Gimana Caranya Konsisten Menulis?

Published by

on

Sebagai seorang penulis, apa sih impian terbesarmu? Apakah menjadi seorang penulis novel best-seller? Memiliki banyak penggemar? Atau meraih berbagai penghargaan dalam lomba literasi?

Semua impian tersebut tidaklah mustahil untuk dicapai jika kamu siap berkomitmen menjadi seorang penulis. Untuk mencapainya, kamu perlu menyusun strategi yang efektif dan disiplin untuk mematuhinya.

Salah satu nasehat yang aku terima ketika berkomitmen untuk menjadi penulis adalah: konsisten menulis.

Tapi, gimana kalau banyak hal di luar menulis yang harus kamu kerjakan dalam satu hari?

Kedengarannya seperti mencari-cari alasan, ya. Tapi, kenyataannya, banyak orang merasakan hal yang sama. Rasanya waktu 24 jam nggak pernah cukup, ditambah lagi butuh konsentrasi penuh saat menulis. Sepulang kerja, kamu sudah lelah dan rasanya ingin segera beristirahat.

Waduh, kalau begitu kapan nulisnya dong?

Balik lagi, semuanya berkaitan dengan jam terbang. Orang yang udah pro dan terbiasa untuk konsisten pun nggak langsung dapat melakukannya dalam waktu sehari. Terus, gimana dengan yang masih amatir?

Bagi kamu yang masih suka cari-cari alasan untuk terlihat sibuk, sadari satu hal dulu: kamu adalah seorang procrastinator. Hayo, ngaku!

Procrastinator adalah orang yang suka menunda-nunda pekerjaan dan memilih untuk menyelesaikannya di menit terakhir. Akibatnya, kerjaan nggak ada yang maksimal, rasanya waktu selalu kurang.

Padahal, konsisten itu nggak dicapai dengan duduk 8 jam terus menulis. Konsisten bisa diraih jika kamu dapat menggunakan waktu dengan efektif.

Meskipun kamu hanya punya waktu 3 jam, 1 jam atau hanya 15 menit untuk menulis, bisa kok menjadi konsisten. Asalkan kamu tahu triknya!

Buat yang pengen belajar konsisten, yuk, simak tipsnya berikut!

1.Tentukan Jam Produktif untuk Menulis

Apakah kamu pernah mendengar istilah early birds atau night owl?

Early birds adalah istilah yang digunakan kepada orang-orang yang cenderung aktif dan produktif ketika matahari terbit hingga menjelang terbenam. Mereka lebih suka melakukan banyak pekerjaan dan kegiatan di pagi hari, karena matahari memberikan mereka energi untuk bekerja.

Sementara night owl adalah istilah yang diberikan pada orang-orang yang lebih aktif bekerja di malam hari. Suasana malam yang tenang membuat para night owl lebih mudah berkonsentrasi, di tengah gelap malam yang terasa panjang.

Bila kamu adalah salah satu bahkan tergolong keduanya, maka kamu bisa memanfaatkan waktu terbaik tersebut untuk menulis juga.

Misalnya, selepas sholat subuh, kamu dapat memanfaatkan waktu lengang yang ada untuk menulis setidaknya 1 jam sebelum melakukan kegiatan selanjutnya. Bagi yang lebih merasa bersemangat di malam hari, kamu bisa memanfaatkan waktu 1 jam sebelum tidur untuk menulis. 

Cobalah untuk konsisten menulis di waktu-waktu yang telah kamu pilih tersebut. Durasi waktunya tidak penting, tapi fokus saja pada kapan waktu yang pas untukmu mulai menulis. Jika kamu disiplin dan rutin menulis di waktu yang sama, lambat laun tubuhmu pun akan beradaptasi dan terbiasa.

2.Draft Dulu, Edit Nanti

Secara umum, draft adalah konsep atau ide awal dari sebuah tulisan. Menurutku, drafting menjadi proses yang seru karena aku dapat menumpahkan semua ide yang muncul di kepala dengan bebas.

Tidak ada salah dan benar dalam menulis sebuah draft. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan tata bahasa dan penulisan yang benar. Yang penting tulis aja dulu. Istilah kasarnya, ‘muntahin aja dulu’!

Setelah semua idemu tercatat dari awal hingga akhir, baru deh kamu bisa menyunting tulisan tersebut. Kamu bisa memilih dan memilah tulisan mana yang dirasa relevan dan dapat dikembangkan.

