehadiran tokoh antagonis dapat memicu terjadinya berbagai masalah. Seperti rasa cemburu, kesalahpahaman, rasa minder, atau emosi yang tidak terkendali yang dapat menguji ikatan antara pasangan utama dalam cerita.

Bila menginginkan sebuah ending yang bahagia, batasi porsi kehadiran tokoh antagonis dalam cerita. Jangan sampai si antagonis ini memiliki potensi sebagai sosok pengganti.

Jadikan sosok antagonis ini sebagai sosok kebalikan yang dapat menggoyahkan salah satu pasangan. Buatlah sifat, penokohan, latar belakang yang menarik agar kehadirannya tidak sekedar numpang lewat dalam cerita.

Menyelipkan Adegan ‘Bom Waktu’

Adegan ‘bom waktu’ yang dimaksud di sini bukanlah adegan pasangan utamamu mengendalikan sebuah bom. Dalam hal ini, ‘bom waktu’ adalah peristiwa yang menyebabkan tokoh utama saling bekerja sama dalam rentang waktu terbatas. 

Keberadaan peristiwa ‘bom waktu’ dalam cerita akan memaksa pasangan utama dalam cerita untuk bekerja sama. Mereka mau tidak mau harus menghadapi rasa takut, dan mengambil keputusan dengan cepat. Kasarnya, pasangan utama jadi ‘dipaksa’ untuk melewati sebuah adegan bersama-sama. Jika perlu, libatkan juga tokoh-tokoh pendukung.

Misalnya, seperti salah satu adegan dramatis dalam film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ di mana Cinta bersama teman-temannya mengejar Rangga di bandara, padahal waktu keberangkatan Rangga sudah mepet. Tepat sebelum Rangga boarding pesawat, Cinta berhasil menemuinya dan menyatakan cinta.

Kesimpulan

Sebuah cerita tidak dapat lepas dari konflik sebagai nyawa dan bumbu dari cerita itu sendiri, termasuk fiksi bertema romansa. Sebagai salah satu genre yang populer, terdapat berbagai alasan mengapa cerita cinta menjadi tema yang paling dicari oleh pembaca.

Untuk membangun konflik secara mendalam, terdapat beberapa cara yang dapat kamu lakukan, mulai dari 

  • membangun dinding emosional,
  • membangun konflik eksternal,
  • menyisipkan kesalahpahaman,
  • membuat tokoh rival, serta 
  • membangun peristiwa sebagai ‘bom waktu’ yang memicu tokoh untuk segera mengambil tindakan.

Semakin kompleks konflik yang kamu buat, maka pengembangan serta ikatan antar tokoh utamapun akan semakin kuat. Pastikan kamu dapat menyelesaikan setiap konflik agar tidak menyisakan celah dalam cerita yang membingungkan pembaca.

Tinggalkan Komentar di Sini