Cerita romansa adalah salah satu genre dalam cerita fiksi yang populer. Berpusat pada jalinan cinta antara dua tokoh utama, cerita romansa telah ada selama berabad-abad. Biasanya, cerita bertema romansa banyak mengeksplorasi cinta dan hubungan antara dua manusia.
Beberapa alasan mengapa cerita romansa sangat populer adalah:
- Tema universal tentang cinta itu sendiri. Kisah tentang hubungan antar manusia, patah hati, dan pencarian jati diri dalam menjalin cinta telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Keberadaan cerita romansa dipercaya dapat mewakili sisi kehidupan tersebut.
- Pencarian hubungan emosional yang didambakan oleh pembaca. Tidak jarang pembaca menjadikan cerita romansa sebagai tempat mengeksplorasi dan mengenal berbagai macam emosi manusia. Mulai dari rasa suka, benci, dendam, kesetiaan hingga patah hati.
- Pelarian dari kehidupan nyata. Tidak semua orang pernah mengalami rasanya jatuh cinta, hingga patah hati. Cerita romansa juga menawarkan fantasi kehidupan romantis yang sempurna antara dua tokohnya. Selain itu, pembaca juga dapat melupakan rasa cemas dan khawatir tentang dunia nyata dan larut dalam benak mereka untuk sejenak.
- Happy Ending. Meski memiliki akhir yang bervariasi, adegan happy ending adalah salah satu penyelesaian sebuah cerita yang paling didamba pembaca. Nggak ada yang lebih berkesan selain melihat dua tokoh yang melewati berbagai masalah, akhirnya dapat bersama.
- Berkembangnya tokoh dalam cerita adalah salah satu daya tarik yang dimiliki oleh genre romansa. Misalnya, tokoh yang awalnya tidak dewasa di awal, perlahan memahami bagaimana mencintai yang sesungguhnya. Atau tokoh yang patah hati dan tidak percaya pada cinta, mulai belajar membuka hati pada orang lain.
- Pengaruh perkembangan budaya dan kehidupan sosial tidak jarang menjadi unsur yang melekat dalam cerita romansa. Budaya, adat, peran, hingga stigma gender, menjadikan cerita romansa salah satu media yang dapat mengangkat isu di masyarakat.
Agar cerita romansa yang kamu buat dapat membuat pembaca gregetan, berikut beberapa tips yang bisa kamu coba.
Daftar Isi
- Beri Alasan Pasangan Itu Dapat Bersama
- Bangun Ketegangan
- Tulis Romansa yang Sehat, Hindari Romantisasi Perilaku Buruk
- Manfaatkan Sudut Pandang Tokoh Pendukung
- Selipkan Momen Canggung yang Bikin Gemas
- Kesimpulan
Beri Alasan Pasangan Itu Dapat Bersama
Elemen-elemen inti sebuah cerita pada dasarnya harus memiliki tokoh, konflik dan penyelesaian.
Hal yang unik dari sebuah cerita romansa adalah genre ini setidaknya melibatkan dua orang tokoh. Karena ada dua orang yang menghadapi konflik, maka kamu harus adil nih dalam membuat penokohannya. Jangan sampai cuma tokoh A aja yang hidupnya masalah melulu, sementara B bahagia-bahagia aja.
Makanya, penokohan yang detil penting juga dalam cerita romansa.
Contohnya seperti topik ‘Enemies to Lovers’. Misalnya, kamu membuat tokoh A dan B saling bermusuhan. Tidak hanya berbeda secara fisik, tapi prinsip, watak dan latar belakang mereka juga saling bertentangan.
Loh, terus gimana dong caranya bikin mereka jadi suka satu sama lain?
Caranya adalah tentukan setidaknya satu kesamaan di antara mereka. Kesamaan ini bisa mulai dari hal kecil hingga prinsipil. Misalnya, tokoh A dan B ternyata punya hobi yang sama, suka makanan yang sama. Atau, bisa jadi tokoh A dan B paling nggak betah melihat kucing jalanan disiksa, dan lain-lain.
