6 Langkah Efektif Menyelesaikan Draft-mu

Published by

on

Sebagai orang yang impulsif, seringkali otakku memunculkan ide secara mendadak. Entah saat sedang berada di luar, ditambah lagi saat lupa membawa buku catatan. Padahal aku lebih enjoy menulis dalam buku khusus yang biasanya aku bawa.

Alhasil, jika aku tidak segera mencatatnya, ide tersebut akan hilang. Kalau sudah lupa, yang tersisa adalah rasa menyesal karena tidak segera mencatatnya.

Yang bisa aku lakukan adalah menyimpan ide tersebut di aplikasi Notes di ponsel. Itupun biasanya aku akan lupa memindahkan catatan ide ke buku.

Di lain waktu, hal yang sering menjadi dilema adalah rasa ketidakpercayaan diri untuk menyelesaikan sebuah proyek menulis. Banyak tulisanku yang terbengkalai, tersimpan di laptop atau buku catatan tanpa pernah terwujud menjadi sebuah cerita utuh.

Oleh karena itu, lambat laun saya semakin menyadari pentingnya berdisiplin diri. Aku perlu mengatur dan menyiapkan waktu agar draft tulisanku menjadi sebuah cerita.

Saat sedang menonton video di Youtube, saya melihat konten yang dibuat oleh Martina Sazunic, pemilik kanal King Kogi.

Dalam video berjudul Want to Start a Creative Project? 6 Martina Methods. Martina menjabarkan 6 langkah berproses kreatif yang ia terapkan untuk menyelesaikan proyek buku resep yang sedang ia kerjakan.

Berikut videonya secara utuh, kalau kamu mau memahami penjelasan Martina lebih dalam.

Dari menonton videonya, saya merasa terinpirasi oleh langkah-langkah yang dilakukan oleh Martina.

Kalau kamu juga sedang stuck untuk melanjutkan proyek tulisan yang sedang dikerjakan, coba intip langkah-langkah berikut. Siapa tahu dapat menjadi inspirasi!

Daftar Isi

  1. Kenali Diri Sendiri
  2. Catat Setiap Ide yang Muncul
  3. Ikut Serta dalam Kelas Pelatihan
  4. Organisir Hal yang Kamu Sukai dan Tidak
  5. Manfaatkan Aplikasi Penunjang
  6. Tanamkan Rasa Tanggung Jawab

Kenali Diri Sendiri

Langkah pertama yang disarankan oleh Martina adalah mengenal diri sendiri. Loh, mau nulis kok malah disarankan buat eksplorasi diri sih? 

Mengenal diri yang dimaksud di sini bukanlah sekedar mencari tahu apa makanan kesukaanmu, hobi, zodiak, sifat, MBTI, dan lain-lain.

Namun, Martina mengajakmu untuk menggali lebih dalam hal-hal apa saja dalam dirimu yang membuatmu unik. Menurut Martina, jika tahu apa yang kamu sukai, maka kamu hanya perlu fokus pada hal itu saja.

Misalnya nih, jika kamu seorang penulis yang senang membaca buku. Meskipun kamu menyempatkan diri untuk membaca beragam genre buku di luar sana, tentu ada topik-topik tertentu yang lebih kamu minati. Ada penulis yang menyukai cerita dengan tema romansa yang manis. Ada juga yang suka cerita dengan akhir yang tragis. Atau kamu penulis yang terinspirasi oleh banyak buku non-fiksi, khususnya self-development.

Dengan memilah dan memilih genre yang kamu sukai nggak menjadikanmu seorang pembaca dan penulis yang picky kok. Justru dengan mengenal genre yang kamu sukai, akan lebih mudah bagimu untuk fokus menulisnya.

Misalnya, kamu seorang penulis yang menyukai jalan cerita sederhana.Kamu tertarik dengan hubungan dalam keluarga dan kaitannya dengan tumbuh kembang anak. Maka, kamu bisa fokus menulis topik seputar dunia anak dan bagaimana menanamkan nilai moral sejak dini.

Atau bila kamu seseorang yang tertarik pada bisnis. Kamu melihat kedisiplinan sebagai kunci untuk meraih kesuksesan hidup. Jika kedisiplinan adalah hal yang sangat penting bagimu, maka kamu bisa membuat buku seputar topik tersebut dan mengaitkannya dengan bisnis.

