Cara Menulis Tokoh Cerita Fiksi yang Disukai Pembaca

Published by

on

Sebagai salah satu unsur intrinsik, kehadiran tokoh adalah faktor yang dapat menentukan apakah cerita yang kamu buat menarik atau nggak.

Bayangkan kamu sedang menyusun sebuah cerita tanpa adanya tokoh. Maka, cerita tersebut nggak akan berkembang kemana-mana. Tapi, nggak cukup sekedar menampilkannya, kamu harus dapat membuat tokoh yang menarik.

Coba bayangkan kamu sedang melihat sebuah guci di museum. Mulai dari ukuran, warna, lekuk, bahan dan detil yang ada padanya dapat menarik perhatian pengunjung. Tapi, sebuah guci pun nggak akan berkesan tanpa cerita di baliknya.

Nah, menulis tokoh pun seperti itu. Nggak cuma memiliki penampilan fisik yang menawan, tapi cerita di balik kehidupannya perlu diolah sedemikian rupa. Untuk merancang kehidupan si tokoh, kamu perlu menyusun sebuah penokohan.

Menurut KBBI, penokohan memiliki definisi 1) proses, cara, perbuatan menokohkan, dan 2) penciptaan citra tokoh dalam karya susastra.

Dalam penokohan kamu dapat mencantumkan sebanyak mungkin latar belakang kehidupan. Kamu bisa lihat artikel tentang 22 Daftar Pertanyaan Proust, sebagai daftar pertanyaan yang dapat kamu jawab untuk merancang penokohan.

Tapi, kenapa sih kamu mesti buat penokohan?

Beberapa fungsi penokohan di antaranya adalah:

  • membuat pembaca tertarik untuk menyelesaikan cerita hingga akhir.
  • mengaduk-aduk perasaan pembaca dari cara si tokoh menghadapi, mengatasi konflik hingga mengambil keputusan..
  • menumbuhkan rasa empati pembaca pada kehidupan yang dijalani si tokoh.
  • menymapaikan pesan moral serta informasi menarik kepada pembaca, mulai dari pengetahuan umum, sejarah, seni, hingga profesi.

Agar tokoh yang kamu buat meninggalkan kesan mendalam kepada pembaca, maka diperlukan waktu untuk merancangnya. Seperti halnya ketika kamu berkenalan dengan seseorang, nggak mungkin dong kamu cuma mau tahu namanya.

Seperti pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, membuat tokoh yang adalah kunci membuat pembacamu setia mengikuti alur sampai akhir.

Supaya kamu dapat membuat tokoh yang berkesan, yuk coba simak tips berikut!

Membuat Latar Belakang Sedetail Mungkin

Sama halnya seperti manusia di dunia nyata, pengalaman hidup si tokoh fiksi juga perlu dibangun. Mulai dari gambaran kehidupan sosialnya, sudut pandangnya terhadap lingkungan, serta perannya dalam masyarakat. Bahkan, merancang trauma masa lalu juga dapat membuat tokohmu lebih hidup.

Membuat tokoh itu nggak sekedar merancang nama, penampilan fisik, status sosial dan pekerjaannya. Hal-hal eksternal yang terjadi di luar tubuh si tokoh pun akan menarik jika dibuat dengan baik.

Latar belakang yang kamu buat pun akan membentuk perilaku tokohmu saat ini. Jangan sampai kamu membuat latar belakang yang berlebihan, hingga akhirnya tokohmu menjadi si Mary Sue.

Beberapa poin latar belakang yang dapat kamu kembangkan dapat mencakup hal di bawah ini.

  • Keluarga: berapa jumlah anggota keluarga inti yang ia miliki. Bagaimana hubungan dengan ayah, ibu atau saudaranya. Bagaimana pandangan tetangga tentang keluarganya. Cara orang tua mendidik si tokoh, dan lain-lain. 
  • Hobi: Kegiatan apa saja yang suka dilakukan si tokoh. Bagaimana ia menghabiskan waktu senggang. Klub apa saja yang ia ikuti saat di sekolah. Bagaimana suasana yang disukai si tokoh saat menjalankan hobi tersebut, dan lain-lain.
  • Pendidikan: Di mana si tokoh bersekolah. Apa jenjang terakhir pendidikannya. Apakah ia menyukai jurusan yang ia geluti. Bagaimana pandangannya tentang sistem pendidikan, dan lain-lain.
  • Kehidupan Sosial: Berapa banyak sahabat yang ia punya. Apakah ia lebih suka menyendiri atau hang out dengan banyak orang. Apakah ia canggung saat bertemu orang baru. Apakah ia suka menjaga tali silaturahmi. Bagaimana posisinya dalam sirkel pertemanan, dan lain-lain.
  • Status: Apakah ia punya pengalaman pacaran, berkencan bahkan menikah. Apakah ia lebih suka menjomblo. Bagaimana pandangannya tentang lawan jenis, dan sebagainya.

Masih banyak topik dan pertanyaan yang dapat kamu gali untuk memperkaya latar belakang si tokoh. Semakin panjang daftar pertanyaan yang kamu susun, maka tokoh pun akan semakin kompleks.

Tips: Agar kamu tidak terlalu lama menghabiskan waktu menyusun penokohan, pilihlah pertanyaan yang sekiranya paling relevan dengan alur ceritamu. Tenang aja, kamu selalu bisa kembali melengkapi penokohan meskipun ceritamu sudah berjalan.

Memperkaya Personaliti Karakter dengan Sifat yang Manusiawi

Seorang tokoh tidaklah lengkap jika ia tidak memiliki sifat yang manusiawi. Tapi, bagaimana sih sifat yang manusiawi itu?

Sifat manusiawi tentu berkaitan erat dengan perilaku yang berpihak pada rasa kemanusiaan kepada diri sendiri maupun orang lain. Sifat baik kepada diri sendiri contohnya rajin belajar, suka menabung, disiplin, dan lain-lain. Sifat baik kepada orang lain seperti suka menolong, ramah, atau mudah bergaul.

Agar tidak merasa kewalahan saat membangun watak si tokoh, kamu bisa memulai dengan menentukan 3 sifat utama dulu. Pilihlah sifat-sifat yang sekiranya akan memberikan dampak pada alur cerita, entah yang baik atau buruk.

Tips: Kalau kamu kebingungan mencari watak/sifat, bisa coba menggunakan Pinterest. Gunakan kata kunci seperti ‘list of good traits‘, ‘good traits for fiction’, dan sebagainya.

Tidak Ada Manusia yang Sempurna, Semua Orang Memiliki Kelemahan

Sama seperti manusia di dunia nyata, tokoh cerita yang menarik justru tokoh yang tidak sempurna. Loh, kok gitu?

Beberapa alasan kenapa tokohmu nggak harus punya kebaikan setingkat malaikat adalah:

  • pembaca dapat berempati kepada si tokoh
  • tokohmu terlihat relatable
  • alur cerita dapat berkembang
  • klimaks cerita terasa lebih tegang
  • di akhir cerita, tokohmu bisa mengevaluasi diri

Bayangin kalau tokohmu adalah jagoan yang nggak terkalahkan. Nggak usah repot-repot menggempur musuh dengan segala cara, sekali tonjok konflik pun selesai. Boring banget, ya?

Kalau tokohmu punya kelemahan, dia bisa belajar untuk menjadi lebih kuat, menyusun strategi yang lebih epik. Sehingga kemenangan dia di akhir cerita akan lebih berkesan kepada pembaca.

Sama seperti sifat baik di atas, cobalah tentukan 3 kelemahan yang dapat dimiliki si tokoh.

Tips: Salah satu metode membentuk personaliti tokoh yang aku gunakan adalah konsep Good Traits, Gone Bad. Metode ini membantu kamu untuk menentukan apakah sifat si tokoh membantu dalam merancang konflik. Coba cek, ya!

Tunjukkan Kegagalan yang Mereka Alami dan Buat Si Tokoh Menanggungnya

Dalam sebuah cerita, kesuksesan digambarkan sebagai buah yang manis. Setelah menghabiskan waktu memupuk, merawat dan menyiraminya dengan teratur, ternyata hasil yang didapatkan pun manis. Rasanya puas, kan, kalau buah yang dipetik begitu manis?

Namun, merancang kegagalan dapat menjadi bumbu pedas yang tidak boleh terlewatkan. Seperti kata pepatah bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Bisa jadi, dengan menunjukkan bahwa tokohmu pernah merasakan kegagalan, pembaca akan tergugah nuraninya. Mereka jadi lebih menginginkan si tokoh untuk menang di tantangan berikutnya.

Sebagai seorang pencipta karya fiksi, mungkin terkadang kamu merasa nggak tega untuk menyakiti tokoh ciptaanmu. Tapi, percayalah, membuat si tokoh merasakan sakit justru akan membuatnya jadi tokoh yang lebih hebat.

Yang perlu diingat adalah tokoh harus punya tujuan yang ia capai di akhir cerita. Supaya perjuangan si tokoh lebih berkesan, memperlihatkan penderitaan dan masa-masa sulit bakal bikin dia berkesan di mata pembaca.

Buatlah si tokoh merasakan sakit, baik fisik atau emosional. Dengan begitu, kamu dapat membuat ruang lebih besar bagi cerita dan tokohmu untuk bertumbuh. 

Misalnya: Setelah melalui berbagai hambatan, tokoh A tinggal selangkah lagi menuju pelaminan. Namun tiba-tiba pasangannya menghilang tanpa kabar. Dari kegagalan tersebut, tentu si tokoh A belajar bahwa ia harus berhati-hati dalam memilih pasangan di masa depan. 

Sementara itu, kegagalan yang kamu perlihatkan akan dapat membuat pembaca terenyuh. Apalagi jika mereka pernah mengalami hal serupa. Pembaca akan dapat melihat perjuangan si tokoh A sebagai hal yang manusiawi.

Buat si Tokoh Menghadapi Rasa Takut dan Tantangan

Setiap orang, termasuk kamu sebagai penulis, memiliki rasa takutnya sendiri. Mulai dari hal yang remeh seperti takut kecoa hingga yang mendalam seperti rasa takut ditinggalkan, takut disakiti, dan lainnya.

Semuanya berawal dari trauma yang mungkin nggak kamu sadari. Dalam situasi tertentu, ketakutan dan trauma itu pun muncul kembali setelah dipicu oleh sesuatu.

Meskipun kedengarannya kejam. Rasa takut dan trauma bisa menghadirkan ketegangan tersendiri ke dalam cerita. Efeknya pun langsung dapat dirasakan pembaca, dan kamu nggak perlu mengulur narasinya.

Tapi, perhatikan juga jangan sampai kamu meromantisasi rasa takut dan trauma itu ya. Selipkan saja rasa takut itu secara halus dan proporsional sebagi pelengkap cerita. Jangan sampai fokus pembaca malah ke trauma tersebut.

Dalam menulis rasa takut pun bukan berarti ia akan poof! hilang di akhir cerita. Tapi setidaknya buatlah si tokoh berani menghadapinya. Ia nggak harus langsung selesai dengan traumanya, cukup jadikan ketakutan itu sebagai katalis bagi si tokoh untuk berkembang.

Dari tips di atas, mana nih yang akan kamu coba dulu? Kalau masih bingung, yuk diskusi di kolom komentar di bawah!

Tinggalkan Komentar di Sini