Di masa kuliah dulu, aku pernah secara aktif bergabung dengan komunitas penulis sebagai sekedar hobi. Melalui kegiatan itu, aku berkenalan dengan banyak orang, mengasah skill bahasa Inggris, serta belajar bagaimana membuat kalimat yang baik.
Meski dengan skill pas-pasan, aku merasa menikmati waktuku menulis sambil berinteraksi dengan banyak orang. Sayangnya, komunitas tersebut tidak lagi aktif karena konten yang ditawarkan tidak lagi relevan saat ini.
Ketika pandemi COVID-19 membatasi gerak-gerik masyarakat, aku melihat fenomena yang menarik: kegiatan menulis menjadi populer kembali. Tidak hanya sekedar menjadi hobi, kini mengunggah karya secara daring ternyata dapat menghasilkan.
Platform menulis yang dulunya terbatas, kini telah berkembang pesat dan menjanjikan keuntungan yang bisa dibilang menggiurkan bagi mereka yang konsisten. Menulis di blog kembali menjadi populer, ditambah lagi kehadiran media sosial sebagai sarana berekspresi kini telah dapat dimonetisasi.
Sayangnya, aku sempat melewatkan puncak merebaknya fenomena kepenulisan karena masih kerja kantoran. Tapi, kini aku sudah resign dan fokus pada kegiatan menulis yang telah menjadi impianku sejak kecil.
Bagi kamu yang merasa terlambat untuk terjun ke dunia penulisan sepertiku, jangan khawatir! Meski persaingan terasa ketat, masih ada kok ruang bagimu untuk berkembang dan menghasilkan dari menulis di media sosial.
Supaya kamu tetap semangat menulis, yuk, simak tips berikut!
1. Mulai Aja Dulu!
Salah satu kutipan menarik yang sempat aku lihat beredar di media sosial adalah kurang lebih seperti ini:
“Ketika kamu merasa ragu-ragu saat ingin melakukan sesuatu, sebenarnya itu adalah pertanda bahwa hal tersebut sangat penting bagimu.”
Kegiatan dasar seperti makan, bernafas, mandi, semuanya adalah hal yang baik bagimu. Tapi, hal-hal tersebut tidaklah terasa spesial karena kamu sudah terbiasa melakukannya.
Melakukan hal baru yang tidak pernah kamu coba sebelumnya akan terasa tidak nyaman ketika kamu berpikir untuk melakukannya. Ibaratnya, seperti ‘spider-sense’ yang menganggap hal baru tersebut sebagai ancaman yang berbahaya.
Jadi, ketika kamu menemukan hal baru yang ingin kamu coba, justru waktunya untuk meyakinkan diri dengan bilang: MULAI AJA DULU!
Enggak usah terlalu jauh mikirin hasil akhir atau prestasi apa yang akan kamu capai. Yang penting, mantapkan niat kamu untuk berani memulai.
2. Tentukan Niche yang Ingin Kamu Tulis
Setelah kamu memutuskan untuk berani memulai, langkah berikutnya adalah menentukan niche yang ingin kamu tulis.
Apa sih niche itu?
Menurut kamus Merriam-Webster, niche dapat diartikan sebagai tempat, pekerjaan, status, atau aktivitas yang paling cocok untuk seseorang.
Setiap dari kita pasti memiliki preferensi atau hal-hal yang disukai. Ketika kita memiliki hal atau hobi favorit, kecenderungan untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentangnya pasti lebih besar.
Misalnya, kamu punya hobi memasak atau suka mencoba resep-resep unik di internet. Nah, niche kamu adalah ‘memasak’ atau ‘resep masakan’.
Dalam konteks pembuatan konten, niche adalah topik atau segmen spesifik yang menjadi fokus dalam penulisan konten. Agar kamu dapat memiliki banyak ide tentang hal yang ingin ditulis, maka pilihlah niche yang paling kamu kuasai dan sukai.
Contohnya seperti K-Pop, kuliner, film, politik, ekonomi, rumah tangga, anak, kesehatan, dan lain-lain.
Sebagai pemula, pilihlah satu niche terlebih dahulu, lalu fokuskan diri untuk mengembangkan ilmu dan skill-mu di topik tersebut.
3. Tentukan Jadwal yang Pasti
Hal lain yang membantu kamu menjadi produktif dalam berkarya adalah mengasah kemampuan untuk konsisten pada jadwal.
Yes, menurutku menjadi konsisten itu butuh skill. Nggak cuma sekedar teguh pada pendirian, tapi juga berdisiplin dalam mengelola waktu dan emosi.
Sama halnya ketika kamu berangkat sekolah, kuliah atau kerja. Dari jam 8 pagi hingga 4 sore, kamu harus konsisten belajar atau bekerja untuk memenuhi target hari itu.
