Agar menjadi seorang penulis yang sukses, membangun rutinitas menulis adalah hal yang sangat dianjurkan. Tidak peduli berapa banyak target yang dapat kamu kejar hari ini, menghasilkan progres lebih baik daripada nggak sama sekali.
Tapi, kadang ada masanya kamu merasa jenuh saat sedang bekerja atau mengejar impian. Rasanya badan dan pikiran lelah banget, membuatmu enggan untuk lanjut berkarya lagi hari ini.
Kalau kamu udah merasa enggan menyentuh karyamu hari ini, hati-hati, oh. Jangan-jangan kamu sedang memasuki fase bournout.
Fase ini juga nggak pandang bulu. Mau penulis muda ataupun yang udah berpengalaman, fase burnout bisa menyerang siapapun. Bahkan jika dibiarkan, bisa-bisa akan membuatmu terus menunda berkarya hingga enggan untuk berproses kreatif lagi. Bahaya, kan?
Supaya kamu nggak kebablasan sampai burnout, ada baiknya kenali ciri-cirinya. Hal ini penting untuk diketahui supaya kamu bisa segera memperbaiki kesehatan fisik dan mentalmu.
Yuk, kenali ciri-ciri kamu memasuki fase burnout, baik dari segi fisik, mental hingga perilakunya.
Fase Burnout Menyerang Kesehatan Fisik
Setelah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar deadline, ada kalanya kamu merasakan kelelahan yang amat sangat di sekujur tubuh. Apalagi kalau sampai begadang dan melewatkan waktu makan. Waduh, badanmu pasti udah mengirimkan berbagai sinyal, yang bisa jadi saat ini sedang kamu abaikan.
Coba deh perhatikan apakah kamu mengalami hal-hal berikut belakangan ini:
- Sakit kepala yang berkepanjangan
- Rasa mengantuk tanpa sebab
- Sulit tidur atau insomnia
- Berkurangnya nafsu
- Imunitas menurun yang bikin gampang sakit-sakitan.
Jika kamu bingung kenapa kesehatan fisikmu terus menurun, bisa jadi kamu sedang memasuki fase burnout.
Bayangkan seperti ponsel yang terus menerus kamu pakai tanpa henti. Kamu memaksakan alat itu membuka berbagai aplikasi, mulai dari browsing internet, main game, dan lainnya. Lama kelamaan, ponsel di tanganmu akan terasa panas, kan? Nah, tubuhmu pun juga seperti itu.
Kalau fisikmu memperlihatkan tanda-tanda di atas, sebenarnya ia sedang mengirimkan sinyal. Tubuhmu udah nggak kuat buat bekerja, tapi kamu mengabaikan hal tersebut. Makanya, berikan jeda untuk istirahat di sela-sela pekerjaanmu.
Solusi: Luangkanlah waktu untuk berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari. Enggak perlu pergi ke gym, cukup melakukan peregangan di rumah, berjalan kaki keliling kompleks, atau mencoba meditasi.
Tetapkan waktu tidur setidaknya 6-8 jam setiap hari, kurangi junk food, perbanyak makan buah dan sayuran. Dan hal yang nggak boleh terlupa adalah minum air putih supaya badan segar kembali.
Fase Burnout Menyerang Sisi Emosional
Apakah kamu merasa belakangan ini emosimu nggak stabil?
Misalnya:
- Uring-uringan, sering marah-marah
- Mudah tersinggung
- Kehilangan motivasi
- Merasa depresi
Kalau kamu merasa mengalami gejala di atas, bisa jadi kamu memasuki fase burnout secara emosional. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa kamu akan terjerat dalam gangguan kesehatan mental yang berlarut-larut dan sulit untuk sembuh.
Kalau emosimu gampang meledak-ledak, hal yang pertama perlu kamu lakukan adalah puasa media sosial. Membaca berbagai macam berita yang muncul di layar bisa-bisa malah memperparah kondisi mentalmu. Bila perlu, matikan notifikasi dan atur perangkatmu dalam mode Silent.
Solusi: Bila diperlukan, berkonsultasilah pada ahli kesehatan jiwa atau berbincang dengan seseorang yang kamu percaya. Mencurahkan perasaan dan pikiran akan dapat membantumu melawan kegelisahan yang mungkin terpendam karena tekanan yang kamu rasakan.
