Salah satu nasehat yang aku terima ketika memutuskan untuk fokus menjadi penulis adalah menjaga konsistensi dalam berkarya. Karena aku belum tahu bagaimana mengatur jadwal dengan benar, yang seringkali terjadi adalah aku justru mengalami kebuntuan.
Mulai dari mood yang naik turun, kehabisan ide untuk menulis, merasa terbebani untuk membuat konten. Sampai akhirnya aku nggak menghasilkan karya apapun.
Kondisi seperti itu dikenal dengan istilah writer’s block.
Writer’s block adalah menurunnya kemampuan dan kreativitas seorang penulis untuk menghasilkan maupun melanjutkan karya.
Pemicunya pun bisa beragam. Mulai dari stres, rasa cemas, kurangnya inspirasi, nggak pede, bahkan gangguan pada otak.
Padahal, menjaga mood dan disiplin dalam berkarya penting banget buat penulis, apalagi yang baru mulai menggeluti bidang ini. Apalagi buat kamu yang nggak terbiasa disiplin, menghadapi writer’s block bisa bikin kewalahan.
Menjadi penulis yang tergantung mood itu juga nggak baik untuk jangka panjang, loh. Kalau hal tersebut menjadi kebiasaan, bisa-bisa karyamu akan lama selesainya. Supaya terus produktif nulis, yuk coba ikuti beberapa tips berikut!
Siapa tahu dapat menginspirasimu untuk melawan writer’s block.
Lompat ke:
- Mengekspresikan Diri Lewat Media Seni Lain
- Ganti Suasana
- Pecah Goal Besar Menjadi Goal-goal Kecil
- Tanam Mindset “Saya Tidak Sempurna”
- Diskusi dengan Seseorang
Mengekspresikan Diri Lewat Media Seni Lain
Berkesenian erat kaitannya dengan ekspresi emosi dan pikiran si seniman. Apapun yang sedang kamu rasakan saat ini, ada baiknya emosi tersebut tetap tersalurkan dengan cara lain, meski tidak lewat menulis.
Coba deh eksplorasi kegiatan seni lain. Supaya nggak bosan, coba lakukan kegiatan yang medianya berbeda dari menulis. Misalnya menggambar, memotret, menari, menyanyi, bikin kliping, bahkan berakting. Siapa tahu ternyata kamu berbakat di bidang itu juga, kan?
Yang perlu diingat, goal dari mencoba kegiatan seni tersebut bukanlah menjadi ahli, tapi mencari inspirasi baru. Jadi, nggak perlu malu kalau kamu nggak jago-jago amat! Yang penting kamu berani mencoba dan punya kegiatan lain yang dapat mengalihkan pikiranmu sejenak.
Kalau kamu bingung gimana memulainya, coba cari komunitas-komunitas yang menaungi para penggiat kegiatan tersebut. Mau yang online ataupun offline, sesuaikan semuanya dengan kebutuhanmu.
Setelah mencoba kegiatan seni tersebut, jangan lupa kembali ke draft tulisanmu, ya. Jangan sampai keasyikan mencoba hal baru sampai lupa tujuan utama.
Ganti Suasana
Bila kamu adalah penulis yang biasanya berkarya di rumah, cobalah pergi keluar untuk mencari pemandangan baru. Mulai dari mampir ke cafe yang friendly untuk WFC, berolahraga, hingga jalan-jalan ke alam.
Main-main ke tempat umum yang erat kaitannya dengan kegiatan seni juga bisa dicoba. Seperti main ke museum sejarah, bersantai di festival musik atau ke perpustakaan juga seru!
Selain meredakan stress, manfaatkan kegiatan di luar rumah untuk mencari inspirasi baru. Coba deh amati hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Misalnya ada kucing jalanan yang sedang tidur siang, anak kecil yang bermain balon, pengunjung yang saling ngobrol, dan lain-lain.
Jangan lupa untuk membawa buku catatan kecil dan pena, supaya ketika inspirasi baru muncul kamu bisa segera mencatatnya.
Pecah Goal Besar Menjadi Goal-goal Kecil
Ada kalanya writer’s block terjadi ketika kamu merasa stres akibat terbebani dengan target yang ingin kamu capai.
Misalnya, kamu sudah membuat target untuk dapat menulis 10.000 kata dalam sebulan. Selama 2-3 minggu, kamu mencoba fokus mencapai target tersebut. Tapi ketika melihat kalender, waktunya udah dekat banget dengan deadline! Eh, tulisanmu belum juga mendekati angka 10.000…
Karena merasa tertekan, akhirnya kamu merasa down dan mencap dirimu gagal. Mungkin kamu jadi berpikir ‘ngapain buat target kalau nggak bisa terpenuhi’. Pikiran yang negatif itu dapat terus bertumpuk yang akhirnya membuatmu terperangkap dalam writer’s block. Waduh…
Kalau saat ini kamu ada di fase tersebut, yuk segera STOP!
Nggak mencapai target yang sudah kamu tentukan bukanlah akhir segalanya. Coba deh, berhenti sejenak dan evaluasi rutinitasmu belakangan ini. Bisa jadi ada banyak faktor yang menyebabkanmu akhirnya nggak bisa mencapai target. Mungkin belakangan kamu sibuk sekolah, bekerja, menghadapi ujian semester, atau menghadapi situasi darurat yang nggak bisa ditinggalkan.