Dalam skala yang lebih besar lagi, misalnya A dan B menghormati tokoh C yang sama-sama mereka kenal. Mereka punya misi gimana caranya supaya tokoh C lepas dari masalah yang menimpanya. Mau nggak mau, A dan B harus bekerja sama dan melakukan segala cara supaya si tokoh pendukung ini bahagia.
Kalau pun kamu berangkat dari hal yang kecil, jangan remehin kekuatannya, ya! Kamu bisa banget kok ngembangin hal tersebut dengan caramu sendiri. Kalau kamu berhasil mengembangkan hal tersebut dalam cerita, pasti pembacamu akan lebih terkesan.
Bangun Ketegangan
Agar rasa greget dan penasaran pembaca perlahan terbangun, hindarilah membuat plot yang isinya hanya sekedar cinta-cintaan. Memang sih, cinta-cintaan bisa jadi sebuah fase yang bikin gemas pembaca. Tapi, roda kehidupan kan selalu berputar.
Begitupun romansa. Kalau ada masa manis, pasti ada masa pahitnya juga. Jangan sampai kamu lupa untuk mengeksplor sisi pahit dari percintaan, supaya ceritamu nggak terkesan monoton.
Percaya deh, pembaca bakal lebih terkesan ketika melihat pasangan dalam ceritamu bisa melewati masa-masa sulit bersama. Kamu harus bisa tunjukkin bahwa kekuatan cinta juga nggak akan runtuh meskipun tokoh-tokoh itu sedang mengalami kesulitan.
Sesuaikan proporsi adegan cinta-cintaan dengan konflik yang kamu pilih untuk ditampilkan dalam cerita. Setelah melewati ketegangan yang menguras lahir batin, momen cinta-cintaan bisa jadi reward supaya mood pembacamu stabil agi.
Tulis Romansa yang Sehat, Hindari Romantisasi Perilaku Buruk
Dalam menyusun cerita romansa, berhati-hatilah dalam membedakan mana romansa yang sehat dan toxic.
Pertengkaran, adu argumen, hingga kekerasan adalah hal yang wajar terjadi antara pasangan yang saling mencintai. Bahkan di kehidupan nyata, peristiwa-peristiwa yang aku sebutkan pun sering terjadi.
Tapi, yang ingin aku tekankan di sini adalah peran penulis dalam menyusun cerita. Kamu harus dapat menunjukkan bagaimana kedua tokoh tersebut saling bereaksi ketika sedang menghadapi masalah.
Sebagai gambaran, coba kamu baca contoh cerita berikut.
Cerita 1:
- Pembukaan: A dan B telah menikah selama 5 tahun. Rumah tangga mereka selama ini baik-baik saja.
- Konflik: Tapi, A merasa belakangan ini perilaku B telah berubah. Ia sering berteriak, emosi, hingga memaki dengan kata-kata tidak pantas. Mereka sudah melakukan segala cara untuk memperbaiki hubungan, mulai dari konseling, hingga diskusi dengan orang tua.
- Klimaks: Kesabaran A pun habis ketika B akhirnya berani main tangan.
- Penyelesaian: A memutuskan untuk melawan dan melaporkan B ke polisi.
Cerita 2:
- Pembukaan: A dan B telah menikah selama 5 tahun. Rumah tangga mereka selama ini baik-baik saja.
- Konflik: Tapi, A merasa belakangan ini perilaku B telah berubah. Ia sering berteriak, emosi, hingga memaki dengan kata-kata tidak pantas. Mereka sudah melakukan segala cara untuk memperbaiki hubungan, mulai dari konseling, hingga diskusi dengan orang tua.
- Klimaks: Kesabaran A pun habis ketika B akhirnya berani main tangan. Penyelesaian: Meski begitu, A masih sangat mencintai B dan tidak ingin berpisah darinya. A yakin suatu saat nanti B akan kembali seperti dulu.
Dari dua cerita di atas, apakah kamu dapat membedakan mana hubungan yang sehat dan toxic?
Dari Cerita 1, kamu dapat melihat bahwa A berusaha melakukan sesuatu dengan melakukan perlawanan, sesuai dengan kemampuannya. Sementara di Cerita 2, A tetap menerima B apa adanya, meski tidak ada jaminan B akan menjadi orang yang baik.