Tips: Hindari menulis draft dan editing di hari yang sama. Berikan jeda setidaknya 2-3 hari dari terakhir kamu membuat draft. Kembalilah pada tulisanmu ketika pikiranmu sudah fresh.

Kamu dapat menggunakan aplikasi penulisan dokumen seperti Notes, Google Docs, MS Word, Evernote, dan lain-lain.

Membuat draft pada aplikasi digital lebih menguntungkan, karena kamu dapat mengaksesnya kapan saja. Ditambah lagi, saat ini banyak aplikasi yang dapat bersinkronasi dengan perangkat lain, seperti laptop ke handphone, dan sebaliknya.

Bagi yang hobi nulis tangan atau journaling, jangan lupa untuk membawa buku catatan kecil dan pena ke manapun. Buku catatan juga dapat berfungsi sebagai ‘bank ide’ yang dapat kamu pakai sewaktu-waktu.

Siapa tahu ide satu tahun lalu yang belum sempat terwujud dapat kamu pakai sekarang, kan?

3.Kerjakan Adegan Penting Dulu

Terkadang, ide yang muncul yang di kepala tidaklah selalu bergerak linear.

Bisa saja saat sedang makan siang, tiba-tiba kamu kepikiran adegan romantis yang sepertinya menarik untuk ditambahkan di akhir cerita.

Namun, saat mengecek draft cerita, ternyata adegan ending tersebut nggak nyambung dengan adegan sebelumnya. Jika hal ini terjadi padamu, maka jangan khawatir karena kamu tidak sendirian.

Ingat mantra kita, ‘tulis aja dulu!’

Di waktu lain, idemu mungkin masih mentok di adegan tertentu. Rasanya kamu ingin cepat-cepat menulis adegan lain. Eits, nggak masalah. Silakan kerjakan adegan itu!

Tidak ada salahnya mengerjakan adegan yang dirasa penting terlebih dahulu. Percaya deh, ‘lubang’ antar adegan yang ada dalam ceritamu suatu saat akan terisi. Tinggal menunggu inspirasi saja datang dan mengisi kekosongan itu.

Yang penting, kamu tidak kehilangan ide untuk adegan penting yang kamu pikirkan sebelumnya. Mumpung semangat dan energimu belum terkuras untuk adegan lain, lebih baik kerjakan bagian yang kamu sukai dulu.

4.Buat Gol yang Realistis

Ketika kamu sedang melakukan perjalanan, pasti ada lokasi tujuan yang ingin dicapai. Entah lokasi tersebut jauh atau dekat, kamu pasti melakukan segala cara supaya sampai ke sana.

Begitu juga dalam hal menulis. Supaya proses menulismu terasa lebih berarti, coba deh membuat gol harian setiap harinya. Nggak perlu yang muluk-muluk, cukup bikin yang pasti bisa kamu kerjakan per hari.

Misalnya, kamu membuat target untuk menulis sebanyak 500 kata per hari untuk cerita yang sedang kamu tulis.

Catatlah golmu pada selembar kertas dan pasang di tempat yang terlihat. Setelah berhasil menyelesaikan gol tersebut, beri tanda centang pada target yang sudah tercapai. Jadikan hal ini bagian dari rutinitas sehari-hari.

Di akhir bulan, kamu dapat mengevaluasi apakah progres tulisanmu terlihat. Jika hasilnya masih jauh dari target, jangan berkecil hati, ya!

Bila gol tersebut tidak tercapai, kamu dapat menyesuaikannya kembali. Misalnya, kamu menargetkan untuk menulis 250 kata per hari. Atau menulis 500 kata di akhir pekan.

Yang penting, jangan jadikan gol tersebut beban untukmu sendiri. 

5.Pilih Panjang Cerita Sesuai Kemampuan

Bagi penulis profesional, menyelesaikan novel dalam waktu 3 bulan bukanlah hal yang mustahil.

Namun, ada pula yang membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga karya mereka terbit. Alasannya pun beragam. Bisa jadi mereka membutuhkan riset mendalam tentang sejarah, lokasi, perubahan plot dan sebagainya.

Tidak hanya novel, ada juga penulis yang lebih suka membuat puisi, cerita pendek maupun fanfiction. Semua jenis karya tersebut sah-sah saja untuk dibuat, karena setiap orang memiliki kesukaan dan kreativitas yang berbeda-beda pula.