Setelah melihat berapa banyak faktor yang mempengaruhi rutinitasmu, segera break down target itu. Goal besarmu yang awalnya menjadi target sebulan, pecahlah menjadi goal kecil harian.
Aku coba mengambil contoh di atas, ya. Jika target di awal kamu menentukan harus menulis 10.000 kata sebulan, maka pecahlah menjadi 100-200 kata per hari. Kamu juga dapat menentukan sendiri apakah kamu mau menulis setiap hari, hanya di akhir pekan, atau setiap hari-hari tertentu.
Melihat angka dari 10.000 menjadi 100 saja, rasanya sudah mengangkat tekanan yang kamu rasakan, kan?
Selama proses memecah goal ini pun, pastikan kamu merasa termotivasi untuk melakukannya. Nikmatilah prosesnya, bukan hasill akhirnya. Karena mengerjakan hal yang kita sukai itu harusnya nggak menjadi beban, tapi menjadi tantangan.
Tanam Mindset “Saya Memang Tidak Sempurna, Tapi…”
Salah satu musuh terbesar dari seorang penulis adalah mindset menjadi seorang perfeksionis.
Sikap perfeksionis adalah keyakinan seseorang di mana ia harus melakukan segala sesuatunya dengan sempurna. Kalau nggak terlihat perfect di mata orang, rasanya itu bukan diri kita yang sebenarnya. Eits, siapa bilang?
Standar yang ketinggian itu justru nggak menunjukkan bahwa kita baik di mata orang lain, justru sebaliknya. Tahu nggak sih sikap perfeksionis itu sebenarnya muncul dari rasa minder?
Minder karena orang lain lebih baik dari kamu, jadi kamu harus lebih baik daripada mereka.
Minder karena orang lain lebih sukses dari kamu, jadi kamu harus lebih sukses daripada mereka.
Duh, capek banget nggak sih mindset kayak gitu? Kenapa kamu sibuk memikirkan pendapat dan pencapaian orang lain, padahal orang lain belum tentu mikirin kamu?
Sikap perfeksionis itu ibarat benalu yang menempel pada pohon. Kalau dibiarkan terus menerus, ia bakal tumbuh dan menyedot habis energi-energi baik dari si pohon, sampai akhirnya mati. Padahal kalau kamu adalah si pohon, harusnya kamu yang tumbuh sehat, bukan benalunya.
Kalau kamu sudah kehilangan semangat, apa iya orang-orang di sekitarmu akan menolongmu? Nggak sih. Mereka pasti sibuk dengan pencapaian mereka masing-masing.
Menjadi seseorang yang tidak sempurna tidak mengurangi nilaimu sebagai penulis, kok. Bahkan, ketidaksempurnaan adalah hal yang wajar. Kalau kamu merasa stuck dalam mindset mengejar kesempurnaan, coba pakai kalimat afirmasi ini untuk mengembalikan fokusmu:
“Aku memang tidak sempurna, tapi aku …”
Isilah titik-titik itu dengan hal-hal yang kamu sukai tentang dirimu. Misalnya, kamu orang yang kreatif, disiplin, tekun, humoris, dan lain-lain. Fokuslah pada kata-kata baik setelah kata ‘tapi’, karena itulah dirimu yang sebenarnya.
Diskusi dengan Seseorang
Ada yang bilang penulis yang baik adalah seorang pendengar yang baik pula. Karena karya kita nantinya akan dibaca oleh orang lain, maka kita harus berani membuka diri untuk menerima kehadiran mereka. Nggak cuma soal kritik, tapi juga terbuka dengan hal-hal lain seperti riset, data, pengalaman hidup, hingga topik-topik umum.
Kamu bisa mulai berdiskusi dengan orang-orang terdekat, seperti teman, sahabat, mentor, rekan kerja, saudara, hingga orang tua. Tapi, pastikan juga orang yang kamu ajak diskusi itu memang suka berbagi pandangan mereka, ya. Jangan asal sembarangan pilih orang, karena bisa-bisa kamu malah down karena obrolan kalian nggak nyambung.
Kalau kamu nggak punya teman diskusi yang dekat denganmu, banyak loh komunitas penulis di luar sana. Berkenalan dengan orang baru di bidang yang sama juga dapat memberikan insight lebih mendalam.
Tidak semua diskusi yang kalian lakukan harus kamu terima, tapi cobalah untuk membuka pandanganmu terlebih dahulu. Jadilah gelas kosong yang siap diisi dengan ilmu baru. Setelah gelasnya penuh, baru deh kamu bisa mengisi dirimu dengan hasil diskusi yang kira-kira membantu menyelesaikan masalahmu.
Dari 5 tips di atas, apakah udah ada yang pernah kamu coba? Kalau memang konten ini bermanfaat, jangan lupa untuk share dan tinggalin komentar di bawah, ya!
Cek artikel lainnya dengan klik pada tag yang tertera, ya. Semangat nulis!

Tinggalkan Komentar di Sini