Cerita 2 adalah contoh meromantisasi hubungan toxic. Memang sih, masih ada unsur cintanya. Tapi, apa iya membiarkan kekerasan berlanjut sampai akhir cerita adalah solusi yang baik?
Jika pembacamu telah memiliki pengalaman dalam melawan hubungan toxic, mungkin mereka dapat memberikan feedback yang baik. Tapi, gimana kalau pembacamu masih polos dan nggak punya pengalaman soal cinta?
Oleh karena itu, kamu harus berhati-hati dalam menentukan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Jangan sampai mereka menilaimu sebagai penulis yang menormalisasi hubungan nggak sehat.
Manfaatkan Sudut Pandang Tokoh Pendukung
Kamu udah menerapkan poin-poin di atas dalam ceritamu, tapi rasanya hubungan tokoh A dan B masih juga nggak kuat.
Manfaatkanlah tokoh-tokoh terdekat di sekitar kehidupan A dan B, sebagai ‘saksi mata’ dari kisah romantis mereka. Gunakan sudut pandang tokoh seperti sahabat, teman kerja, orang tua, atau saudara yang selama ini mengamati hubungan A dan B.
Misalnya, si B merasa ragu untuk menyatakan cinta pada A. Lalu, si B curhat kepada C, sahabatnya, tentang perasaan ragu tersebut. C bisa memberikan sudut pandang positif atau negatif, dan meyakinkan bahwa keputusan B sudah tepat.
Dengan memberikan peran di saat tokoh B sedang galau, pembaca akan melihat si tokoh C bukan sekedar pengisi cerita semata. Meskipun nggak muncul di setiap adegan, sedikit sudut pandang mereka aja bisa loh membangun chemistry tokoh utamamu jadi lebih kuat. Keren, ya?
Selipkan Momen Canggung yang Bikin Gemas
Orang bilang berantem kecil adalah bumbu-bumbu romansa.
Seperti di dunia nyata, tidak ada hubungan cinta yang sempurna. Meski dua orang saling menyayangi, pasti ada aja argumen kecil yang bikin gemes dan terselip dalam dialog mereka.
Agar hubungan pasangan dalam ceritamu terasa lebih ‘manusiawi’, jangan lupa untuk memasukkan momen-momen canggung. Menurutku, momen canggung adalah hak yang harus diberikan kepada pembaca, apalagi untuk cerita romansa.
Hal-hal yang bikin deg-deg-ser seperti kencan pertama. Tokoh A merasa berdebar saat ingin menggandeng tangan. Mata yang nggak sengaja saling bertemu, dan adegan cringe lainnya bisa jadi hiburan yang menyenangkan.
Tempatkan adegan-adegan bikin gemas tersebut saat rasa suka di antara mereka perlahan mulai tumbuh. Meski kesannya remeh, tapi adegan kecil seperti ini bisa menghidupkan romansa juga, kok.
Kesimpulan
Sebagai salah satu genre populer dalam dunia fiksi, cerita romansa tidak hanya sekedar menyajikan hubungan penuh cinta-cintaan si pasangan utama.
Kisah cinta dalam ceritamu akan terasa makin hidup ketika kamu bisa membangun nuansa yang tepat. Meskipun terlihat remeh, justru hal-hal yang kecil bisa menghidupkan cerita jika diselipkan pada adegan yang perlu bumbu-bumbu manis.
Tentukanlah kesamaan yang dapat dimiliki oleh kedua tokohmu, selipkan ‘rasa pahit’, hindari romantisasi hubungan toxic, libatkan para tokoh pendukung. Lalu, jangan lupa masukkan momen-momen manis yang bikin gemas.
Genre romansa adalah salah satu tema yang keberadaannya tidak lekang oleh waktu, terus diminati pembaca dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Oleh karenanya, bangunlah chemistry antar tokoh cerita untuk meninggalkan kesan dan pengalaman tentang cinta yang mendalam kepada pembaca.
Semangat menulis!

Tinggalkan Komentar di Sini