Bila kamu memiliki impian untuk menjadi seorang penulis novel, berlatihlah untuk membuat cerita panjang. Tapi, bila melakukannya terasa berat, kamu bisa mulai menulis dari cerita pendek atau cerita mini dulu.

Sembari berlatih, membuat cerita pendek secara rutin akan membantumu untuk mengasah kreativitas serta berdisiplin dalam menyelesaikan sebuah karya.

Menilik dari reedsy.com, terdapat beberapa tulisan fiksi berdasarkan panjang ceritanya, diantaranya sebagai berikut.

  • Haiku: 6 kata
  • Drabble: 100 kata
  • Double Drabble: 200 kata
  • Twitterature: 280 karakter
  • Cerita Mini Instagram: 2.200 karakter
  • Cerita Pendek / Cerpen: di bawah 7.500 kata
  • Novelette: 7.500 – 17.500 kata
  • Novella: 17.500 – 40.000 kata
  • Novel: di atas 40.000

Tidak semua penulis harus menjadi novelis maupun penyair. Dan, seorang penulis tidak harus mampu membuat semua jenis karya fiksi maupun non-fiksi.

Pilihlah jenis tulisan termudah yang sanggup kamu selesaikan. Jika kamu ingin meningkatkan kemampuan, kamu dapat menulis cerita yang lebih panjang secara bertahap.

6.Buat Outline untuk Ending Cerita

Saat nggak ada ide yang bisa dituliskan, kamu bisa mencoba melompat ke bagian akhir cerita. Agar terhindar dari rasa bosan, kamu tidak perlu menuliskannya secara detail, tapi cukup outline atau garis besarnya saja.

Mengutip dari Kak Tika Widya, outline dalam menulis fiksi adalah sebuah dokumen yang memuat struktur, alur cerita, tokoh, dan adegan dalam sebuah novel.

Dapat diartikan, outline adalah kerangka cerita yang memuat inti dari cerita yang sedang kamu tulis.

Rasanya memang ribet ya membuat kerangka terlebih dahulu. Tapi, kalau kamu penulis pemula, membuat outline adalah hal yang disarankan. agar kamu tahu apakah unsur-unsur penulisan dalam ceritamu sudah lengkap atau belum.

Ada baiknya kamu menulis outline secara runtut dari awal hingga akhir sebagai bentuk latihan dalam menulis sebuah cerita.

Tapi, kamu juga bisa menggunakan outline untuk beberapa bagian terlebih dahulu. Misalnya, membuat outline untuk pembukaan cerita, konflik atau penyelesaian. Dengan membuat kerangka cerita, kamu dapat melihat apakah alur ceritamu sudah mengalir atau belum. 

7.Minimalkan Distraksi

Di abad ke-21 ini, perkembangan dan kemajuan teknologi telah memudahkan kita untuk berinteraksi dengan banyak orang secara digital. Selain itu, banyak aplikasi dan media sosial yang menyajikan beragam hiburan dan berita.

Penelitian menyebutkan bahwa kemudahan akses internet ini punya dampak buruk pada attention span manusia. Kamu jadi gampang terdistraksi oleh media sosial, karena takut ketinggalan berita terbaru.

Kalau kamu nggak belajar mengontrol diri, bisa-bisa tulisan yang harusnya selesai dalam 1 jam malah molor hingga 3 jam. Bayangkan kalau hal ini terjadi setiap hari. Kamu udah membuang banyak waktu karena sibuk scrolling internet.

Supaya kamu tetap fokus menulis, coba ikuti tips berikut.

  • Gunakan teknik belajar Pomodoro
  • Ubah mode telepon genggam ke mode Silent atau mode Pesawat
  • Matikan notifikasi aplikasi di telepon genggam
  • Bagi yang suka musik, pilih playlist yang membantumu fokus menulis. Pilihan seperti musik lo-fi atau klasik bisa menjagamu tetap fokus.

Seorang penulis membutuhkan konsistensi untuk terus belajar, berkarya dan berkembang. Menjadi konsisten pun memerlukan waktu khusus agar karya yang sedang kita kerjakan dapat segera selesai.

Nggak ada habit yang dapat terbangun dalam waktu sehari. Tetaplah tekun dan disiplin dalam berproses. Asalkan kamu tetap fokus pada golmu, maka nggak mustahil tulisanmu bisa selesai.

Yuk, terus semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini