Film ‘The Architecture of Love’ adalah film Indonesia garapan sutradara Teddy Soeriaatmadja. Mengangkat karya buku best-seller milik Ika Natassa, novel yang terbit di tahun 2016 ini memiliki tema romansa orang dewasa.
Mengisahkan Raia (Putri Marino), seorang penulis populer yang baru saja menikmati kesuksesan. Buku yang ia tulis berhasil diadaptasi menjadi sebuah film. Tapi, kehidupan Raia berubah ketika ia mendapati suaminya berselingkuh.
Sepulang dari after party peluncuran film, Raia memergoki Alam, suaminya, berselingkuh dengan wanita lain di malam itu.Patah hati karena pengkhianatan itu, Raia pun memilih kabur ke New York. Di sana, ia tinggal bersama sahabatnya, Erin, sambil bertahan hidup dan mengobati hatinya yang hancur.
Permasalahan rumah tangga tersebut pun membuat Raia terjebak dalam writer’s block berkepanjangan. Sebagai sahabat yang baik, Erin berusaha menghibur Raia dengan mengajaknya ke sebuah pesta. Niat makcomblang Erin bubar di tengah jalan ketika Raia bertemu dengan River (Nicholas Saputra).
Sosok River yang pendiam dan misterius mulai menarik hati Raia. Pertemuan mereka yang singkat tidak menghalangi keduanya untuk saling mengenal. Raia yang sedang mengerjakan proyek tulisan baru, memilih untuk menghabiskan waktu dengan River berkeliling New York. Luasnya pengetahuan River tentang sejarah bangunan di kota metropolitan itu membuat hari-hari Raia bersinar lagi.
Namun, semakin sering mereka meluangkan waktu bersama, semakin Raia menyadari bahwa River memiliki ‘bagasi’ yang ia sembunyikan. River terus menghindar dari Raia ketika hubungan mereka semakin personal. Bahkan, ia menghilang tanpa kabar dari kehidupan Raia, yang membuat perempuan itu bingung.
Tapi, kenapa sih perjalanan karakter Raia dan River untuk saling mengenal ini sangat seru untuk diikuti? Padahal masih ada laki-laki lain di sekitar Raia yang memperlakukannya layaknya seorang gentleman.
Yuk, coba simak alasan mengapa pasangan dalam film ‘The Architecture of Love’ jadi couple yang shipable.
1.Kesamaan Latar Belakang: Masa Lalu yang Kelam
Serupa tapi tak sama, Raia dan River membawa kisah masing-masing yang turut membentuk pribadi mereka dan membuat keduanya saling terhubung.
Raia dan River sama-sama bekerja di bidang seni, meski menekuni profesi yang berbeda. Raia adalah seorang penulis sukses. Sementara itu, River adalah seorang arsitek yang bekerja di biro konsultan dan bekerja sama dengan klien luar negeri.
Selain karir, mereka juga mengalami patah hati mendalam yang menyebabkan keduanya enggan memulai hubungan baru.
Raia yang menyaksikan suaminya berselingkuh di depan matanya dan sedang menjalani perceraian. Di sisi lain, River menyalahkan dirinya sendiri atas kematian istrinya karena kecelakaan lalu lintas.
Meski masa lalu masih menghantui, keduanya memanfaatkan kehadiran masing-masing untuk menjalani hidup. River yang berpengetahuan luas membuka pandangan Raia tentang New York. Raia yang ramah dan bersahabat membuat River nyaman berada di dekatnya.
2.Adanya Ketegangan Saat Menemukan Masalah dalam Hubungan Mereka
Salah satu sifat buruk River yang tidak Raia sukai adalah kebiasaannya menghilang tanpa kabar.
Bagi Raia yang masih trauma dengan perceraian dengan suaminya, ia merasa sulit untuk memahami sikap River. Komunikasi yang terputus di antara mereka membuat Raia gusar, membuatnya bingung bagaimana perasaan River yang sebenarnya.
Sementara itu, River harus berhadapan dengan konflik internal yang mempengaruhi hubungannya dengan Raia. Kehilangan istrinya di saat paling membahagiakan membuat River trauma. Hal itu membuatnya takut dengan perasaannya kepada Raia. Ditambah lagi, River menyadari bahwa adiknya ternyata juga menyukai Raia.
3.Level Romantisme yang Wajar dan Sehat
Meskipun perjalanan romansa Raia dan River mengalami pasang surut, masih ada momen-momen manis yang meninggalkan kesan pada penonton. Keduanya saling melempar kelakar dan menghabiskan waktu bersama-sama di kota New York.
Ditambah lagi, konflik antara Raia dan River yang berangkat dari kesalahpahaman, ternyata berakhir dengan penyelesaian yang dewasa.
Ika Natassa memasukkan tema kesehatan mental sebagai konflik internal yang dialami River. Konflik ini menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh keduanya. Bagi yang tidak mengetahui masa lalunya, River yang meledak marah saat bersama Raia bisa dianggap sebagai red flag.
Ternyata, hal tersebut ada akar permasalahannya, yaitu saat River kehilangan istrinya yang meninggal karena kecelakaan. Trauma masa lalu itu membuat River menjadi pribadi yang menutup diri dari Raia.
Ledakan emosi River di mobil saat menyuruh Raia untuk mengenakan sabuk pengaman turut memperlihatkan emosi yang terpendam.
Begitu ia menunjukkan kelemahannya, Raia pun mulai memahami mengapa River selalu lari darinya. Meskipun Raia tidak mengalami kehilangan yang sama, ia dapat berempati pada River dan memberikan ruang baginya untuk sembuh dari luka.
Raia tidak memaksakan perasaannya kepada River, dan ia bersedia menunggu hingga pria itu siap untuk memulai cerita baru bersamanya.
4.Tokoh Pembantu yang Mendukung Pasangan Utama untuk Bersama
Salah satu hal yang tidak aku sangka saat menonton The Architecture of Love adalah sikap Aga, adik dari River. Padahal ia memiliki peluang untuk menjadi kekasih Raia, tapi ia memilih untuk mundur.
Padahal, Aga adalah sosok yang baik, gentleman dan memperlakukan Raia dengan sopan. Meski ia melakukan berbagai usaha untuk menarik hati Raia, Aga pun akhirnya memilih mundur. Ia melihat Raia sebagai sosok yang dapat menyembuhkan luka hati River.
Entah karena durasi film atau gambaran sosoknya serupa dengan buku ‘The Architecture of Love’, watak Aga dalam film begitu sederhana. Dengan mudah Aga berubah pikiran dan melepaskan Raia begitu saja demi kakaknya. Padahal, Aga juga bukan sosok red flag.
Tapi, dibandingkan dengan tokoh pendukung lain dalam cerita, kehadiran Aga mungkin menjadi sosok satu-satunya yang dapat menguatkan River.
5.Momen-Momen Manis dan Canggung
Agar cerita romansa makin bikin gemes, tentu saja tidak boleh melupakan momen-momen manis maupun canggung. Film ‘The Architecture of Love’ pun nggak meninggalkan momen-momen tersebut.
Seperti Raia dan River yang menghabiskan waktu bersama berkeliling New York. Mereka duduk di depan museum sambil bercerita tentang sejarah dan kisah unik berbagai gedung di New York.
Ada juga Raia yang tampak gugup saat memilih baju yang tepat untuk pergi makan malam bersama River.
Pertemuan kembali antara Raia dan River di sebuah rumah pinggir kota milik River juga menjadi bumbu canggung dalam cerita. Pasalnya, River sempat menghilang tanpa kabar sebelum mereka bertemu kembali. Meskipun terasa canggung, kesalahpahaman yang sempat terjadi di antara mereka pun dapat terselesaikan.
Kesimpulan
Dengan berbagai momen romansa yang terdapat dalam ‘The Architecture of Love’, film ini terasa menarik untuk diikuti. Ringan, tapi tetap memperlihatkan hubungan yang dewasa di antara dua tokoh utamanya.
Berbagai kriteria dalam menciptakan shipable couple pun ditampilkan dalam film ini. Seperti latar belakang yang serupa, momen-momen canggung, tokoh pembantu yang mendukung, level romantisme yang wajar, serta ketegangan yang tercipta di tengah masalah.
Menulis kisah romansa tidaklah hanya sekedar menunjukkan adegan cinta-cintaan. Konflik yang mengulik persamaan dan perbedaan di antara pasangan utama, menjadi pusat dari sebuah cerita romansa. Melalui konflik itu juga, penonton dibawa larut dalam cerita sehingga mereka menginginkan ending yang bahagia untuk si tokoh.

Tinggalkan Komentar di Sini