Beast In The Shadows: Tragedi Mencekam Si Penulis Novel Cerita Kriminal

Published by

on

Cerita misteri dan horor bukanlah genre buku fiksi yang sering saya geluti.

Namun, karena saya lagi mencari inspirasi yang segar, saya iseng-iseng mencari rekomendasi buku misteri yang ringan. Ada yang bilang sebagai penulis jangan takut untuk melakukan eksplorasi genre lain di luar zona nyaman kita.

Meski saya masih menghindari genre horor (karena takut, hehe), buku bertema thriller masih aman saja buat saya. Selain karena ketegangan yang bakal terus memuncak, memecahkan misteri dalam subplotnya juga menjadi pengalaman yang menarik.

Walhasil, saya mengambil buku berjudul ‘Beast in The Shadows’ karya Edogawa Rampo. Bentuknya yang berupa cerita pendek tidak begitu membebani saya sebagai penikmat cerita misteri pemula. Apalagi, saat itu saya beli buku ini dengan harga diskon, hehe.

Berawal dari iseng, ternyata saya malah membaca buku karya Bapak Misteri-nya Jepang, Edogawa Rampo yang memiliki nama asli Taro Hirai.

Sebelum ngulik bukunya, yuk, kenalan dengan penulisnya secara singkat!

Daftar Isi

Profil Penulis

Taro Hirai, yang menggunakan nama alias Edogawa Rampo adalah seorang penulis novel dan cerita pendek misteri di tahun ’50-an. Nama Edogawa Rampo sendiri dipilih sebagai permainan kata dari penulis klasik Edgar Allan Poe, yang menjadi favorit Taro Hirai.

Taro Hirai juga dikenal sebagai Bapak Novel Misteri. Beliau telah banyak menerbitkan novel dan cerita pendek klasik mulai dari tahun 1920-an hingga 1950-an.

Beliau juga adalah pencipta dari tokoh detektif Kogoro Akechi dalam cerita fiksi yang dibuatnya. Nama tokoh tersebut turut menjadi inspirasi dari mangaka komik Detektif Conan, Gosho Aoyama.

Sinopsis

Kisah ‘Beast In The Shadows’ berawal dari seorang penulis novel detektif yang mendapat sebuah surat dari seorang perempuan Oyamada Shizuko. Mereka bertemu setelah janjian bertemu di sebuah museum dan sang penulis langsung terpesona oleh kecantikan Shizuko.

Shizuko menjelaskan bahwa ia membutuhkan bantuan sang penulis novel untuk menolongnya menangkap seorang penulis cerita misteri lain bernama Oe Shundei. Perempuan ini menduga bahwa Oe Shundei telah menerobos masuk rumah dan menguntitnya diam-diam. Melalui ceritanya, Shizuko mengungkapkan bahwa sang penulis penguntit kemungkinan adalah mantan kekasihnya, Hirata Ichiro.

Karena kebangkrutan orang tuanya, Shizuko berakhir dijodohkan dengan suaminya saat ini, Oyamada Rokuro, yang seorang pengusaha kaya. Ia terpaksa diam-diam meninggalkan Hirata agar tidak hidup melarat bersama ibunya.

Namun, Shizuko mulai menerima surat pengancaman dan menakutkan dari Hirata. Sang mantan mengaku berhasil menyusup ke rumah Shizuko dan mengintip ‘kegiatan suami istri’ yang dilakukan Shizuko bersama suaminya.

Merasa kasihan pada Shizuko, sang penulis pun mulai melakukan penyelidikan. Ia juga meminta bantuan dari temannya di kepolisian untuk mengetahui keberadaan Oe Shundei. Selama ini, Oe Shundei yang terkenal sebagai penulis novel misteri dan kriminal tidak pernah tampil di publik. Tidak ada yang mengenali seperti apa bentuk fisik dan wajah Oe Shundei.

Di tengah penyelidikan, tiba-tiba tersiar kabar bahwa suami Shizuko, Oyamada Rokuro, ditemukan meninggal dunia di sungai. Ada bekas luka tusukan di punggungnya dan jenazah Rokuro terlihat janggal saat ditemukan.

Setelah melihat semua bukti, si tokoh utama menyimpulkan bahwa sang penguntit yang selama ini meresahkan Shizuko adalah suaminya sendiri. Bukti-bukti seperti kancing dari sarung tangan yang ia temukan, waktu kematian, bentuk luka di punggungnya, semakin menguatkan dugaan si penulis. Ia menduga suami Shizuko mungkin telah mengetahui rahasia bahwa istrinya pernah punya pacar dan bukanlah seorang perawan ketika mereka menikah. Hal itu menjadi alasan kenapa Oyamada Rokuro mulai menakut-nakuti Shizuko.