Setiap dari kamu adalah sosok yang unik dan pasti punya nilai-nilai yang kamu anggap penting dalam hidup. Setelah menemukan dirimu, kamu bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Catat Setiap Ide yang Muncul

Ide bisa muncul di mana dan kapan saja. Mulai dari nyanyi-nyanyi di kamar mandi, nyetir di jalan, nongkrong di kafe, atau saat sedang ngobrol dengan sahabat. Kamu tidak bisa menghentikan percikan ide itu, tapi apakah kamu bisa menangkapnya?

Supaya kamu selalu siap saat ide tersebut muncul, ada baiknya kamu selalu menyiapkan sebuah buku catatan khusus. Jadikan buku itu sebagai ‘bank ide’, wadahmu untuk menyimpan banyak ide.

Menurutku, buku catatan lebih efektif daripada mengandalkan ponsel. Apalagi kalau kamu sedang berada di lokasi yang susah sinyal. Bisa-bisa, ide yang kamu tuliskan di aplikasi malah nggak tersimpan!

Ide yang muncul pun nggak harus sebuah pemikiran yang orisinil. Bisa saja ide tersebut berasal dari pengalaman pribadi, buku yang menginspirasi, bahkan diskusi dengan orang lain.

Bisa jadi kamu tidak akan menggunakan ide itu saat ini. Tetap tulis ide itu di buku catatanmu, meskipun terdengar konyol atau mustahil. Kamu nggak akan pernah tahu masa depan, tapi siapa tahu ide yang konyol itu akan menjadi masterpiece suatu saat nanti!

Ikut Serta dalam Kelas Pelatihan

Kamu mungkin pernah mendengar kata-kata bijak “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Emangnya di China orangnya pintar-pintar, ya, sampai harus belajar ke sana?

Eits, pepatah itu bukan berarti secara harfiah menyuruhmu untuk terbang ke China, ya. Negeri China memang dikenal sebagai negerinya orang-orang berilmu, cendekiawan budayawan dan para penemu.

Tapi, dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya peradaban manusia, kamu tetap bisa menimba ilmu dari orang-orang di sekitar. Indonesia sendiri telah banyak memiliki penulis, pengajar, praktisi, guru dan seniman yang ilmunya dapat kita ambil dan pelajari.

Ditambah lagi, saat ini telah tersedia berbagai platform dan praktisi yang membuka kelas-kelas menulis dan kegiatan kreatif lainnya. Tidak hanya sekedar mengejar sertifikat di akhir kelas, tapi gunakan kesempatan tersebut untuk memperdalam ilmu kita untuk menulis.

Bila kamu merasa kesulitan untuk mengikuti kelas karena kendala ekonomi, masih ada kok platform belajar gratis. Yes, nonton video di Youtube! Kamu bisa juga memantau para kreator di media sosial, yang nggak jarang membuka webinar atau kelas gratis! 

Organisir Hal yang Kamu Suka dan Tidak

Salah satu hal menarik yang dibahas oleh Martina adalah bagaimana kamu juga perlu mengenal hal yang tidak kamu sukai.

Hal ini perlu disadari ole penulis ketika kita mulai melibatkan orang lain dalam mewujudkan karya kita. Misalnya, para layouter, ilustrator, editor, desainer sampul buku, hingga penerbit. Pekerjaan mereka berkaitan erat dalam mendukung karya penulis. Tidak dapat dipungkiri, suatu hari nanti kamu dapat bekerja sama dengan mereka. Apalagi jika kamu berencana untuk mencetak buku, maka peluang bekerja sama dengan mereka pun semakin besar.

Dengan mengetahui apa yang tidak kamu sukai dalam berkarya, kamu jadi tidak mudah terbawa arus. Kamu tahu batasan ide dan tipe karya yang dapat kamu kerjakan, sehingga nggak mudah disetir oleh orang lain.