Aku menyarankan untuk mencoba kegiatan berbau seni, supaya energi negatif yang menumpuk di dalam tubuhmu tersalurkan pada hal yang bermanfaat.
Daripada cuma bengong, ada baiknya kamu menghabiskan waktu rehatmu dengan tetap aktif melakukan hal lain. Misalnya nonton film atau Netflix, baca buku, berkebun, menggambar, journaling, main gitar, dan lain-lain.
Siapa tahu kamu malah menemukan hobi atau skill baru yang selama ini belum terasah. Selain emosi jadi teregulasi, eh kamu ternyata punya bakat di bidang lain!
Fase Burnout Mengubah Habit Baik jadi Buruk
Kelelahan fisik dan/atau emosional yang tidak segera teratasi dapat mempengaruhi perilakumu sehari-hari. Gimana tuh maksudnya?
Misalnya, kamu adalah orang yang selalu disiplin. Setiap kali bekerja, kamu selalu memastikan melakukan dan menyelesaikan di jam yang sama. Dalam kamusmu, nggak ada tuh yang namanya buang-buang waktu.
Tapi, ketika memasuki fase burnout, tiba-tiba kamu berubah 180 derajat! Kamu jadi sering menunda-nunda pekerjaan, goal-mu nggak ada yang tercapai. Ngeliat progresmu semakin berantakan, akhirnya kamu ogah nyelesain tulisanmu. Waduh…
Nggak cuma disiplin waktu, burnout juga dapat mengganggu perilaku yang lain. Seperti caramu bersosialisasi, pengaturan pola makan dan diet sehat, sampai ambisi yang tiba-tiba meredup. Kamu nggak lagi mengenali dirimu yang dulunya penuh semangat.
Sekarang, kamu cuma meratapi dirimu yang udah berubah menjadi tertutup, makan berlebihan, jajan sembarangan, bahkan nggak peduli dengan mimpimu.
Apabila hal ini sudah terjadi, ini adalah tanda bahwa kamu harus STOP perilaku-perilaku buruk tersebut. Ini adalah tandanya kamu harus bangkit lagi dan menyusun kembali dirimu yang dulu.
Solusi: Keluarlah dari rutinitas yang belakangan ini rasanya membebanimu. Kalau kamu bisa mengubah kebiasaan baik jadi buruk, maka kamu pun bisa melakukan hal sebaliknya!
Kalau kamu biasa berdiam diri di rumah, luangkan waktu untuk berkegiatan di luar rumah. Mulai dari jalan-jalan, berkebun, main ke alam, sampai mampir ke kafe estetik buat sekedar minum latte.
Coba dengarkan podcast, TED Talk, atau membaca buku self-development untuk memacu semangatmu kembali. Decluttering barang-barang di kamar juga bisa memberikan dampak psikologis. Coba deh lihat sekeliling kamarmu. Kapan terakhir kamu membuang barang-barang yang tidak lagi diperlukan?
Kesimpulan
Nggak dapat dipungkiri, fase burnout adalah antitesis dari produktivitas. Kalau dibiarkan, fase ini bisa mempengaruhi kehidupanmu. Mulai dari kondisi fisik, emosi, hingga habit sehari-hari.
Jika setiap fase di atas telah kamu alami, segeralah bangkit dan lawan! Setiap rasa sakit dan kelelahan yang kamu hadapi dapat teratasi lewat kegiatan-kegiatan positif. Pastikan kegiatan yang kamu pilih memiliki manfaat baik untuk tubuh dan mentalmu untuk jangka panjang, ya.
Jangan merasa malu saat kamu sedang merasa burnout, karena fase tersebut wajar terjadi bagi mereka yang sedang mengejar mimpi. Kamu hanya perlu menemukan cara yang positif dan efektif untuk keluar dari jeratan rasa lelah yang berkepanjangan.
Setelah mengenal fase-fase di atas, yuk, bangkit lagi untuk berkarya bagi kalian yang sedang merasa burnout. Jangan sampai rasa negatif tersebut terus menghambat mimpimu, ya!
Semangat menulis!

Tinggalkan Komentar di Sini