Namun, sang penulis merasa kesimpulan tersebut tidaklah cukup. Masih ada hal yang mengganjal perasaannya dan hal-hal yang belum terjawab. Setelah kematian suaminya, Shizuko dan sang penulis malah semakin akrab hingga mereka menjalin hubungan yang romantis.

Sayangnya, hubungan mereka tidaklah indah untuk waktu yang lama. Seiring berjalannya waktu, si tokoh utama mulai menyadari bahwa Shizuko adalah dalang sebenarnya dari kasus pembunuhan tersebut. Ia menduga, sang istri memanfaatkan tendensi sadistik suaminya saat berhubungan intim. Shizuko memancing sang suami untuk menjadi pelaku penguntitan guna memenuhi hasrat seksualnya yang aneh.

Sang penulis percaya, Shizuko lah yang membunuh suaminya sendiri. Ia mendorongnya jatuh dari jendela lantai dua di rumah mereka saat Rokuro mengintip ke dalam. Di salah satu sisi rumah itu terdapat sungai yang mengalir hingga ke jembatan tempat jenazah Rokuro ditemukan. Setelah menjelaskan dugaannya, hubungan Shizuko dan sang penulis pun menjadi renggang, hingga ia mendapatkan kabar bahwa Shizuko telah bunuh diri.

Kisah ini berakhir dengan sang penulis mempertanyakan kenyataan yang sedang terjadi karena kasus ini. Ada pergolakan dalam dirinya yang merasa menyesal karena menuduh Shizuko.

Review

Sebagai seorang pembaca awam, saya merasa cukup beruntung setelah membaca ‘Beast In The Shadows’. Meskipun ceritanya tergolong pendek, saya adalah seorang pembaca yang menyukai buku-buku beralur cepat. Saya sempat merasakan ketegangan ketika membaca buku ini. Contohnya, seperti saat Shizuko membeberkan surat yang ditulis oleh Hirata Ichiro sedang menguntit rumahnya.

Kemudian, ketika sang tokoh utama membeberkan secara gamblang hipotesanya di depan Shizuko. Ia begitu bersemangat dan berapi-api hingga lupa akan hubungan romantis yang sedang mereka jalin. Saya sendiri tidak menyangka bahwa ceritanya akan berakhir demikian. Cara Edogawa Rampo mengolah kalimat yang mengundang pembaca untuk terus membalik halaman ke bab selanjutnya sungguh menarik.

Beliau dapat menggiring pembaca untuk terus berada di puncak ketegangan. Di saat alur cerita sedang seru-serunya, rasa tegang itu pun diulur sedemikian rupa, sehingga membuat pembaca penasaran. Ditambah lagi, plot twist yang tidak disangka-sangka pun muncul di akhir cerita.

Karena buku ini dibuat oleh seorang penulis di tahun 50-an, terjemahan bahasa Inggrisnya pun tergolong kuno. Susunan kalimatnya terasa old school, tapi juga puitis.

Penggunaan kosa katanya pun beragam dan berat jika dibandingkan dengan fiksi jaman sekarang. Jadi, bagi yang tidak terbiasa membaca buku Bahasa Inggris, saya rasa akan mendapat sedikit kesulitan untuk memahami alur cerita. Jika perlu, siap-siap menyimpan kamus atau tesaurus di sampingmu.

Secara keseluruhan, ‘Beast In The Shadows’ adalah karya klasik yang menarik. Jalan ceritanya yang linear (alur maju) membuatnya mudah untuk diikuti. Penyisipan kisah masa lalu beberapa tokohnya terasa natural. Penggunaan sudut pandang orang pertama pada tokoh utama menjadikan kisah yang disampaikan terasa personal. Rasanya seperti sedang berbincang dengan seorang teman yang berprofesi sebagai penulis.

Buat teman-teman pecinta cerita misteri, saya merekomendasikan buku ini untuk menjadi bacaan selingan. Jika punya waktu, bentuknya yang berupa cerita pendek dapat kamu selesaikan dalam satu hari.

Seingat saya, buku ini saya beli dengan harga yang cukup murah ketika ada bazaar buku. Bagi teman-teman yang ingin mencarinya, Periplus menjual buku ini dengan kisaran harga Rp 205.000.

Jujur saja, saya merasa kesulitan mencari buku karya Edogawa Rampo di toko buku. Kalaupun ada, harganya cukup mahal. Kalau ada yang tahu di mana saya bisa mendapatkan karya lain beliau, mohon bagi infonya, ya!

Bagi yang sudah pernah membaca ‘Beast in The Shadows’ karya Edogawa Rampo, boleh tinggalkan kesannya di kolom komentar berikut.

Tinggalkan Komentar di Sini