4 Rekomendasi Novel Haruki Murakami yang Wajib Kamu Baca

Published by

on

Jika kalian bosan membaca novel dengan cerita ringan, Haruki Murakami dapat menjadi pilihan yang menarik. Apalagi bagi yang ingin melatih daya imajinasi, topik-topik dalam karya penulis asal Jepang ini dapat menjadi latihan.

Mengangkat tema fantasi dan science fiction, inilah kekuatan dari karya Haruki Murakami yang telah banyak memenangkan penghargaan bergengsi. Meskipun beberapa alur karyanya ada yang lambat, namun elemen fantasinya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Bagi saya sendiri, Haruki Murakami adalah sumber inspirasi. Apalagi ketika sedang buntu mencari ide dan sudut pandang unik, membaca karya beliau akan memicu banyak pemikiran baru.

Berikut beberapa rekomendasi karya Haruki Murakami yang layak kamu masukkan dalam daftar buku yang harus kalian baca di tahun ini.

Daftar Isi

Kafka On The Shore

Buku yang terbit pada 2002 ini mengisahkan tentang dua orang protagonis dalam situasi yang benar-benar berbeda. Tokoh pertama yaitu Kafka Tamura, seorang remaja yang meninggalkan rumah untuk mencari ibu dan kakaknya yang hilang.

Tokoh kedua adalah Nakata, seorang pria tua yang memiliki keterbatasan mental setelah mengalami kejadian misterius saat ia masih anak-anak.

Menjelang usia senjanya, Nakata menyadari bahwa ia dapat berbicara dengan kucing. Ia memanfaatkan keahlian tersebut untuk mendapatkan uang dengan mencarikan kucing hilang milik warga setempat.

Bagi saya, Kafka On The Shore adalah buku terbaik karya Haruki Murakami yang pernah saya baca. Bagaimana ia menyajikan dua karakter yang memiliki kehidupan yang sangat berbeda memiliki hubungan metafisik tanpa kita sadari.

Buku ini pun sempat masuk dalam daftar The 10 Best Books of 2005 oleh The New York Times. Selain itu, ‘Kafka On The Shore’ juga memenangkan World Fantasy Award di tahun 2006.

1Q84

‘1Q84’ adalah buku karya Murakami yang mendapatkan beragam kritikan. Sebagian mengganggap bahwa novel ini tidak memiliki plot yang mengalir, jalan cerita yang bermuluk-muluk dan akhir yang tidak jelas.

Di sisi lain, ada juga kritikus yang menilai bahwa ‘1Q84’ adalah karya terbaik yang pernah dibuat oleh Murakami.

Dua sisi komentar tersebut dapat dipahami karena jalan cerita 1Q84 yang tidak biasa. Novel yang terbit di tahun 2011 ini mengangkat latar dunia paralel, yaitu antara tahun 1984 dan 1Q84.

Kisahnya sendiri bermula pada kehadiran tokoh utama Aomame, seorang perempuan di usia 30-an. Ia adalah seorang pembunuh bayaran yang bekerja untuk sebuah organisasi. Dalam cerita buku ini, Aomame memiliki tugas untuk membunuh seorang pemimpin kultus.

Selain itu ada Tengo, seorang pria yang bekerja sebagai guru Matematika dan tengah mengerjakan sebuah novel yang tidak kunjung selesai. Suatu hari ia mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang ghostwriter bagi novelis muda, Fuka-Eri.

Dalam menjalankan tugasnya, kehidupan Aomame pun bersinggungan dengagn Tengo yang ia kenal di masa kecil. Aomame percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk bersama.

‘1Q84’ sendiri adalah semua dimensi yang berbeda dengan tahun 1984 di mana Aomame percaya ia masuk ke dalamnya. Ketika Aomame dan Tengo akhirnya bertemu, mereka berdua pun bersama pergi untuk mencari dunia tahun 1984 yang sebenarnya.

Sepertinya elemen lintas dimensi, ritual dan pembunuhan serta topik yang mengangkat kelompok kultus membuat buku ini sulit untuk dipahami. Oleh karena itu, jika kalian masih di bawah umur, saya sarankan untuk tidak membaca buku ini, ya.

Tapi, jika kamu tertarik untuk menyelami bagaimana dunia dalam genre science fiction dapat dibentuk, karya ini dapat menjadi referensimu. Buku ini juga memiliki jalan cerita yang panjang hingga diterbitkan menjadi 3 jilid.

Norwegian Wood

‘Norwegian Wood’ mungkin adalah buku pertama karya Haruki Murakami yang meninggalkan kesan begitu mendalam.

Dengan tema romansa dan tragedi, ‘Norwegian Wood’ adalah judul buku yang diangkat dari lagu The Beatles. Kisah buku yang terbit di tahun 1987 ini memiliki seorang tokoh utama bernama Toru Watanabe.

