Ketika sedang membaca sebuah cerita fiksi, pernahkah kalian menemukan seorang tokoh yang memperlihatkan sifat yang tidak bercela?
Misalnya, si tokoh utama adalah seorang perempuan yang cantik, populer, baik hati, suka menolong tapi sifat tersebut mendominasi cerita dari awal hingga akhir. Atau seorang pria yang tampan, kaya, pekerja keras, seorang CEO dan tidak pernah kalah saat berkelahi dengan musuhnya sehingga ia menjadi pahlawan di akhir cerita.
Tokoh-tokoh seperti ini biasanya lebih sering dibuat oleh penulis pemula, yang melihat seorang tokoh sebagai sosok yang ideal dengan konflik hitam putih, di mana kebaikan pasti menang melawan kejahatan.
Dalam dunia fiksi, tokoh seperti ini dikenal juga dengan nama Mary Sue untuk tokoh wanita dan Gary Stue untuk karakter pria.
Tapi, kalian tahu nggak sih sebenarnya seorang tokoh utama dalam cerita bisa dibuat lebih menarik dari itu?
Bayangkan kalian sedang bersiap untuk makan siang. Di dalam piring, tersaji nasi, tempe goreng, daging ayam, dan sayur segar. Begitu kalian menggigitnya, ternyata rasanya hambar, tidak terasa asin, manis, ataupun pedas.
Pasti kalian tidak akan berselera makan dan enggan untuk menghabiskan makanan tersebut, meskipun terlihat sangat menggugah selera saat sekilas melihatnya, kan?
Nah, dalam membuat tokoh cerita pun sama seperti sepiring nasi itu. Akan lebih sedap rasanya jika ayamnya terasa manis pedas, tempenya asin dan gurih, serta sayurnya ditumis dengan bumbu yang gurih.
Tokoh dalam sebuah cerita hendaknya membuat pembaca merasa gregetan karena tidak hanya terasa ‘manis’, tapi dia juga bisa ‘pedas’, ‘asin’ bahkan ‘asam’.
Yuk, simak tipsnya supaya kamu bisa membuat sebuah tokoh yang tidak hambar!
Lompat ke:
- Apa Sih Tokoh yang Hambar Itu?
- Jadi, Tokoh Hambar itu Jelek?
- Buat ‘Daging’ Lewat Penokohan
- Berlatih dalam Pengembangan Karakter
- Petakan Konflik si Tokoh Utama
Apa Sih Tokoh yang Hambar Itu?
Tokoh utama yang hambar adalah pelaku dalam cerita yang tidak memiliki kepribadian, konflik atau tujuan hidup yang menarik dan berkembang untuk diikuti oleh pembaca. Sepanjang jalan cerita, tokoh ini pun tidak mengalami perkembangan dan perubahan yang membuatnya memiliki sifat yang utuh.
Biasanya, tokoh yang hambar mengandung karakteristik berikut
- tidak memiliki konflik internal
- saklek pada arketipe
- tidak ada pengembangan karakter
- tidak memiliki kepribadian yang berlapis
Tokoh yang hambar dikenal juga dengan istilah ‘satu dimensional’ atau ‘dua dimensional’, dengan sifat karakter yang tidak kompleks dan membuat jalan cerita kehilangan gregetnya.
Jadi, Tokoh Hambar itu Jelek?
Nggak juga. Dalam beberapa cerita, keberadaan tokoh yang hambar dapat menjadi pendukung tokoh utama dalam perjalanannya. Tokoh seperti tritagonis yang bersifat netral dapat memiliki karakter yang datar, karena ia hanya bertugas mengisi cerita dan mendukung penokohan si tokoh utama.
Yang perlu menjadi perhatian seorang penulis adalah menghindari pembuatan karakter yang hambar bagi si tokoh utama.
Buat ‘Daging’ Lewat Penokohan
Agar tokoh yang kamu buat semakin ‘berisi’, hal yang perlu dibuat untuk mendampingi wujud si tokoh adalah merancang penokohan yang mendalam.