Membuat konten pun butuh sikap konsisten yang sama. Bedanya, kamu bebas menentukan kapan jadwal yang pas untuk menyusun dan mengunggah kontenmu.
Semakin detil jadwal yang kamu buat, maka tuntutan untuk bertanggung jawab dalam membuat konten tentu semakin besar.
Contohnya, aku membuat komitmen untuk mulai menyusun konten pada jam 9 pagi. Jadi, sebelum jam 9, aku sudah harus mempersiapkan diri. Mulai dari bangun pagi, sarapan, membuat kopi, dan mandi.
Contoh lainnya, aku berkomitmen untuk membuat draft tulisan mulai dari hari Senin hingga Kamis, lalu mengunggah konten di akhir pekan.
Tapi jika kamu merasa berat membuat jadwal seperti di atas karena alasan sekolah atau pekerjaan, nggak masalah! Aturlah jadwalmu sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, kamu baru bisa menulis di malam hari di atas jam 8 malam selama satu jam setiap harinya. No problemo!
Cobalah untuk konsisten menulis di waktu tersebut selama 2 minggu, lalu evaluasi kembali. Lihatlah berapa banyak konten yang sudah berhasil kamu unggah. Kalau hasilnya di bawah ekspektasi, jangan terlalu kecewa dengan dirimu sendiri.
Besok kamu bisa mengatur kembali jadwal sesuai dengan kemampuanmu. Ubahlah komitmen menulis setiap hari menjadi 3 hari sekali, atau hanya menulis di akhir pekan.
Yang pasti, jangan memaksakan diri ketika kamu merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Kalau kamu ngotot, bisa-bisa kamu akan stress dan mengalami burnout lebih cepat.
4. Gunakan Teknik Pomodoro
Teknik Pomodoro adalah teknik belajar dan melatih fokus favoritku. Saat ini juga sudah banyak aplikasi untuk telepon genggam Android maupun iOS yang menawarkan fungsi Teknik Pomodoro.
Kata ‘pomodoro’ berarti tomat dalam bahasa Itali.
Tahukah kamu bahwa teknik ini diciptakan oleh seorang mahasiswa yang berasal dari Itali?
Berawal dari kesulitannya untuk berkonsentrasi belajar, mahasiswa ini menggunakan timer berbentuk tomat dengan rentang waktu 25 menit untuk menyelesaikan masalahnya. Dalam rentang waktu tersebut, ia menyelesaikan sebuah tugas. Saat waktunya habis, ia dapat memilih untuk beristirahat selama 5 menit, atau melanjutkan tugas tersebut pada 25 menit berikutnya.
Setelah 4 sesi, kamu bisa beristirahat selama 20 menit lalu lanjut mengerjakan tugas tersebut hingga selesai.
5. Ikut Komunitas & Event Menulis
Agar kemampuanmu sebagai penulis semakin terasah, hal berikutnya yang harus dilakukan adalah banyak menulis.
Salah satu cara untuk ‘memaksa’mu rajin menulis adalah bergabung dengaan komunitas dan/atau event menulis.
Contohnya saja seperti di Instagram, banyak akun komunitas menulis. Biasanya, mereka mendorong followers mereka untuk rajin menulis dengan membuat event tantangan menulis. Rentang event-nya pun bervariasi, bisa 2 hingga 4 minggu. Kamu akan ditantang untuk menulis dan mengunggah tulisanmu setiap hari. Kalau kamu bisa menyelesaikan semua tantangan, ada berbagai reward yang dapat kamu terima.
Mulai dari sertifikat yang pasti bermanfaat untuk portfolio, karyamu dapat dibukukan, hingga dilirik oleh penerbit.
Selain berlatih menjadi produktif, komunitas menulis di media sosial juga membuka kesempatan bagimu untuk memperluas jaringan sosial. Kamu bisa menambah rekan baru seperjuangan, berkenalan dengan mentor yang dapat membimbingmu, hingga potensi mendapatkan klien.
Selain komunitas, banyak juga penulis yang membuka kelas latihan menulis, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Mengikuti kelas-kelas menulis juga dapat meningkatkan skill, menambah ilmu, serta refreshing diri supaya termotivasi untuk terus menulis.
Hal yang perlu diingat ketika kamu mulai mencoba menulis adalah: cintailah menulis. Karena segala sesuatu yang berasal dari rasa cinta, akan terasa mudah untuk dikerjakan meski melelahkan sekalipun.
Kalau kamu butuh waktu untuk rehat, gunakanlah masa itu sebaik-baiknya lalu kembali menulis lagi. Semangat, ya!

Tinggalkan Komentar di Sini