Sebagai buku yang ditargetkan untuk pembaca dewasa, ‘Norwegian Wood’ mengandung adegan dewasa dan topik tabu. Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih bacaan sesuai umurmu, ya.

Buku ini menjadi kilas balik dari Watanabe yang mengenang masa mudanya di usia 20-an. Saat itu, ia kehilangan seorang sahabat yang karena bunuh diri. Ia pun mencoba untuk melanjutkan hidup bersama dengan Naoko, pacar dari sahabatnya.

Ketika hubungan mereka menjadi intim, Naoko justru menghilang dari kehidupan Watanabe. Ternyata, Naoko pergi untuk menyendiri di sebuah rumah sakit jiwa sebagai upaya untuk menstabilkan mentalnya.

Ketidakhadiran Naoko dalam hidup Watanabe digantikan oleh Midori, seorang perempuan muda dengan kepribadian yang berbeda 180 derajat dari Naoko. Ia adalah orang yang ceria, penuh semangat hidup dan menyukai Watanabe.

Namun, Watanabe yang tidak dapat melupakan Naoko justru memutuskan untuk mencarinya. Akhirnya, mereka bertemu kembali di mental institusi di mana Naoko tinggal.

Reuni singkat mereka justru berakhir tragis di mana Naoko malah mengakhiri hidupnya ketika Watanabe sudah kembali ke Tokyo. Kehilangan Naoko mengguncang hidup Watanabe dan membuatnya menyadari bahwa perempuan itu sangat berarti dalam hidupnya.

Di antara karya Murakami yang pernah saya baca, ‘Norwegian Wood’ adalah karyanya yang paling menyayat hati. Isu kesehatan mental di dalamnya terasa begitu kelam namun tidak diglorifikasi, justru membuat saya semakin terenyuh.

Meski tidak ada elemen science fiction atau fantasi dalam buku ini, namun kelamnya hidup para tokoh cukup menyayat hati. Bagaimana rasanya ketida kmampuan diri menghadapi kehilangan orang dicintai hingga memutuskan untuk mengambil langkah drastis.

Buku ini juga telah diangkat dalam bentuk film dan sempat diputar pada Festival Film Internasional Venice ke-67. Dalam pembuatannya, film ‘Norwegian Wood’ melibatkan aktor Jepang seperti Kenichi Matsuyama, Rinko Kikuchi dan Kiko Mizuhara.

Killing Commendatore

‘Killing Commendatore’ adalah novel terbaru karya Murakami yang diterbitkan pada 2017. Mengangkat genre fantasi kembali, Haruki Murakami menyajikan kisah seorang pelukis yang pindah ke sebuah rumah milik pelukis senior, Tomohiko Amada.

Ketika tinggal di dalam rumah itu, si tokoh utama mengalami berbagai kejadian aneh. Ia juga menemukan sebuah lukisan misterius yang disimpan rapi di loteng. Munculnya makhluk kecil Commendatore yang menyerupai tokoh di dalam lukisan tersebut, membawa si tokoh dalam petualangan magis.

Sang pelukis juga berkenalan dengan tetangganya, Menshiki, yang mengawasi seorang gadis remaja, Mariye. Belakangan diketahui bahwa Mariye ternyata adalah anak dari Menshiki.

Kehadiran Commendatore dalam kehidupan si pelukis membawanya ke dalam perjalanan aneh. Ia pun harus menyelamatkan Mariye yang tiba-tiba menghilang setelah kabur dari rumah.

Sama seperti beberapa buku karya Haruki Murakami lainnya, ‘Killing Commendatore’ ini pun ‘ sempat mendapatkan beragam kritikan. Contohnya, anak-anak di bawah umur 18 tahun di Hong Kong dilarang untuk membaca buku ini.

Bagi yang belum pernah membaca karya dari Haruki Murakami, mungkin buku ini akan terasa membosankan karena jalan ceritanya yang lambat. Secara menyeluruh ceritanya begitu mendatar tanpa ada emosi dan aksi yang menegangkan.

Namun, ide tentang sang tokoh utama yang bertemu dengan sebuah ‘ide’ dalam bentuk makhluk dari lukisan, cukup nyeleneh bagi saya.

Ulasan yang beragam dari para kritikus, menjadikan karya Haruki Murakami sebagai tulisan fiksi yang layak ditunggu. Gaya berceritanya yang khas, serta tema-tema fantasi dan science fiction membuat para pembacanya terus penasaran.

Yang perlu diingat, karya-karya beliau banyak mengandung topik dewasa dan dialog yang eksplisit. Ditambah lagi, ada sebagian orang yang membenci Haruki Murakami karena mereka memandang si penulis sebagai misogynist.

Karena unsur dan adegan dewasa yang kental dalam karya beliau, saya harap penerbit Indonesia jeli dalam memberikan label.

Dari judul yang disebutkan di atas, adakah yang sudah kalian baca? Atau kalian sudah berencana memasukkan karya Murakami dalam daftar bacaan?

Tinggalkan Komentar di Sini