Dalam penokohan, aspek yang dapat ditambahkan untuk membuat tokohmu lebih kompleks adalah membuat profil dan latar belakang yang detil. Contohnya, kamu sedang membuat seorang tokoh utama yang mandiri dan bekerja sebagai seorang pelatih yoga.
Tidak hanya umur serta bentuk fisik yang sehat dan fit, kamu bisa menambahkan cerita yang lebih detil seperti hobinya makan dan memasak makanan sehat, atau karena alasan penyakit, ia berolahraga untuk menghindari obesitas dan trauma perundungan di masa lalu, atau obsesi berlebihan dalam membaca bahan baku dari sebuah produk. Ia merasa cemas jika tidak menimbang berat badan setiap hari, dan sebagainya.
Setiap sifat dan tindakan si tokoh utama perlu memiliki latar belakang yang mempengaruhinya dalam mengambil sikap serta pandangannya terhadap dunia. Dengan demikian, tokoh utamamu tidak akan lagi sekedar tokoh yang di permukaannya terlihat baik hati, bertubuh sehat dan mencintai kesehatan.
Untuk membuat penokohan dengan cepat, kamu bisa mencoba metode ‘good, gone bad’ juga!
Berlatih dalam Pengembangan Karakter
Cara lain agar kamu terbiasa membuat karakter yang lebih kompleks adalah dengan berlatih membuat pengembangan karakter. Kamu bisa coba membaca sebuah buku novel yang memiliki alur cerita panjang.
Setelah menyelesaikan buku tersebut, cobalah untuk menganalisa bagaimana karakter dalam buku tersebut berkembang. Mulai dari awal cerita, pertengahan, saat si karakter berhadapan dengan konflik utama hingga mencapai akhir cerita.
Dengan latihan tersebut, maka kamu akan dapat melihat bagaimana si tokoh berkembang entah ke arah yang lebih baik maupun ke arah yang lebih buruk. Kamu juga dapat menganalisa bagaimana si tokoh mengambil keputusan. Apakah keputusannya karena pengaruh konflik internal, interpersonal maupun eksternal.
Untuk mengetahui detail penokohan apa saja yang bisa kamu analisa, coba pakai 22 Daftar Pertanyaan Proust untuk menilai tingkat kompleksitas si tokoh.
Petakan Konflik si Tokoh Utama
Setelah mencoba berlatih dalam menganalisa sebuah tokoh utama, maka kamu bisa mencoba untuk mengembangkan tokoh utamamu sendiri.
Mulailah dari memetakan konflik internal yang terus berkembang dari awal hingga akhir cerita.
Contohnya seperti tokoh Harry dalam Harry Potter. Berangkat dari seorang tokoh anak-anak yang ditindas oleh keluarganya sendiri, Harry tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan kesepian. Ketika cerita terus berkembang, akhirnya Harry tumbuh menjadi seorang pemuda yang berani melawan Voldemort bahkan mengalahkannya.
Semua pencapaian tersebut tidak akan dapat dilakukan oleh Harry jika ia tidak menyadari pentingnya mengambil keputusan dan tindakan untuk mengubah dunia.
Setelah mempertimbangkan konflik internal, kamu dapat mengembangkan sudut pandang si tokoh agar lebih kompleks dengan melibatkan hubungan interpersonal dengan tokoh lain bahkan dengan lingkungannya.
Catat kemungkinan konflik yang dapat terjadi serta penyelesaian yang terbaik untuk tokoh utamamu dalam menyelesaikan masalahnya. Tidak perlu khawatir jika pada awalnya penyelesaian yang kamu sertakan tidak terasa sempurna, karena setiap draft cerita pasti akan mengalami perbaikan.
Teruslah berlatih dalam membuat cerita baru. Semangat menulis!

Tinggalkan Komentar di Sini