Untuk berlatih mempertajam rasa senimu, manfaatkan aplikasi seperti Pinterest untuk menyimpan ide-ide dalam bentuk foto atau grafis. Kamu bisa membuat folder spesifik untuk mengklasifikasi hal-hal yang kamu suka dan tidak. Kamu dapat memanfaatkannya untuk memilah hal-hal yang spesifik, seperti topik, tema, warna, genre, style, dan lain-lain. Selain menyimpan ide untuk keperluan pribadi, kamu dapat menggunakan Pinterest untuk mempresentasikan ide kepada orang lain.

Pinterest cukup praktis digunakan karena aplikasi ini dapat kamu akses di desktop maupun ponsel. Usahakan untuk menyimpan ide-ide tersebut dalam nama-nama yang mudah diingat.

Pada poin ini, aku bukannya mengajakmu menjadi pribadi yang keras kepala, ya. Tetaplah membuka diri terhadap masukan dan ide baru yang ditawarkan kepadamu. Tapi karena kamu sudah tahu apa yang kamu suka dan tidak, kamu bisa memilah kembali hal-hal yang sesuai dengan prinsipmu.

Manfaatkan Aplikasi Penunjang

Menjadi seorang penulis di era modern tidaklah cukup hanya bermodalkan aplikasi seperti MS Word, Google Docs, atau aplikasi menulis lainnya.

Untuk mempromosikan tulisan secara pribadi, kamu bisa memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Twitter, Threads, Wattpad, Medium atau Facebook.

Bahkan, saat ini telah marak website menulis berbasis lokal serupa Wattpad. Di platform ini pun kamu dapat mengunggah beragam karya secara digital seperti KaryaKarsaKBM, Kwikku, dan lain-lain. Di antaranya bahkan menjanjikan royalti yang dapat kamu panen, berdasarkan jumlah pembaca.

Selain sebagai sarana promosi, media sosial juga menjadi ajang bagi penulis untuk berkomunikasi dengan sesama penulis. Berkenalan dengan orang lain tidak hanya akan membangun relasi, tapi juga mengumpulkan penggemar dan saling bertukar ilmu.

Tidak hanya berkutat di media sosial. Kamu dapat memanfaatkan aplikasi yang menunjang produktivitas. Saat ini juga udah banyak aplikasi di ponsel yang dapat membantumu membuat mindmap yang cukup populer di kalangan penulis.

Aplikasi seperti Procreate atau Sketchbook dapat membantumu menjelaskan ide dalam bentuk grafis. Aplikasi Miro atau X-Tiles juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun jadwal dan membuat cheklist bagi mereka yang ingin tetap produktif.

Tanamkan Rasa Tanggung Jawab

Salah satu trik dari Martina yang menarik untuk dibahas berikutnya adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab. Kenapa ya hal ini penting?

Rasa bertanggung jawab di sini bukanlah seperti kamu menyelenggarakan konferensi pers dan menyampaikan pidato atas perbuatan yang telah kamu lakukan. Dalam hal ini, Martina menegaskan pentingnya mengunggah update status dari karya yang sedang kamu kerjakan.

Misalnya, kamu membagikan foto atau video singkat tentang sejauh apa proses yang sudah kamu kerjakan kepada teman-teman di media sosial.

Fungsi dari update status ini bukanlah untuk pamer, tapi sebagai pengingat saat kamu sedang malas. Pasti akan ada masa di mana kamu merasa lelah dan bosan mengerjakan cerita yang sedang kamu susun. Apalagi kalau udah ketemu writer’s block.

Ketika kamu membutuhkan motivasi, coba lihat kembali unggahan terakhir yang kamu buat. Dengan memperlihatkan proses menulismu, kamu juga dapat mengukur sudah sedekat apa kamu dengan target yang udah dibuat.

Selain itu, seorang penulis tidak akan pernah tahu di mana dan kapan sebuah karya akan menemukan pembacanya. Bagaimana jika ada teman atau pembaca yang meninggalkan komentar dan ternyata mereka sedang menunggu kelanjutan tulisanmu? Apakah kamu akan membiarkan pembaca itu menunggu selamanya?

Inilah yang dimaksud dengan bertanggung jawab pada karya sendiri. Bila kamu berani memulai, maka seharusnya kamu berani menyelesaikannya.

Yuk, semangat nulis hari ini!

Tinggalkan Komentar di Sini