Bagi seorang penulis pemula, merencanakan sebuah cerita dapat terlihat sebagai tahap yang membosankan. Inginnya langsung saja menulis dari awal hingga akhir dan berharap cerita tersebut menjadi judul bestseller.
Bila menanyakan kepada setiap penulis sukses, kebanyakan dari mereka akan menyarankan untuk menyusun struktur cerita sedari awal. Tapi, harus mulai dari mana ya saat menyusun struktur?
Agar lebih cepat dalam menyusun ide cerita, kamu bisa mencoba metode Snowflake yang terdiri dari 5 langkah besar.
Seperti namanya, metode Snowflake adalah cara menuliskan ide cerita yang dimulai dari poin terkecil yang semakin lama dikembangkan dalam bentuk tulisan yang lebih kompleks.
Mengutip dari writingpeers, metode ini ramah untuk pemula hingga penulis berpengalaman yang tidak begitu telaten dalam menyusun struktur cerita.
Yuk, simak apa saja 5 langkah yang perlu kamu tahu dalam metode Snowflake ini!
Daftar Isi
- Buat Premis
- Buat Ringkasan Cerita
- Buat Ringkasan Tokoh Cerita
- Buat Profil Tokoh Cerita
- Kembangkan Outline
- Kesimpulan
Buat Premis
Premis adalah rangkaian kata yang membentuk kalimat dan menjadi ide utama dari sebuah cerita.
Untuk menulis premis yang baik, ada 4 elemen yang perlu terkandung di dalamnya, yaitu
- protagonis,
- tujuan tokoh,
- krisis atau masalah yang dihadapi tokoh,
- ‘bumbu spesial’.
TIps: Lebih lengkap tentang premis, dapat kamu baca pada artikel berjudul ‘Elemen-elemen Penting dalam Menulis Premis’ di blog ini.
Biasanya premis juga hanya ditulis dalam satu kalimat panjang yang mengandung semua unsur di atas. Premis yang ditulis dengan baik juga dapat menjadi kunci dilirik oleh penerbit, loh!
Buat Ringkasan Cerita
Ringkasan atau sinopsis cerita dapat kamu tulis dalam satu paragraf yang menjelaskan cerita secara lebih rinci dari awal hingga akhir.
Lebih mudahnya, kamu bisa mengembangkan dari 4 elemen premis dan memasukkan unsur konflik yang dijelaskan hingga mencapai penyelesaiannya.
Tips: Jika kamu kesulitan membuat ringkasan cerita, berarti premis yang telah kamu tulis masih belum menarik. Coba diutak-atik lagi dan sisipkan tema unik seperti fantasi, tragedi, misteri, atau tema lain yang bisa menambah greget.
Buat Ringkasan Tokoh Cerita
Agar ceritamu lebih menarik, tentu membutuhkan tokoh atau karakter cerita yang menarik pula.
Mulailah dari membuat karakter utama atau protagonis yang akan menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah dalam cerita.
Buatlah garis besar tokoh yang ingin kamu libatkan dalam cerita. Mulai dari nama, masalah yang akan dihadapi si tokoh hingga akhir yang kamu rencanakan untuknya (apakah happy ending atau sad ending).
Setelah tokoh utama selesai dibuat, lanjutkan dengan menambahkan tokoh pembantu yang sekiranya dapat mendukung jalan cerita.
Tips: Untuk mencari inspirasi karakter, kamu bisa membuat moodboard dengan menggunakan Pinterest. Menggunakan wajah selebriti yang kamu kenal sebagai inspirasi visual enggak salah kok, malah proses ini akan terasa lebih menyenangkan.
Buat Profil Tokoh Cerita
Setelah kamu membuat daftar ringkasan tokoh cerita, selanjutnya kembangkan tokoh tersebut secara lebih mendetail.
Buatlah latar belakang, sifat baik dan buruk, profesi, hubungan dengan tokoh lain, impian, motivasi, hingga detail-detail lain semenarik mungkin.
Agar kamu tidak kewalahan, buatlah detail karakter dalam bentuk poin-poin. Tidak usah khawatir jika kalimatnya pendek, karena kamu dapat mengeditnya nanti.
Pastikan juga kamu jangan menulis karakter Mary Sue, ya.
Tokoh yang memiliki kelebihan serta kelemahan yang seimbang tentu akan membuat pembacamu lebih terhibur.
Tips: Cobalah mencari ‘character sheet’ melalui mesin pencari, untuk memudahkanmu dalam mengembangkan karakter secara lebih mendalam. Banyak sumber gratis di luar sana yang bisa kamu pakai.
Kembangkan Outline
Outline adalah garis besar dari cerita yang akan kamu tulis, mulai dari awal hingga akhir. Outline dikenal juga dengan kerangka cerita.
Dalam menulis outline, kamu dapat membuatnya dalam bentuk poin-poin yang memperlihatkan perjalanan dari tokoh utama sepanjang cerita berlangsung.
Secara umum, sebuah cerita mengandung adegan pembuka, konflik, klimaks, anti-klimaks hingga penyelesaian. Buatlah setiap adegan tersebut dalam bentuk kalimat singkat. Kemudian kamu dapat mengembangkannya dalam sub-plot yang lebih terperinci.
Tips: Dalam menulis outline ada baiknya kamu jangan memikirkan bahwa cerita tersebut harus sempurna. Tulis saja semua ide yang ada di kepala sebagai draft pertama.
Setelah semua ide yang dapat kamu pikirkan telah ada dalam catatan outline-mu, maka pilah dan pilih kembali poin-poin yang paling menarik.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, menggunakan metode Snowflake adalah cara yang paling mudah bagi penulis pemula. Berawal dari sebuah ide, metode ini sangat membantu pemula untuk menyusun kerangka cerita, sebelum mengembangkannya lebih jauh.
Aku sudah coba menyusun cerita dengan metode ini dan terbukti dalam waktu sehari saja aku sudah mendapatkan kerangka cerita. Setelah outline cerita selesai, aku dapat fokus mengerjakan dan mengembangkan plot dalam ceritaku.
Bagi kamu yang masih kesulitan menyusun adegan, yuk coba metode Snowflake! Kalau ada pertanyaan, silakan tinggalkan komentar di bawah, ya!
Semangat menulis!

Tinggalkan Komentar di Sini